Father Trip

Di sebuah pagi,


"Hei, ayo bangun!"
"Euh."
"Mau ikut ayah gak?"
"Zzzz..."
"Benar gak mau ikut?"
"Kemana yah? Aku masih mengantuk."
"Bangun dulu, terus mandi, nanti kamu nyesel kalau gak ikut."
"Emang ini jam berapa yah?"
"Masih jam 5 pagi."



Dulu, pukul lima pagi itu masih sangat gelap. Kabut masih menyelimuti desa. Belum ada cahaya sedikitpun. Hanya ada kelipan bintang seperti taburan biji wijen di atas kue Blackforest.
Udaranya sejuk bahkan bisa dibilang cukup dingin jika kau orang baru di desa ku. Belum ada polusi udara dari kendaraan bermotor, karena untuk menuju jalan desa pun aku harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer. Di jalan desa juga masih sepi dari kendaraan bermotor. Kebanyakan warga berjalan kaki dan bersepeda untuk bepergian. Hanya ada beberapa orang saja yang sudah memiliki sepeda motor dan mobil sedan Volvo yang mungkin sekarang sudah hampir punah. Tetangga ku baru satu orang yang punya sedan Oplet. Aku lebih sering menyebut mobil itu dengan sebutan mobil Lege. Lantaran bentuknya yang mirip dengan binatang Lege.

"Ssst...! Jangan berisik nanti Ibu bangun. Ayo cepat kamu mandi dulu."
"Iya Ayah." Aku berjalan ke kamar mandi dengan mata setengah tidur.

Airnya dingin, tapi sangat menyegarkan.
Seusai mandi aku melihat Ayah sudah rapi dengan sebuah tas besar di sampingnya. Aku jadi makin penasaran, sebenarnya Ayah mau mengajakku kemana.

"Sini, Ayah pakaikan baju dulu nak." Kata ayah dengan suara sedikit berbisik.
"Kita mau kemana yah?"
"Pokoknya seru deh." Kata ayah tersenyum sambil memakaikan baju ku. Waktu itu aku masih sangat kecil. Kelas 2 SD. Jadi kadang aku masih dipakaikan baju oleh Ayah dan Ibuku.

Setelah selesai. Aku dan Ayah bersiap berangkat. Ayah mulai menggendong tas besarnya. Aku keluar rumah dan angin pagi pun langsung menyerbak ke wajahku yang masih sedikit basah. Kami menyusuri jalan setapak. Bulir-bulir embun pada rumput di tepian jalan membuatnya terlihat seperti hamparan mutiara saat terkena cahaya fajar yang mulai menyingsing.


Akhirnya tiba di jalan desa. Sepi sekali, meskipun sinar matahari sudah mulai menghangatkan seluruh desa. Aku dan ayah terus berjalan hingga sampai di sebuah pangkalan ojek. Ada beberapa tukang ojek. Mereka masih mengenakan jaket dan kupluk di kepalanya.

"Ojek Kang?" Kata salah seorang tukang ojek yang tengah duduk di sebuah motor RX-King.
"Iya, mau ke terminal."
"Mari Kang saya antar."

Aku dan ayah berangkat ke terminal. Aku duduk di tengah diantara tukang ojek dan Ayah. Motor melaju kencang melewati perbukitan. Suara khas dari motor RX-King terdengar sangat jelas. Memekak telinga. Tapi sangat seru karena aku bisa menyalip para pesepeda yang tengah asyik mengayuh di tepi jalan.

Sekitar setengah jam perjalanan, kami sudah tiba di sebuah terminal bus. Terminalnya tidak terlalu besar, tapi sangat krusial karena hanya ada satu-satunya terminal waktu itu yang melayani perjalan antar kota. Belum ada angkutan perkotaan atau angkot. Tapi sayangnya sekarang terminal itu sudah tidak ada lagi. Entah kemana. Yang ada hanya puluhan angkot berderet di pinggir jalan bekas terminal bus itu.

Ini adalah pertama kalinya aku ke terminal dan naik bus. Petualangan perdana ku bersama Ayah.

"Ayah Aku lapar."
"Iya Ayah juga. Nasi uduk mau?"
"Mau."
"Ayo, itu ada ibu-ibu jualan nasi uduk."

Aku dan Ayah menghampiri seorang ibu-ibu penjual nasi uduk gendong. Sudah tua, mungkin sekitar setengah abad usinya. Dia menggendong sebuah wadah besar yang terbuat dari anyaman bambu sebagai tempat membawa nasi uduknya.

"Sarapan de?" Tanya sang Ibu dengan senyuman.
"Iya bu, Nasi uduknya dua."
"Iya de, silahkan." Kata sang Ibu. "Mau pakai telur balado apa Semur jengkol?"
"Kalau telur semurnya ada bu, buat anak saya?"
"Ada." Jawab sang Ibu. "Ini, silahkan. Bapak pakai apa?"
"Terima kasih bu. Saya pakai telur balado sama semur jengkolnya juga boleh."
"Aku mau jengkolnya juga yah." Kata ku.
"Oh haha... Kamu suka jengkol juga? Ayah bertanya sambil tertawa.
"Bu, kasih jengkolnya buat anak saya."
"Hehe, Iya, ini pak, silahkan."

Sungguh sarapan yang nikmat. Lesehan di terminal bersama orang lain beramai-ramai yang aku tidak kenal sama sekali. Tapi mereka cepat akrab dengan Ayah.

Bersambung...
Father Trip Father Trip Reviewed by Al Muh on 15.28.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.