Uwak Semar

"Woy! Keluar Lu...!"
"Ba**s*t!"
"Udah kita bakar rumahnya! Biar tahu rasa."
"Woy!"

Kerusuhan terdengar jelas dari depan pagar rumah. Suara teriakan kasar dari mungkin puluhan orang, suara pagar yang di dobrak bercampur bunyi langkah kaki penuh emosi menginjak halaman. Suasana yang sangat mencekam untuk ku dan keluarga.

"Praaang!!!" Suara kaca rumahku pecah karena seseorang di luar sana melemparkan batu.

Ayah ku memberanikan diri keluar dari rumah, menemui para preman itu di depan rumah. Ibu ku mencoba menahan ayah, namun ayah tetap bersikeras untuk menemui mereka. Ayah bilang, dari pada rumah di bakar, mending ayah keluar, mungkin bisa sedikit menenangkan mereka.

Aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Aku tidak ingin ayah menjadi korban, karena semua ini adalah salah ku. Semua terjadi gara-gara kemarin malam aku mengalami kecelakaan dengan preman itu. Saat itu aku baru saja pulang kerja mengendarai sepeda motor dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 40 KM/jam saja. Tapi tiba-tiba si preman muncul dari depan toko material bangunan dengan sepeda motor tanpa lampu depan dan melawan arah jalan. Aku sangat kaget dan tidak bisa menghindar lagi. Akhirnya tabrakan pun terjadi. Tidak terlalu parah, tapi motor kami mengalami cukup banyak kerusakan. Meski dalam posisi yang salah, si preman itu malah mengamuk. Aku yang merasa tidak bersalah, tidak terima dengan itu. Justru harusnya aku yang menuntut ganti kepadanya. Dia yang salah, melawan arah, tidak ada lampu depan, tidak mengenakan helm, dan berkendara dalam keadaan mabuk alkohol. Aku kenal preman ini, dia sering di panggil Bery oleh teman-temannya. Memang perawakannya seperti aktor film jaman dulu, Bery Prima.

Lalu si preman itu mencabut golok dari pinggangnya. Tapi belum sampat dia membacokkan goloknya kepada ku, dia sudah pingsan duluan, nampaknya efek mabuk berat. Warga sekitar yang melihat kejadian itu menghampiri ku. Salah satu dari mereka berkata: "Sudah, kamu pulang saja. Biarkan dia sadar sendiri." Diantara warga juga ada yang berkata "Huh, rasain lu. Dasar preman tukang mabuk."

Akhirnya aku menurut dan pulang. Dan berusaha melupakan semua yang terjadi. Tapi besok aku harus ke bengkel untuk memperbaiki sepeda motorku.

Keesokan harinya aku mendengar kabar dari para tetangga, si Bery mengamuk dan mencari ku kemana-mana. Katanya nanti malam dia akan menghabisi ku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Apa lagi si Bery memang terkenal sudah keluar-masuk penjara karena bunuh orang. Tapi dia tidak pernah kapok. Setiap kali dia membunuh orang dan masuk bui, bapaknya selalu menebus dia dengan puluhan juta rupiah. Bapaknya adalah preman besar yang menguasai perusahaan tambang pasir di daerah ku. Makanya uangnya banyak dari hasil memeras perusahaan tambang itu.

**

Ayah keluar rumah. Tapi ayah tidak sendiri. Dia bersama 2 orang kakaknya. Sore tadi uwak ku (Kakak dari ayah ku itu) sudah datang karena ayah memang meminta bantuan kepada mereka setelah mendengar kabar akan ada preman yang mencoba mencelakakanku. Uwak ku itu adalah Wa Haji, dia seorang kiyai dari kampung sebelah, dusun Sambas. Wa Haji ini sepuh dan sudah termasyhur terutama karena santrinya yang banyak dan melahirkan alumni-alumni yang telah jadi kiyai juga. Yang ke dua :Wa Maman, uwak ku yang satu ini adalah guru silat di Dusun Gentar.

Aku ikut keluar bersama mereka. Meski ibu menahan ku. Aku tidak ingin bersembunyi seperti banci.

Kerusuhan tiba-tiba mereda saat uwa keluar.
"Siapa yang mau nyelakain keponakan saya?" Kata Wa Haji.

Beberapa preman itu terkejut melihat kehadiran uwak ku. Beberapa dari mereka memang pernah jadi santri Wa Haji. Mereka saling memaki temannya "Lu gak bilang kalau si Kair itu keponakan Wa Haji!" Kata salah seorang dari mereka. Lalu yang lain menjawab "Gue juga gak tahu." Mereka yang memang merasa pernah jadi santri dari Wa Haji langsung mundur. Mereka tahu kalau Wa Haji ini ilmu kanuragannya tidak bisa dianggap remeh. Terutama setelah mereka lihat Wa Maman yang memang jawara silat tak terkalahkan meskipun beliau sudah tua. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, perutnya buncit tapi kekar berdiri. Seperti tokoh semar dalam pewayangan.

"Woy kenapa pada mundur lu?" Bery geram.

Tapi tidak ada yang menjawab. Mereka hanya berdesis, berbisik dan saling mendorong temannya untuk maju. Tapi tak ada yang berani. Hanya ada Bery sekarang di barisan terdepan itu.

"Anj*ng lu semua!" Bentak Bery. "Kalau lu gak mau pada maju, Gue yang maju. Nih Gue Bery!"

Bery berlari sambil mengacungkan goloknya, bersiap menebas leher uwak Haji. Tapi uwak Haji dan uwak Maman tetap tenang. Tampak jelas mereka memang senior, sudah terbiasa menghadapi pertarungan semacam ini.

Belum sempat golok itu mendarat di leher uwak Haji. Aneh, uwak Maman tiba-tiba sudah ada di samping Bery dan menangkap Golok itu. Pergerakannya sangat cepat meski usianya sudah uzur. Semua orang terperangah, melihat wa Maman menangkap golok itu dengan tangannya. Tapi tangannya baik-baik saja. Tidak ada darah sedikitpun yang keluar. Bery pun terkejut. Tapi belum sempat Bery melakukan gerakan berikutnya, Wa Maman sudah lebih dulu menarik golok dari genggaman Bery dan melemparkannya. Lalu wa Maman merubah posisinya dengan cepat sehingga beliau sekarang berdiri di belakang Bery. Dengan cekatan wa Maman menjambak rambut Bery. Bery yang postur tubuhnya jauh lebih besar dari uwak, terjatuh dan terseret ke belakang. Teman-temannya hanya bisa menyaksikan dan membelah barisan untuk membuka jalan bagi Uwak Maman yang menyeret si Bery sampai keluar pagar.

"Lu, anak kemaren sore!" Kata wa Maman, "Bapak lu aja, si Baron, itu gue yang ngajarin silat."


-Al Muh-

Uwak Semar Uwak Semar Reviewed by Al Muh on 13.19.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.