Musliya

Pic. Courtesy Of Google (Taufiq Ismail)


“Bug-bug-bug” Tiba-tiba seorang anak berlari dan masuk dengan tergesa-gesa. Seperti dia baru saja melihat hantu atau mungkin harimau yang siap menerkamnya. Bahkan dia berlari mengabaikan kaidah biologi seorang manusia normal. Dia berlari dengan posisi hampir membungkuk seperti seekor kangguru. Dia menyenggol meja di barisan paling depan hingga meja itu miring beberapa derajat dari barisannya. Aku dan Emir yang tengah duduk di meja lainnya sembari memukul-mukul seolah menyulap meja itu menjadi alat perkusi untuk mengiringi nyanyian, terkejut dan langsung turun. Kegaduhan yang ditimbulkan anak yang berlari itu mengalahkan irama perkusi meja kami. Semua mata pun tertuju pada anak itu yang seketika duduk manis di kursinya dan berpura-pura mengeluarkan buku pelajaran dari dalam tas. Tapi semua orang, seisi ruangan tahu bahwa dia baru saja masuk dengan berlari. Itu terlihat dari dadanya yang terengah-engah memompakan udara dengan tempo yang cukup tinggi. Dia Adalah Andri.

Dalam hitungan se-per-sekian detik akhirnya aku menyadari bahwa dia bukan telah melihat hantu atau harimau. Lebih menyeramkan dari itu. Pandangan ku langsung berpaling dari Andri, membiarkannya bernafas, dan tertuju ke arah pintu. Aku menatap tajam, seperti seekor elang sedang mengintai mangsanya. Aku duduk perlahan di kursi ku tanpa meninggalkan tatapan ke arah pintu. Siaga penuh.

“Dia sudah datang” Aku bergumam.

Seketika ruangan jadi hening. Lalu, tuas pintu itu bergerak ke bawah. Sesuatu menarik tuasnya dari sisi lain di balik pintu. Menimbulkan sedikit suara decitan yang terbata-bata. Suasana bertambah mencekam. Di tengah keheningan aku bisa merasakan detak jantung sahabat-sahabat ku. Meletup seperti medan magnet yang kemudian saling bertumbukan di udara. Reaksi kimia terjadi di dalam tubuh, menimbulkan setitik keringat dingin di kening kami. Saat pintu terbuka, muncullah sosok itu dari balik pintu kayu tua.

Adalah Ibu Suti. Guru yang terkenal killer di sekolah ini. Guru bahasa Indonesia. Ya, hari ini adalah hari dimana kami, kelas IX IPA bersiap untuk praktik membaca puisi. Satu persatu, di depan kelas. Sebetulnya ini adalah hal biasa, hanya membaca puisi di depan kelas dengan bantuan secarik kertas. Tapi jadi hal luar biasa saat pengajarnya adalah Ibu Suti. Namanya sudah santer terdengar bahkan sebelum aku pertama kali melihat wajahnya. Sebelum aku masuk SMA ini.

Sebenarnya ibu Suti adalah sosok guru yang baik. Berpenampilan rapi, dengan kerudung jilbab sederhana yang selalu di-matching-kan dengan seragam mengajarnya. Wajahnya terlihat muda meski usinya satu dekade lagi mencapai setangah abad. Mungkin karena sifat perfeksionis dan disiplinnya yang keras, membuatnya dianggap sebagai guru killer. Tapi sesekali aku merasa tidak setuju dengan gelar killer itu. Karena itu hanya gelar yang disandangkan secara sebelah pihak oleh para siswa yang “berandal”.

“Selamat pagi anak-anak” Sapa Ibu Suti dengan penuh semangat.
“Pagi Bu” serempak.
“Duduk siap, beri salam!” Andri memimpin dengan suara yang tegas seperti suara angkatan bersenjata.
“Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh” Kami serempak.

Suasana kembali hening sesaat setelah Bu Suti menjawab salam kami. Hanya ada suara-suara persiapan belajar para siswa. Mengeluarkan buku, pulpen dan sebagainya ke atas meja. Bu Suti terlihat menaruh tasnya di kolong meja dan mengeluarkan beberapa buku litelatur yang selalu beliau bawa. Beliau menyapa basa-basi. Kemudian beliau mengeluarkan sebuah buku absen yang berisi nama-nama seluruh siswa dalam kelas secara abjad. “Siap?” Bu Suti tersenyum nyeleneh.

“Siap bu.” Hanya beberapa siswa yang menjawab dengan nada sumbang. Bahkan seperti tertiup angin lantas suara itu menghilang.

“Hanya ada satu puisi” Kata Bu Suti “Kalian harus membacakannya dengan gaya dan penghayatan kalian masing-masing.”

Seisi kelas hening. Lalu, “Andriansyah!” Bu Suti mulai memanggil nama kami sesuai abjad yang ada dalam buku absennya.

