Ba


1822.
Langit terlihat terbungkus oleh awan hitam. Tak ada satu bintang pun yang terlihat di atas sana. Para nelayan desa yang hendak melaut seperti di serang keraguan dengan cuaca yang tidak bersahabat ini. Angin bertiup kencang dari arah laut menghantarkan gelombang ombak ke pantai. Perahu yang tengah di ikat di tepi pantai terombang-ambing dihantam oleh deburan ombak. Kalau saja tali pengikatnya tidak kuat, pasti perahu itu akan terseret ke tengah lautan.

“Sepertinya laut sedang ingin beristirahat dari para nelayan.” Kata Zaba sambil berjalan meninggalkan tepian pantai.
“Ya,” Junaedi sepakat, “Kembali ke ladang adalah pilihan untuk menyambung hidup selama musim sedang tak bersahabat ini.”
Junaedi berjalan mengikuti Zaba, tapi dia masih belum percaya bahwa musim cuaca buruk telah datang lebih awal. Sesekali dia menoleh ke arah laut, berharap keajaiban, semisal badai berhenti secara tiba-tiba hingga mereka bisa melaut malam ini. Tapi itu tidak mungkin. Terlihat juga beberapa nelayan lain yang berjalan menjauh dari perahu seperti halnya Zaba dan Jun.

“Ayo Jun,” Ajak Zaba, “Sebaiknya kita pulang.” Tapi Zaba tidak mendengar Junaedi menyahut. Lalu dia menoleh ke belakang untuk memastikan temannya ada di belakang. Ternyata Junaedi berhenti beberapa langkah di belakang dan sepertinya tengah mengawasi sesuatu di pantai sana. Zaba berbalik menghampiri Jun.

“Ada apa Jun?” Tanya Zaba.
“Tak ada apa-apa.” Jawab Jun ragu. “Tapi… Sepertinya aku melihat sesuatu yang berkilau terbawa ombak.”

“Mungkin itu hanya sebuah botol Jun.”

“Ya, mungkin.” Jun menjawab sambil berjalan ke arah pantai. “Aku penasaran.”
“Ah kau ini.” Akhirnya Zaba seolah terhipnotis dan berjalan mengikuti Jun untuk memastikan benda yang dilihatnya. “Benar kan? hanya sebuah botol.” Kata Zaba lagi.
Jun mengangkat botol itu, beberapa saat kemudian ombak kembali menyapu pantai. Mungkin jika Jun tidak segera mengambilnya, maka botol itu akan kembali terseret ke laut. “Iya, kau benar Ba,” Jawab Jun, “Tapi lihat botol ini aneh sekali. Botol ini pasti bukan dari sekitar sini. Bentuk tutupnya seperti kubah masjid.” Tambah Jun.

“Mana, aku lihat.” Zaba mulai penasaran.
“Lihat, aneh kan?” Kata Jun lagi, “Di tutup sangat rapi. Oh, lihat, ada sesuatu di dalamnya!”
“Sebaiknya kita buka” Pungkas Zaba.
“Jangan, ini bukan milik kita.” Jun menolak.
Zaba mengangkat bahunya. “Coba saja. Apa salahnya?”
“Sepertinya sebuah surat.” Tebak Jun. “Dan kita bukan penerimanya. Maka kita akan berdosa jika membuka surat ini tanpa izin.”
“Ya, terserah kamu saja.” Zaba mulai ikut bingung.
“Kita bawa ini kepada Syeikh?” Usul Jun.
“Hm,” Zaba menarik napas. ”Ya sudah.”

Mereka berdua berjalan meninggalkan pantai. Kali ini Jun tidak menoleh kembali ke pantai. Sepertinya dia sangat bersemangat untuk segera mengetahui apa yang sebenarnya di dalam botol itu. Atau justru dia malah khawatir, jika dia telah bersalah membuka sesuatu yang bukan haknya.
Tidak lama, mereka telah sampai di sebuah pondok pesantren. Di dalam langgar panggung kayu terlihat sang Syiekh sedang bersama kepala dusun. Jun dan Zaba datang tepat waktu, karena mereka bisa langsung menemui Syeikh. Kalau mereka datang lebih cepat, pasti Syeikh belum selesai mengajar para santri. Dan tidak bisa diganggu.

“Assalamu ‘alaykum Kang.” Ucap Jun dan Zaba hampir serempak.
“Wa ‘alaykumussalaam.” Jawab Syeikh dan kepala dusun yang juga hampir bersamaan. Selain kepala dusun, ternyata ada juga para santri tertua Syeikh yang selalu menemani syeikh. Hanya saya tadi mereka tidak terlihat terhalang oleh bilik.
“Silahkan masuk Jun, Zaba.” Kata Syeikh. Meski pelan tapi terdengar sangat berwibawa.
“Terima kasih Kang.” Jawab Jun.
“Tidak melaut Jun?” Tanya kepala Dusun membuka pembicaraan.
“Tadi kami hendak melaut pak.” Jawab Jun. “Tapi rupanya cuaca sedang tidak bagus malam ini.”
“Ya, Sepertinya musim cuaca buruk akan segera datang.” kata Syeikh. “Semoga gusti Allah melindungi kita semua, serta memberikan jalan rejeki, selain dari melaut.”

“Aamiin.” Semua serempak menjawab.
“Ini kang,” Kata Jun dengan ragu-ragu, “Kami menemukan botol ini di pantai. Terbawa ombak. Botol ini aneh sekali, dan sepertinya ada sebuah surat di dalamnya.” Jun meyodorkan botol itu kepada Syeikh.
“Kami tidak berani membukanya Kang.” Tambah Zaba.

