Papanthing

Source images: Google
   Ada dua ekor papanthing (semacam tawon yang berukuran lebih kecil). Namanya Arte dan Yute. Mereka bekerja secara bebas, membangunkan sarang bagi papanthing lainnya yang bersedia membayar. Bisa dibilang mereka adalah kuli bangunan atau yang lebih keren, mereka adalah arsitek. Mereka berdua bekerja sama dalam membangunkan sarang. Arte lah yang menjadi ketuanya.

   Saat pagi tiba, mereka bersiap berangkat ke tempat pembangunan sarang yang sudah ditentukan oleh klien mereka. Mereka membawa tas punggung berisi peralatan bangunan, pelindung kepala, dan alat lainnya. Tentu saja tidak lupa tanah di mulut mereka yang akan jadi bahan utama pembangunan sarang. Tanah pilihan yang di ambil dari tanah yang memiliki tekstur khusus, hingga mudah direkatkan dan cepat mengering, tapi bukan tanah liat. Tidak semua papanthing mampu mencari bahan tanah yang seperti ini.

Untuk mengerjakan sebuah sarang, biasanya mereka butuh waktu tiga minggu. Tergantung seberapa besar sarang yang ingin dibuat.

Pada suatu pagi yang cerah. Yute dan Arte terbang menuju lokasi pembangunan.
“Apakah dia ada?” Tanya Yute.
“Siapa?”
“Penghuni kamar.”
“Aku tidak tahu.” Kata Arte. “Sebaiknya kita mendekat agar lebih jelas. Biasanya dia tidak ada, aku pernah masuk ke kamar itu sebelumnya. Tempatnya sangat nyaman.”
“Baiklah, Ayo!” Seru Yute.

Mereka terbang menuju jendela. Perjalanan melewati taman dengan bunga-bunga indah. Mereka juga bertemu dengan para lebah yang sedang mencari madu. Tidak berapa lama, mereka sampai di depan jendela.
“Oh gawat, dia ada.” Kata Yute.
“Bukan masalah. Kita bisa menyelinap.” Kata Arte.
“Tapi lihat, dia sedang menatap ke jendela.” Kata Yute.
“Hm, Kau benar.”Arte setuju. “Sebaiknya kita hinggap di celah itu. Tunggu sampai… setidaknya dia lengah. Lalu kita masuk.”
“Baiklah.” Yute terbang di belakang Arte, mereka hinggap di sebuah celah kusen jendela.
“Kau punya ide?” Tanya Yute.
“Ku rasa belum ada.”

“Aku dengar-dengar, kata para papanthing lain, penghuni kamar ini tidak berbahaya. Dia tidak pernah membunuh atau merusak sarang papanthing sebelumnya.”
“Jadi kita menyelinap sekarang?” Tanya Arte.
“Bisa. Tapi aku ragu. Hehe”
“Baiklah, tunggu beberapa saat lagi, sampai kau tidak ragu.”
“Ok, sebentar lagi.” Yute tersenyum.
“Kita sudah dibayar mahal untuk yang satu ini.”
“Tentu saja. Baiklah, ayo kita masuk.” Ajak Yute.
“Haha… Ayo! Mari kita buat sarang yang indah.”

Arte dan Yute terbang masuk ke jendela. Tapi si penghuni kamar tidak bergeming. Sepertinya dia tidak peduli dengan kehadiran dua papanthing itu.

“Kurasa kita sedang beruntung. Ayo lebih cepat, sebelum dia mulai terganggu dengan suara sayap kita, dan mengusir kita dengan semprotan racun.” Kata Arte.
“Siap Komandan!”
Arte dan Yute melesat menuju sebuah lemari kecil. Di depan lemari itu ada sebuah celah, dan disitulah mereka akan mendirikan sarang.
“Baiklah kawan. Siapkan peralatan, kita akan buat istana yang indah disini.” Kata Arte.
“Yeaahh…!” Teriak Yute sambil mengangkat tangan layaknya prajurit yang akan berperang.

Mereka mengeluarkan peralatan. Bersiap untuk peletakan tanah pertama yang ada di mulut mereka. Di dalam mulut mereka hanya menampung sedikit tanah. Jadi mereka harus bolak-balik mengambil tanah ke pertambangan tanah papanthing. Tanah itu tidak bisa dibawa dengan wadah lain kecuali mulut mereka, itu agar tanah tetap basah oleh cairan lem alami dari perut mereka. 

Dalam satu hari mereka bisa ratusan kali bolak-balik ke pertambangan. Sebuah usaha yang sangat keras untuk membangun sarang yang hanya seukuran jempol manusia dewasa. Kadang mereka harus menangis karena sarang yang susah payah mereka buat, harus dihancurkan oleh tangan manusia, bahkan hanya satu pukulan. Yang lebih menyedihkan adalah saat sarang itu sudah terisi telur, dan larva tapi musnah oleh manusia. “Manusia jahat!” Mereka kaum papanthing sering berteriak seperti itu. Tapi percuma, seberapa keraspun mereka berteriak, manusia tidak akan pernah mendengar suara mereka.