Andri maju dengan secarik kertas di tangannya. Sebuah puisi karya Subagio Sastrowardoyo.
Simphoni
Aku tidak bermain dengan babi-babi “Gerutu Beethoven”
Kita yang berdiri di tengah abad
Dibilangan dua puluh
Dan menyangka hari jadi
Telah tertinggal jauh
Makin samar;
Mana asal, mana tujuan Mana jumlah, mana kadar

Belum selesai Andri membaca puisi dengan gayanya yang seperti tentara, Bu Suti langsung menghentikannya. Sebuah permulaan yang tidak baik. Melihat Andri sang ketua kelas yang cerdas saja, diberhentikan dipertengahan pembacaan puisinya. “Belajar lagi” Ujar bu Suti. Mental ku dan
teman-teman seketika down. Sepertinya bu Suti memang menginginkan hal itu. Dengan sengaja menggenjot mental kami. Mental kami semakin terkoyak saat tahu bahwa Bu Suti tidak memanggil secara abjad, tapi dia memanggilnya secara acak. Emir, jadi yang kedua maju ke depan kelas. Emir lebih beruntung, dia diberi kesempatan untuk membaca puisi itu sampai selesai. Meski ujung-ujungnya Emir harus mendapat kritikan pedas dari Bu Suti. “Kamu baca puisi atau kumur-kumur Emir?”

Kemudian kelas hening.

Sampai tiba giliran ku. Sepertinya aku tidak lebih beruntung dari Emir dan teman-teman lainnya kecuali Andri. Karena aku masih diberikan kesempatan menyelesaikan bacaan puisiku. Ibu Suti menganggap aku seperti anak SD membaca puisi.

“Aldin, Apa kamu tahu ini adalah puisi gerutuan? Lantas kenapa kamu berekspresi seperti ini adalah puisi percintaan? Tangan kau melambai-lambai bak kondektur Kopaja saja.” Komentar Bu Suti.

Bu Suti mulai menggerutu seperti puisi Beethoven ini. Kesal atau mungkin hanya sedikit kecewa karena tak ada satu pun yang bagus dalam membaca puisi. Tak ada seorangpun. Padahal kami diberi waktu satu bulan untuk menghafal dan belajar menghayati puisi ini. Dan Bu Suti juga telah memberikan contoh membaca puisi yang baik dan benar, dengan penghayatan yang luar biasa sebagai lulusan Sastra Universitas Indonesia. Dengan tumpukan kekecewaan itu Bu Suti memanggil satu nama terakhir di kelas. Dengan nada yang sangat rendah “Musliya!”

Temanku, Musliya. Yang duduk di barisan kursi paling belakang kelas. Dia berjalan perlahan ke depan kelas. Dengan menggenggam secarik kertas yang digulung. Dengan pakaian yang sedikit tidak rapi. Rambutnya kering seperti tanaman yang tidak pernah disiram. Lalu, tepat di depan kelas, antara papan tulis, meja Bu Suti dan barisan terdepan meja siswa. Musliya terpaku. Tatapannya kosong. Nampak jelas dia sangat gugup. Bu Suti menatap Musliya dengan tidak yakin. Musliya menundukan kepala seolah dia berbicara pada bayangannya. Kemudian dia membuka gulungan kertas itu dan mengangkatnya dengan sedikit gemetar. Mendekatkan kertas itu beberapa jengkal ke wajahnya. Tidak lama, sebelum mulutnya mengucapkan kata-kata, kertas itu kembali diturunkannya. Dia menarik nafas dalam-dalam. Kemudian mulai membaca puisi. Dengan sangat santai. Dia berhenti cukup lama pada setiap baris puisi. Menarik napas kemudian melanjutkan kembali. Sebuah penghayatan yang luar biasa. Meskipun menyimpang dari kesan gerutuan yang tersirat dalam puisi itu. Karena gerutuan tak meski harus bergerutu. Bu Suti yang tadinya pura-pura sibuk membaca buku seketika menghentikan kesibukannya. Pandangannya tertuju pada Musliya. Di wajah Bu Suti terlihat secerca kekaguman dari sebuah penghayatan yang berbeda. Musliya lebih lama membaca puisi itu dari pada yang lain. Sesekali dia mengangkat kertasnya untuk sekedar mengingat lirik puisi itu. Semua terasa lebih khidmat. Hingga tak terasa Musliya telah selesai. Dia kembali menuju kursinya di sudut terjauh dengan Bu Suti.

Bu Suti menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya dia telah terbawa suasana yang Musliya ciptakan dalam pembacaan puisinya.

“Ibu harus akui, kamu yang terbaik pada pembacaan puisi ini Musliya.”
Semua teman-teman bersorak dan bertepuk tangan. Yang memang merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Bu Suti, terbawa suasana yang Musliya ciptakan.
“Itu yang Ibu mau anak-anak ku. Kalian membaca dengan diri kalian sendiri.”


-Al Muh-
Musliya Musliya Reviewed by Al Muh on 15.47.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.