Jodoh untuk Kakak

      Malam ini terasa lebih berat buat Nisa, bukan karena hujan yang terus mengguyur dari tadi sore. Bukan, justru hujan selalu membawa ketenangan buat Nisa. Dia bisa tidur sangat nyenyak saat malam diguyur hujan seperti ini. Tapi malam ini berbeda, dia tidak bisa tidur. Meski matanya terpejam tapi pikiran dan hatinya terus bergejolak. Bahkan dia berkeringat padahal udara sangat dingin.

*
     Nisa yang kini berusia 25 tahun, selalu berharap ada seorang pria yang berani melamarnya. Kalau yang mengajaknya berpacaran, banyak. Tapi yang ngajak serius untuk menikah, belum ada. Nisa bilang dia tidak ingin pacaran, dia ingin menikah. Berpacarannya setelah halal saja nanti. sebenarnya, ada sih yang ngajak serius, tapi Nisa merasa tidak cocok dengan pria itu. Tidak tahu kenapa, padahal pria itu sangat baik. Pria itu adalah mantan Dosen di kampusnya dulu. Nisa itu ingin segera menikah, bukan tergesa-gesa. Jadi dia masih tetap menyeleksi yang mau menikahinya.

        Jum'at kemarin, Nisa dikenalkan kepada seorang pria oleh temannya, Mirna. Kata Mirna, pria ini sedang mencari seseorang untuk diperistri. Mirna kenal baik dengan pria itu. Dia memang pria baik-baik, insyaa Allah. Perkenalan yang begitu singkat sebetulnya. Hanya lewat whatsap saja. Namanya Ahmad.

Sabtu sore Ahmad mengajak bertemu secara langsung dengan Nisa. Mirna tidak bisa ikut karena Mirna ada urusan lain. Pertemuan pertama, Ahmad menjemput Nisa sepulang kerja di kantornya. Nisa bahkan tidak tahu Ahmad itu seperti apa. tapi saat keluar dari kantor Nisa melihat seorang pria yang tengah berdiri di samping mobil di parkiran kantornya. Iya itu pasti Ahmad, tebak Nisa. 

"Assalamualaikum. Kamu Nisa?"
"Waalaikumsalam. Iya betul." Jawab Nisa. "Kamu Ahmad?"
"Iya. saya Ahmad." Jawab Ahmad sambil tersenyum.

      Dari penampilan dan gaya bicaranya, sepertinya dia adalah pria yang baik, dalam benak Nisa. Kita memang tidak bisa menilai orang dari penampilan luarnya, apa lagi pada pertemuan pertama. Tapi kadang, aura kebaikan dari seseorang itu bisa terlihat dan terasa dari luar saat kita berhadapan dengan orang itu. Sebelum mengantarkan Nisa pulang, Ahmad mengajak Nisa ke sebuah restoran untuk makan, sekalian berbincang-bincang sebagai perkenalan. Nisa belum terbiasa berhadapan dengan pria secara langsung seperti ini. Apa lagi hanya berdua, dengan orang yang bahkan baru dia kenal kemarin lewat watsap. Kalau saja Ahmad bukan teman Mirna, pasti Nisa tidak mau.

      Sampai di rumah Nisa, Ahmad bertemu dengan keluarga Nisa. Mengobrol sebentar, sebelum akhirnya Ahmad pamit untuk pulang.

     Minggu sorenya, Ahmad menelpon Nisa. Membuka pembicaraan dengan obrolan biasa. Tapi di pertengahan, Ahmad mengatakan tujauannya. Ahmad bilang, dia ingin serius dengan Nisa. Ahmad ingin melamar Nisa. Ahmad juga bilang, jika Nisa bersedia, lusa dia ingin mengajak Nisa bertemu dengan keluarganya. Nisa terkejut karena merasa terlalu cepat. Tapi sisi lain dia juga bahagia, mungkin Allah telah mengabulkan do'anya selama ini. Tuhan mengirimkan pria yang memang benar-benar serius dengan Nisa. Dan seperti yang Nisa inginkan, 'pacarannya nanti aja setelah menikah'. Nisa belum bilang mau untuk di ajak bertemu keluarga Ahmad, tapi Nisa hanya bisa jawab 'Insyaa Allah'.


