Belajar dari Masuk Angin


Suatu malam di sebuah perkemahan.
“Ah, sepertinya aku masuk angin?”
“Coba minum obat penangkal angin.”
“Sudah.”
“Istirahat kalau begitu. Gunakan selimut agar kau berkeringat.”
“Aku bingung kenapa kita bisa masuk angin.”
“Apanya yang bingung?”
“Iya. Dari mana angin itu masuk ke dalam tubuh kita?”
“Ya lewat hidung lah, mulut juga.”
“Kalau begitu semua orang masuk angin dong?”
“Ya begitu.”

“Kau juga masuk angin kalau begitu. Tapi kau tidak sakit?”
“Haaa…… Pernyataan dan pertanyaanmu aneh sekali. Ya, gak sakit lah.”
“Coba kamu pikir deh, kenapa seperti itu? Kita sama-sama masuk angin lewat hidung dan mulut. Tapi kenapa hanya sebagian orang saja yang merasakan sakit masuk angin itu?”
“Aku tidak tahu. Aku bukan dokter. Gak kesampaian jadi dokter.”
“Haha… malah curhat.”
“Sudah… sudah, aku sedang mengerjakan tugas.”
“Aku berpikir mungkin angin itu masuk lewat pori-pori kulit kita. Lalu dia bersemayam di otot kita. Dalam daging kita. Lambung kita. Bahkan mungkin masuk ke tulang hingga kita sakit, dan akhirnya tumbang.”
“Lalu? Ngapain sih mikirin itu. Haha…”
“Aku hanya terpikir sebuah filosofi dari hal itu.”
“Euh…”
“Ini serius. Coba kita berpikir.”
“Kau saja yang berpikir.”
“Kenapa saat angin masuk lewat hidung dan mulut lalu masuk ke paru-paru, itu malah sangat bermanfaat buat tubuh kita. Bahkan tidak bernafas dua menit saja kau bisa mati. Atau setidaknya pingsan deh.”
“Lalu? Mana filosofinya?”
“Tunggu. Aku masih berpikir dulu.”
“Kelamaan ah.”
“Ini buka filosofi baru. Begini. Saat sesuatu yang sangat bermanfaat sekalipun, tidak kau tempatkan pada tempatnya. Maka keburukanlah yang akan kau dapatkan.”

Belajar dari Masuk Angin Belajar dari Masuk Angin Reviewed by Al Muh on 15.12.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.