Kair

Sore di sudut sekolah.
“Bagaimana kawan, kau jadi kuliah kedokteran?” Tanya Amar.
“Hehe, ku rasa itu akan tetap jadi mimpi ku saja.” Jawab Kair dengan nada yang lemas sambil melempar batu kecil ke tengah sawah.
“Jangan begitu kawan.” Kata amar. “Harus tetap semangat.”
“Semangat ku masih kuat.” Jawab Kair. “Tapi kenyataan yang ada sedikit-demi sedikit menggerogotinya.”
“Aku sih tidak terlalu terpaku.” Kata amar sambil ikut melempar batu ke tengah sawah. “Aku akan membiarkan semuanya mengalir seperti yang seharusnya. Jika memang kita tidak bisa mencapai cita-cita kita, maka kita buat cita-cita yang baru.” Amar tersenyum kepada Kair.

“Jadi kamu mau kemana setelah ini Mar?” Tanya Kair.
“Aku akan terima tawaran Pak Endang.” Jawab Amar. “Aku akan ikut dengan Yayasan miliknya. Dengan begitu aku bisa kuliah.”

“Pak Endang?” Tanya Kair. “Tapi kata orang kalau kuliah dibiayai oleh yayasan itu kita akan terikat dengannya kawan. Kita tidak bisa bebas. Kita dikekang dengan peraturan yayasan. Pulang ke rumah saja akan sulit. Belum lagi kamu harus bekerja setelah pulang kuliah. Apa kamu kuat?”
“Apa ada jalan lain?” Tanya Amar.
“Hm, iya juga Mar.” Jawab Kair.

“Aku akan mencobanya.” Tegas Amar. “Semoga ini jalan yang terbaik yang Allah berikan untuk ku bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.”
“Ya, ya.” Gerutu Kair. “Sayangnya Ibu ku tidak mengizinkan aku ikut dengan Pak Endang.”
“Haha.” Amar tertawa. “Akan ada jalan lain kawan. Percayalah.”
“Semoga begitu.” Kata Kair.

“Jadi kamu mau kemana setelah ini?” Tanya Amar.
“Mungkin aku akan mencari kerja dulu Mar.” Jawab Kair. “Ya, semoga bisa punya biaya untuk ku melanjutkan kuliah. Menyusulmu.”
“Aamiin.” Jawab Amar. “Selalu ada jalan untuk para hamba yang berusaha Kawan.”
“Aamiin.” Kair terseyum kepada Amar.

Dalam hati Kair, Amar memang selalu bijak. Dia seperti bukan anak yang baru lulus SMA. Sahabat yang selalu menyemangati ku saat aku terpuruk. Aku memang payah. Selalu pesimis. Mungkin kata menyerah sebelum berjuang itu cocok sekali untuk ku.
“Ku rasa aku akan merindukan tempat ini kawan.” Kata Amar.
“Iya, Aku juga.” Jawab Kair. “Perasaan baru kemarin ya kita masuk SMA ini. Sekarang kita sudah dipenghujung.”

“Iya Kawan.” Kata Amar. “Aku akan meninggalkan desa yang indah ini. Dan masuk ke kota yang lebih kejam dari hutan desa kita. Memang tak ada hewan pemangsa di kota, yang ada adalah manusia pemangsa segalanya. Siapa yang kuat, berduit, berjabatan, maka merekalah yang akan menang.”
“Berhati-hatilah kawan.” Ucap Kair. “Semoga kau selamat dan sukses disana. Aku akan segera menyusulmu nanti.”
“Aamiin. Kamu juga Kair.” Balas Amar.

“Sepertinya sudah mulai sore.” Sela Kair. “Ku rasa kita harus segera pulang. Katanya sekolah ini seram kalau malam.”
“Haha… Biarlah.” Kata Amar. “Aku akan merindukan keseramannya nanti.”
“Haha, beberapa menit lagi. Sebelum perutku mulai keroncongan.” Tambah Kair.

Mereka sering menyebut tempat ini Base camp. Sebuah tempat di sudut sekolah. Di hampir belakang sekolah. Berbatasan dengan pesawahan. Dan menghadap langsung ke pegunungan yang indah. Tidak ada tembok pagar sekolah, hanya ada pagar dari batang singkong yang sudah tumbuh banyak daun di setiap bukunya. Biasanya mereka berlima disini. Tapi teman yang lain, Heru, Rudi, Sandi, sudah pulang lebih awal.

Kair Kair Reviewed by Al Muh on 14.17.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.