Selepas sholat isya, Nisa mendirikan sholat istikhoroh. Meminta petunjuk kepada Allah atas apa yang terjadi hari ini dan untuk kedepannya. Ditengah hujan yang menyejukkan, Nisa juga melantunkan ayat-ayat Al-quran yang jika kamu mendengar pasti hati mu akan terasa nyaman, tenang dan damai. Setelah selesai, sekitar pukul 10 malam. Nisa bersiap untuk tidur. Karena besok adalah hari senin. Dia harus bersiap menghadapi kemacetan ibu kota saat berangkat kerja. Dalam benak Nisa terbesit, hah! Lelah sekali kalau harus bekerja seperti ini, berangkat jam 5 subuh dengan kereta yang penuh sesak, dan pulang, jam 8 malam baru sampai rumah. Begitu setiap hari. Bukan aku lemah, tapi rasanya ini memang bukan passion ku. Semoga setelah menikah nanti aku tidak perlu bekerja keluar. Aku bisa jadi ibu rumah tangga seutuhnya, yang mengurus suami, dan anak-anak. Aamiin.

**

Semua kejadian inilah yang membuat Nisa tidak bisa tidur. Yang membuat pikiran dan hatinya bergejolak. Nisa merasa sedih padahal harusnya dia merasa bahagia karena ada yang akan segera melamarnya. Nisa ingin memeluk bundanya, menceritakan semuanya tapi sepertinya bunda telah tidur selapas isya tadi. Mungkin besok Nisa akan bercerita kepada bunda.

Konsentrasi Nisa pun hilang di tempat kerja. Dia ingin segera pulang dan memeluk bunda. Menunggu jam pulang kerja sekarang serasa lebih lama dari biasanya. Lama banget, batin Nisa.

Sampai di rumah, nisa bergegas sholat isya. Kebetulan bunda juga lagi sholat isya. Setelah sholat, Nisa langsung memeluk bunda dan menangis. 

"Adek kenapa?" Tanya bunda bingung.
Nisa tidak menjawab. Malah semakin erat memeluk bunda.
"Adek?" Tanya bunda lagi, "Ada apa?"
Nisa tetap diam, hanya terisak. Nisa bingung harus bagaimana.

"Ahmad melamar Nisa bun..." rintih Nisa.
"Wah Alhamdulillah." Kata bunda. "Kenapa kamu sedih, bukankah itu kabar baik?"
"Iya bunda." Nisa setuju. "Tapi..."
"Tapi apa de?"
"Tapi bagaimana dengan Kakak bun?" 

"Hm..." Desah bunda.
"Aku harus bagaimana bunda?" Tanya Nisa.

Lalu bunda mengusap air mata dari pipi bungsunya itu.

"Adek," Kata bunda perlahan. "Jodoh itu tidak ada yang tahu. Kalau memang jodoh sudah datang lebih dulu kepada mu. Maka menikahlah."

"Tapi aku tidak ingin mendahului kakak bun..."

"Tidak apa dek" Kata bunda sembari tersenyum. "Kakak mu akan segera menyusul. Insyaa Allah. Do'akan saja kakak mu."

"Apa aku akan berdosa bunda?" 

"Tidak, tidak akan." Jawab bunda. "Tidak ada ayat atau hadits yang melarang seorang adik mendahului kakaknya menikah. Karena jodoh memang Dia yang mengatur."

Tangisan Nisa pacah saat kakaknya datang menghampiri mereka ruang sholat.
"Kakaaaaaakk..." Nisa histeris sambil memeluknya.

"Adek," Kata kak Khadijah terseyum. "Ini hanya soal waktu. Kalau kamu lebih dulu, bukan berarti kakak tidak akan pernah menikah."

-Al Muh-
Jodoh untuk Kakak Jodoh untuk Kakak Reviewed by Al Muh on 12.06.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.