50 Tahun Bersama

Masih pagi sekali. Seperti biasa harus semangat pergi ke kantor meski suasana hati sedang tidak nyaman. Perjalanan menuju kantor yang santai, karena saya selalu membiasakan berangkat kantor pada estimasi waktu yang panjang. Selalu berangkat lebih awal. Jadi tidak harus tergesa-gesa, yang dapat meningkatkan potensi kecelakaan. Terkadang heran sama orang-orang di jalan, mereka pergi ke kantor terburu-buru, sampai-sampai saat mereka berkendara, lalu ada angkot di depan yang menurunkan penumpang, padahal tidak sampai satu menit, tapi mereka langsung bunyikan klaksound panjang. Sering juga kata-kata busuk dilontarkan kepada siapapun yang menghalangi jalan mereka.
Jadi sedih, seburu-buru itukah mencari nafkah untuk keluarga?
Atau mereka yang malas berangkat lebih awal, sehingga mereka harus kebut-kebutan.


Saat tengah santai menikmati perjalan, meski dengan kemacetan yang menyebar, tiba-tiba ada sepasang 'kekasih' yang saya prediksi sudah menjalin kebersamaan selama lebih dari 50 tahun. Sungguh membuat hati tersentuh dan mungkin mata berkaca-kaca. (Sayangnya saya pakai helm, jadi kamu tidak akan bisa melihat mata saya). Bagaimana tidak, sang pria menarik gerobak sampah dan sang perempuan mendorongnya dari belakang. Kulit yang sudah sangat keriput dan langkah kaki yang mulai payah, baju compang-camping, sepagi itu mereka sudah beraksi mencari nafkah untuk keluarga, dan setidaknya juga dapat membantu mengurangi jumlah sampah di kota ini.

Mereka terhuyung-huyung saat gerobaknya itu akan dinaikan ke jalan raya, lantaran posisi jalan rayanya lebih tinggi dari tepian jalan. Gerobaknya juga besar, dan tingginya lebih dari tinggi badan mereka. Terbuat dari seng bekas yang sudah ditambal disana sini.

Saya membatin, Ya Tuhan, ada ya wanita yang begitu menerima pasangan hidupnya sampai tua seperti ini, meski (maaf) hanya sebagai pengais sampah. Mereka bahkan saling bahu-membahu, menyingkirkan segenap rasa lelah, letih karena usia, apa lagi rasa gengsi pasti sudah tidak ada di kamus hidup mereka. Saya hanya bisa menerka, mungkin dipikiran mereka hanya ada: bagaimana saya dan anak-anak bisa makan hari ini dan anak-anak saya bisa bersekolah. Atau bahkan mereka sudah tidak sempat memikirkan apa itu sekolah.
50 Tahun Bersama 50 Tahun Bersama Reviewed by Al Muh on 11.28.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.