Hari-hari berlalu. Arte dan Yute masih semangat membangun sarang. Mengumpulkan sedikit demi sedikit tanah, lalu menyusunnya menjadi sebuah konstruksi sarang. Bagian yang sulit dan membahayakan adalah proses pengeleman tanah. Karena proses itu akan menimbulkan suara bising, bahkan suara itu cukup keras untuk terdengar oleh telinga manusia.

“Apa kita harus menunggu penghuni kamar pergi sebelum melakukan pengeleman?” Tanya Yute.
“Tidak mungkin, proses ini akan memakan waktu lama.” Jawab Arte. “Jika kita menunggu penghuni kamar tidak ada, maka sarang ini tidak akan pernah selesai. Kau lihat, si penghuni kamar bahkan tak pernah beranjak dari tempat tidurnya.”
“Tapi ini sangat beresiko. Si penghuni kamar akan merasa tertanggu dengan suara pengeleman ini.” Kata Yute.

“Setidaknya kita coba dulu sekarang.” Tegas Arte.
“Baiklah, baiklah Komandan.”

Kemudian mereka melakukan pengeleman. Itu dilakukan dengan mulut mereka. Celah demi celah tanah disambung agar sarang menjadi kuat. Pengeleman dimulai, dan kau tahu, suara yang ditimbulkan memang sangat keras.

“Trreeeeeeeeetttttttt…………………Trreeeeeeeeeeetttttt…….”

Tidak lama, benar saja dugaan Yute, si penghuni kamar terbangun dari tidurnya dan mulai mendengarkan suara itu. Sepertinya dia terganggu. Dia mencari ke sekeliling, mencari tahu dari mana suara itu berasal. Lalu si penghuni kamar beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju lemari. Dia mengintip ke celah lemari tempat Arte dan Yute membangun sarang. Yute yang menghadap ke luar celah melihat si penghuni kamar mengintip, tapi Arte masih sibuk dengan pengelemannnya, sebelum Yute menepuknya.

“Kawan, kurasa kau harus melihat kebelakangmu.” Kata Yute perlahan.
“Ada apa?” Tanya Arte.

Yute berjalan mundur sedikit demi sedikit, dan Arte, perlahan dia menoleh ke belakangnya. Dia terkejut saat melihat mata yang sangat besar sedang mengintip di luar celah. Itu adalah mata si penghuni kamar.

“O…ow!” Kata Arte.
“Ini tidak bagus kawan.” Kata Yute.
“Jangan bergerak Yute, tetap tenang.” Seru Arte.

Mereka tidak bergerak seperti patung. Tapi Arte dan Yute gemetar, dan mulai berkeringat dingin.

“Kita kabur saat ada kesempatan.” Ujar Yute.
“Tidak, jangan. Si penghuni kamar pasti akan menghancurkan sarang ini kalau kita pergi. Lagi pula, si penghuni kamar itu pasti lebih cepat dari kita.”
“Lalu, bagaimana?” Tanya Yute.
“Kau percaya kepada ku?” Arte balik bertanya.
“Percaya apa?” Yute bertanya lagi.
“Kita lanjutkan pengeleman ini.”
“Oh tidak kawan, kurasa itu bukan ide yang bagus. Kita sudah mengacaukan tidur si penghuni kamar. Dia pasti akan membunuh kita.”
“Percayalah kawan. Dia hanya sedang mencari sumber suara. Kalau si penghuni kamar memang ingin membunuh kita, itu pasti sudah dilakukan sejak lama.”
“Aku tidak yakin.” Kata Yute.
“Kita harus coba.” Kata Arte berusaha meyakinkan. “Setidaknya itu cara kita memberitahu bahwa kebisingan tadi adalah suara yang kita timbulkan. Mungkin si penghuni kamar akan mengerti, dan membiarkan kita melanjutkan pengeleman, atau…”
“Atau apa?” Tanya Yute.
“Atau dia malah akan membunuh kita.” Lanjut Arte.
“Tuh, kan.” Kata Yute semakin ketakutan.
“Tidak ada pilihan,” kata Arte. “kita kabur akan dibunuh, kita tidak kabur juga akan dibunuh. Kurasa kita akan mati terhormat jika mati dalam memperjuangkan sarang.”
“Baiklah kawan.” Kata Yute. “Aku ikut.”
“Dalam hitungan ketiga, kita mulai kembali pengeleman. Satu…dua…tiga!”

Kemudian mereka melanjutkan pengeleman, itu terlalu nekat menurutku, tapi itu adalah keputusan yang sangat berani dan hebat. Si penghuni kamar terus mengamati. Mata besarnya terlihat berkilauan. Sepertinya si penghuni kamar memang manusia yang baik. Dia tidak membunuh Arte dan Yute, dia justeru takjub dengan apa yang dilakukan kedua serangga itu, dia jadi takjub kepada kebesaran Tuhan yang telah menciptakan semua makhluk lengkap dengan keahliannya masing-masing.

-Al Muh-




Papanthing Papanthing Reviewed by Al Muh on 09.17.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.