William Forrester

Kaptur film Finding Forrester


"Belum selesai nak?"
"Belum nih pak, ada beberapa trouble alatnya tidak support."

"Oh begitu ya. Semangat ya nak."
"Iya pak, terima kasih."

"Kalau sudah selesai kamu dan teman-teman bisa istirahat, agar besok bisa fit lagi. Insyaa Allah besok seminarnya akan dimulai jam 9 pagi."
"Siap pak. Bapak ini tim dari Bapak William besok?"
"Iya. Betul. (Seraya senyum) Kenapa?"
"Tidak apa-apa pak, saya penggemar beliau. Saya suka tulisan-tulisannya karena begitu mengalir saat dibaca. Dan penuh makna."

"Oh ya?"
"Iya pak. Tapi saya belum pernah bertemu beliau. Hehe... Mudah-mudah besok bisa bertemu. Beruntung sekali saya bisa jadi tim teknis seminar Beliau."

"Kamu ini lucu sekali nak. Insyaa Allah kamu bisa bertemu."
"Beliau sudah datang pak?"
"Sudah tadi sore. Sepertinya Beliau sedang istirahat."

"Hihi, saya ingin sekali bisa jadi seperti Beliau. Jadi seorang penulis hebat."
"Kamu suka menulis juga nak?"
"Suka sekali pak, tapi saya tidak bisa menulis. Hehe.."

"Semua orang bisa menulis dan jadi seorang penulis nak. Asal giat berlatih. Itu kuncinya."
"Iya pak, tapi saya selalu merasa apa yang saya tulis itu tidak bagus."
"Hehe semua orang pasti pernah merasakan seperti itu nak."
"Hm, tapi semua ini membuat saya merasa berkecil hati pak. Bahkan hal itu cenderung membuat saya jadi malas menulis."

"Kenapa begitu?"
"Iya karena setiap saya membaca kembali tulisan saya, saya merasa kecewa sekali. Tulisan saya jelek sekali. Tidak jarang saya langsung menyobek tulisan-tulisan saya itu."

"Hm, dengarkan saya ya nak. Para penulis hebat dan profesional itu juga dulu pernah amatir. Tidak ada di dunia ini yang terlahir langsung besar, langsung hebat. Kita saja terlahir ke dunia ini di mulai dari bayi. Bayi yang kecil, tidak punya pikiran sama sekali. Tapi seiring berjalannya waktu kita tumbuh besar, memiliki pikiran dan karakter. Begitu juga dengan menulis dan profesi lainnya. Aku beritahu cara ku menulis. Kamu harus ingat ini. Menulislah untuk diri mu sendiri. Jangan untuk siapapun atau untuk apapun. Tulislah benar-benar untuk dirimu sendiri. Dengan begitu kau tidak akan terpengaruh orang lain, tentang apa yang mereka katakan soal tulisanmu. Selama ini kau merasa kecewa dengan tulisanmu tidak bagus karena saat kau membaca tulisanmu, kau memposisikan dirimu sebagai orang lain."

"Terima kasih banyak, ternyata selama ini saya telah salah niat dalam menulis."
"Masih belum terlambat untuk diperbaiki nak."

"Tapi tidak hanya itu pak yang jadi kendala saya dalam menulis. Saya kehilangan ide saat saya pertama memulai sebuah tulisan. Saya tidak bisa berpikir ide-ide bagus untuk ditulis. Saya selalu jalan ditempat. Paling banyak saya hanya bisa menulis 10 halaman saja, sudah stak."

"Hm, (Sang bapak tersenyum dan menepuk pundak si anak laki-laki). Dengar nak! Kau ini mau jadi penulis atau pemikir? Tulislah, tidak perlu berpikir. Berpikirnya belakangan saja. Tulis, tulis dan tulis. Bagus atau tidak itu tidak masalah. Teruslah menulis."

"Wah terima kasih sekali pak nasihatnya. Saya jadi semangat kembali untuk menulis."

"Syukurlah. Oh iya, kamu tidak perlu menunggu besok untuk bertemu dengan Bapak William Forrester. Dia sedang bicara dengan mu sekarang."


-Al Muh-

William Forrester William Forrester Reviewed by Al Muh on 10.15.00 Rating: 5

2 komentar:

  1. Sip.. narasi sudah oke. diakhir kalimat di tutup dengan kejutan..ilustrasi gambarnya juga pas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih gan udah mampir dan menyisihkan waktu membaca. :))

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.