Syiekh terdiam memandangi botol itu beberapa saat sabelum akhirnya mengambil botol itu.
“Baiklah,” Kata Syeikh. “Ada kepada Dusun di sini dan kalian semua menjadi saksi. Aku akan membukanya. Dan jika memang ini adalah sebuah surat, pasti ada seseorang di sana yang mungkin tengah menunggu surat ini, maka kita akan menghantarkan surat ini kepadanya.”

Kemudian Syeikh membuka botol itu. Sedikit keras. Mungkin karena sudah terlalu lama di lautan. Tutup botol yang menyerupai kubah masjid itu telah terbuka. “Bismillahirrohmaanirrohiim” Kata Syeikh perlahan sambil mengeluarkan kertas yang ada di dalam botol. Kami memperhatikan dengan seksama, dan penuh tanda tanya apa yang ada di dalam botol itu. Jika memang itu sebuah surat, apa isi surat itu dan untuk siapa. Sebenarnya mereka sudah sering mendapatkan botol bersurat seperti ini. Tapi yang ini berbeda. Entah kenapa ada getaran yang aneh membuat mereka seperti merinding.

Syeikh berhasil mengeluarkan surat itu. Surat itu terbuat dari pelapah kurma yang digulung. Kata Syeikh. Mereka bahkan tidak pernah melihat pohon kurma itu seperti apa, tapi itu tidak terlalu mereka pikirkan. Setelah tahu itu dari pelapah kurma, mereka malah semakin penasaran apa isi surat itu. Mereka belum peduli dengan pelapah kurmanya. Mungkin nanti setelah mengetahui isi surat itu, mereka baru akan membahas pelapah kurma.

Syeikh membuka gulungan surat itu. Lalu Syeikh terdiam lama membaca isi surat itu. Suasana jadi hening untuk beberapa saat. Tak ada yang berani bersuara sampai Syeikh akhirnya berkata: “Surat ini dari Mekah”.

“Mekah?” Semuanya terkejut. Yang mereka tahu, Mekah adalah tempat dimana ka’bah berada. Tempat orang-orang menunaikan ibadah Haji. Disanalah asal mula agama Islam, begitu kira-kira yang selama ini mereka dengan tentang Mekah. Tapi jauh sekali surat ini sampai ke tanah Jawa.
Syeikh menunjukan isi surat itu, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat surat itu hanya berisi huruf ‘ba’ dalam aksara arab atau Hijaiyah. Ya, hanya satu huruf ‘ba’ saja.
“Kang, apa maksud dari huruf ‘ba’ itu?” Tanya Zaba yang sangat penasaran.

“Ini adalah surat dari selah-seorang ulama di mekah.” Syikeh menjelaskan. “Dan surat ini memang di tunjukan untuk para ulama yang ada di tanah Jawa. Mereka mengundang siapa saja yang menemukan surat ini dan bisa membacanya untuk bersilaturahmi ke sana.”
“Tapi… Kang,” Jun terbata-bata, “Itu kan hanya ‘ba’ saja. Bagaimana bisa?”
Syeikh tersenyum. “Ini adalah ilmu Nahwu tingkat tinggi.” Terang sang Syeikh. “Mungkin saat ini ulama Mekah itu tengah menanti, apakah ada mampu membaca surat itu dan datang ke sana.”

Mereka semua merasa bangga pada kemampuan sang Syeikh. Kau juga pasti begitu. Karena jika melihat dari penampilan sang syeikh, tak ada yang menyangka bahwa dia adalah seorang Syeikh yang ilmu agamanya di atas rata-rata. Fostur tubuhnya yang mungkin hanya 160 sentimeter, serta begitu kurus lantaran beliau selalu berpuasa setiap hari. Beliau hanya makan nasi satu suap dalam satu hari. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengaji bersama santri dan berzikir kepada Allah. Di dagunya tidak ada janggut yang tumbuh. Beliau juga jarang mengenakan udeng di kepala, hanya mengenakan peci biasa berwarna putih.

Bahkan jika orang yang belum mengenal beliau, pasti akan mengira bahwa beliau adalah seorang santri di pondok ini. Sering kejadian seperti itu. Saat ada tamu yang datang dari luar daerah untuk bertemu sang Syeikh, mereka sering mengabaikan sang Syeikh yang tengah duduk di depan pesantren. Atau mereka justru bertanya kepada sang Syeikh: Permisi, apakah Syeikh ada di langgar? Untuk pertanyaan semacam itu beliau tidak pernah menjawab “Akulah syeikh”. Tapi beliau selalu menjawab : Syeikh ada, silahkan masuk tuan. Dan akhirnya, tamu itu terkejut saat di dalam langgar bertemu sang Syeikh adalah sosok yang tadi dianggapnya hanya seorang santri.

Tiba-tiba syeikh membuat Jun, Zaba, kepala Dusun serta para santri terkejut, “Ayo kita penuhi undangan ulama Mekah ini.” Kata sang Syeikh dengan sangat yakin.
“A, apa Syiekh?” Kepala Dusun seperti Syok.
“Iya, aku akan ke Mekah untuk memenuhi undangan ini.” Jawab Syeikh sekali lagi dengan sangat yakin.
“Tapi,” Kata kepala Dusun sungkan, “Ke Mekah butuh waktu berbulan-bulan Syeikh”.
“Tidak apa.” Tegas sang Syeikh. “Aku akan berumroh.”
“Baik kalau begitu Syeikh.” Jawab Kepala Dusun. “Aku akan memberitahu warga soal rencana ini. Tapi, selama Syeikh pergi, bagaimana dengan pesantren?”
“Aku akan pergi dengan Junaedi dan Dadang.” Kata Syeikh. “Ma’ruf yang akan menggantikan ku selama aku pergi.”

Bersambung...

-Al Muh-

Ba Ba Reviewed by Al Muh on 17.29.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.