Dia terperangkap di kamarku

Pic. Courtesy of Google

Siang itu. Cuaca lebih terik dari biasanya. Tak ada segumpal awanpun yang membantu menghalangi jatuhnya panas dari langit. Begitu biru, polos dan menyilaukan di atas sana. Suhu di Weater pada layar Smartphone ku menunjukkan angka 38 derajat selsius. Luar biasa. Aku bergegas masuk ke dalam rumah, membuka helmet yang melindungi kepala ku sepanjang perjalanan pulang dari kampus menuju rumah. Keringat keluar dari sela-sela rambut ku yang lepek di kening, basah seperti habis mandi. Aku mencuci muka, lalu berbaring di tempat tidur. Anehnya, meski tanpa pendingin ruangan, kipas angin dan semacamnya, kamar ku terasa begitu sejuk. Bertolak belakang dengan keadaan di luar yang sangat panas. Lalu kesejukan itu seolah menghipnosis ku. Hingga tak terasa aku sudah terlelap.

Tidak lama. Tiba-tiba wajah ku seperti digerayangi sesuatu. Begitu halus tapi sangat menggelikan. Turun-naik dari hidung ke bibir kemudian dagu. Berkeliling pada bagian samping wajah ku. Melintasi pipi, pelipis samping. Meliuk-liuk. Kini gerayangan itu menyentuh kelopak mata ku. Gerayangan itu berhenti bergerak. Aku merasakannya dengan jelas dia terdiam di situ, menempel di kelopak mata ku. Menggelikan dan sangat mengganggu tidur ku. Diantara sadar dan tidak, aku mencoba menepis gerayangan itu. Lalu, gerayangan itu menghilang.

Aku merubah posisi tidur ku. Kini menyamping. Dengan kaki di tekuk hingga menempel ke bagian tengah tubuh ku. Seperti seekor trenggiling dalam keadaan terancam. Aku kembali terlelap. Benar-benar terlelap sampai akhirnya gerayangan itu datang lagi. Kali ini dia memulai geryangannya dari bagian telinga ku. Dia menelusuri setiap lukukan telinga ku. Maju-mudur di tepian telinga ku. Sungguh itu sangat menggelikan. Tapi saat gerayangan itu hampir menyentuh bagian terdalam telinga ku, aku menepuknya. Kemudian menghilang.

Kemudian dia datang lagi. Kali ini gerayang itu berada di kening ku. Menyusuri kening, berputar, berkeliling dan lagi-lagi dia menuju kelopak mata ku yang sedang melebar menutupi seluruh bulatan mata kantuk ku. Entah apa yang menarik dari kelopak mata ku. Hingga dia terus menggerayangi. Aku menepuk lagi. Lalu gerayangan itu menghilang lagi. Kali ini lebih intens. Gerayangan itu datang lagi, aku tepuk, menghilang lagi. Datang lagi, aku tepuk lagi.

“Ah, sial!”

Aku mulai kesal dan membuka mata ku seketika. Berharap bisa menangkap-basah sosok yang menggerayang mengganggu tidur ku. Rasanya terganggu saat tidur yang baru beberapa menit itu seperti sedang makan terus tersedak garpu. Tapi, tidak ada apapun, juga tidak ada siapapun. Bola mata ku menerawang ke segala arah. Ke setiap sudut kamar ku. Sungguh, tidak ada apapun dan tidak ada siapapun. Lagi pula kamar ku selalu terkunci rapat dari dalam. Jendelanya pun dilapisi besi tralis. Tidak ada yang bisa masuk kecuali ibu ku yang punya anak kunci semua pintu di rumah ini. Aku tidak peduli. Aku melanjutkan tidur ku.

Baru saja akan memasuki alam bawah sadar ku, tiba-tiba gerayangan itu muncul lagi. Kali ini aku tidak langsung membuka mata. Karena cara itu sudah tidak berhasil tadi. Aku membiarkan gerayang itu. Perlahan, perlahan, gerayangan itu sampai di punggung hidung ku.

“Yak, ku rasa ini saatnya.” Hati ku berteriak seperti sebuah peluit wasit yang mengisyaratkan para pemain untuk segera memulai aksinya. Lalu aku membuka mata ku perlahan.

Samar, tepat di depan mataku. Terlihat dua mata besar mengkilat berjaring-jaring berwarna kehijauan. Dengan dua antenna kecil tepat di antara kedua mata itu. Mulutnya berbulu menyeramkan dan sepertinya ada dua tangan yang mengusap mulut itu terus menerus. Terlihat juga jaring seperti pelastik transparan di bagian belakang. Bagian tubuhnya berbulu halus. Semuanya serba kehijauan berpadu dengan hitam.

“Aaaaaaaa!!!” Aku berteriak kecil dan repleks menepuk makhluk itu.

Kemudian dia terbang. Aku terbangun ditengah kantuk. Setengah sadar aku mengambil sarung, kemudian melintingnya asal. Bermaksud untuk membunuhnya dengan pukulan tongkat dari lintingan sarung. Atau hanya memberinya pelajaran besar telah mengganggu ku saat tidur siang. Karena Aku paling tidak suka diganggu. Apa lagi tidur siang.

Aku berteriak.
“Eaaahh! Eaattt! Sial! Sial kau!
“Bug! Gedebuk! Glomprang!

Aku mengayun-ayunkan lintingan sarung itu ke segala penjuru kamar. Menghantam rak buku beserta isinya, meja belajar dan gitar tak berdosa di pojokan. Kursi pelastik yang tengah berdekat-dekatan dengan meja belajar juga terhempas terkena pukulan dari tongkat lintingan sarung itu. Dan hampir saja bingkai foto Honey-ku yang menempel di dinding juga ikut terhempas. Huft, untung tidak sampai terjadi. Bingkainya hanya miring seperti habis kena gempa. Kamar ku porak-poranda. Tapi tidak sia-sia, penggerayang itu kini terkapar di lantai. Jatuh terjungkir dengan posisi terlentang, sayap di bawah. Dia mencoba bangkit, tapi pukulan ku tepat mengenai kepalanya. Sepertinya dia pingsan.

Nafasku terengah-engah. Pertarungan itu membuatku terbangun sempurna dari tidur ku. Aku menilik arloji di tangan kiri ku. Sudah hampir jam tiga sore. Aku belum solat Zuhur. Aku baru sadar ternyata tadi itu hanya seekor lalat. Dia terperangkap di kamarku.



-Al Muh-
Dia terperangkap di kamarku Dia terperangkap di kamarku Reviewed by Al Muh on 15.12.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.