Anggi dan Catur

Gambar : Ihei/wordpess

Sepulang sekolah, Anggi terlihat lesu. Tersirat di wajahnya ada kegelisahan. Seolah dia tengah dibebankan ratusan kilogram masalah hidup yang tak seharusnya dia rasakan dalam umurnya yang bahkan belum sampai belasan.

Dia masuk ke rumah dan mengucapkan salam seperti biasanya, hanya saja dengan nada yang lebih rendah. Rupanya dia telah ditunjuk oleh kepala sekolah untuk mewakili sekolahnya dalam lomba pramuka tingkat SD, SMP dan SMA se-provinsi, di cabang permainan catur. Sebetulnya kepala sekolah tidak yakin menunjuk Anggi, karena Anggi tidak termasuk anak yang pandai, dia bahkan tidak pernah masuk 15 besar di kelas. Tapi karena yang mendaftar di cabang catur hanya ada Anggi, akhirnya kepala sekolah menyetujuinya.

Tapi bukan itu yang menjadi beban pikiran Anggi. Dia justru bahagia bisa mewakili sekolah dalam permainan catur. Meski dipandang sebelah mata.

Masalahnya adalah dia hidup bersama orang tua angkat yang sangat galak. Tidak jarang Anggi dipukuli oleh orang tua angkatnya itu. Belum lagi perlakuan dari kakak-kakak angkatnya. Mereka semua beragajul. Tidak jarang diamankan oleh polisi karena terlibat tawuran di sekolah. Setahu Anggi mereka tidak sampai lulus SMA. Beruntung tahun lalu ayah angkatnya sudah meninggal, setidaknya itu mengurangi algojo penyiksa Anggi. Meski setelah itu, Anggi harus rela tak membawa uang jajan setiap berangkat sekolah.

Ibu Angkatnya sedang menonton tivi, lalu Anggi memberanikan diri menghampiri.
“Ibu, Anggi ikut lomba main catur.” Kata Anggi pelan.
“Oh.”
“Tapi, Anggi gak punya seragam Pramuka Bu.”
“Ya udah, Lu gak usah ikutan lomba.”
“Tapi Anggi pengen bu…” Kata Anggi sambil memainkan bagian bawah kaosnya yang sudah belel.
“Heh! Lu denger ya, Lu udah bisa makan aja itu udah bagus. Lu gue daftarin sekolah aja itu udah bagus. Jangan macem-macem dah idup Lu.” Bentak ibu angkatnya.

Anggi menangis. Dia sudah mengira akan begini, tapi dia ingin sekali ikut lomba. Dia percaya dia bisa juara. Karena diam-diam selama ini dia belajar bermain catur saat orang tua angkat dan kakak-kakak angkatnya bermain catur. Terutama saat masih ada Ayah angkatnya.

Perlombaan akan digelar hari minggu. Ini sudah hari selasa. Anggi tidak tahu harus minta dibelikan seragam kepada siapa? Seragam sekolah merah putih yang biasa dia kenakan saja, itu pemberian dari tetangga-tetangganya. Ayah dan ibu kandungnya entah kemana. Anggi belum pernah mendengar tentang mereka sedari kecil.

Hari kamis. Anggi kembali bicara kepada Ibu angkatnya itu.

“Ibu, Anggi boleh pinjam uang 100 ribu? Anggi mau beli seragam pramuka.”
“Enak banget lu ngomong. Minjem duit segala, Lu mau ganti pake apa?”
“Nanti kalau Anggi menang lombanya, kan dapat uang 500 ribu.”
“Kalau Lu gak menang? Lu mau ganti duit Gue pake daun?”
“Kalau Anggi gak menang, nanti jatah makan Anggi satu kali saja sehari bu. Nanti Anggi juga yang cuciin baju kakak.”
“Awas aja Lu ya, kalau gak menang.” Ibu Angkatnya mengancam.

Entah karena iba kepada Anggi, atau ibunya tergiur dengan keuntungan 500 ribu jika Anggi menang. Akhirnya ibu angkatnya membelikan Anggi baju seragam pramuka. Hanya baju dan rok saja. Tanpa aksesoris kepramukaan lainnya sama sekali. Kebetulan tetangganya penjual baju di pasar tapi juga menerima pesanan. Jadi ibu angkatnya mau memesankan baju untuk Anggi. Kalau harus membeli seragam ke pasar, pasti akan beda ceritanya.

Minggu pagi. Anggi sudah rapi mengenakan seragam pramuka. Wajahnya begitu ceria. Ini seperti hari lebaran jadinya. Dia berpamitan dan berangkat. Lokasi lombanya di sebuah SMA Negeri yang tidak jauh dari sekolah Anggi. Anggi berangkat bersama puluhan temannya. Sebagian kecil mereka ikut lomba juga, tapi di cabang lain: vocal grup, baris-berbaris dan tarian tradisonal. Sebagian besarnya adalah pendukung saja.

Ramai sekali. Anggi baru kali ini melihat siswa berkumpul di suatu tempat sebanyak ini. Biasanya dia hanya melihat keramaian pada saat upacara 17-an saja. Tapi ini jauh lebih ramai. Anggi memperkirakan mungkin ada 5471 orang disini. Mungkin.

Lomba pun dimulai. Anggi duduk di sebuah kursi, berhadapan dengan lawannya. Meja dan satu set catur di atasnya menjadi pemisah diantara mereka. Anggi tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa menyingkirkan lawan mainnya itu. Satu, dua, tiga dan seterusnya lawan mainnya itu tidak mampu melindungi raja catur mereka dari serangan yang dilancarkan oleh Anggi.

Puncaknya Anggi melesat ke babak final dan lagi-lagi lawannya itu di skak mat tanpa waktu lama. Dan itu hampir membuat kepala sekolah serta wali kelasnya kena serangan jantung. Karena awalnya kepala sekolah mengikut-sertakan Anggi hanya untuk meramaikan suasana saja.

Saat Anggi naik ke podium untuk menerima piala, dia melihat Ibu serta kakak angkatnya ada di antara penonton lainnya. Anggi tak menyangka sedikitpun akan hal itu. Anggi sangat bahagia dan tanpa Anggi sadari, orang tua angkatnya meneteskan air mata haru melihat Anggi berhasil menjadi juara. Tapi tak lama setelah Anggi mengangkat piala, orang tua angkatnya itu tidak terlihat lagi di telan keramaian.

Sepanjang perjalanan pulang, Anggi mendapat pujian dari para tetangga. Sebagian besar masih tak percaya Anggi juara. Tapi senyuman terlihat disunggingkan untuk Anggi.

Sampai di rumah, ibu angkatnya sedang menonton tivi. Seperti biasanya menyambut kepulangan Anggi dengan datar. Tapi kali ini ibu angkatnya hanya berpura-pura datar dan tidak tahu Anggi berhasil jadi juara. Anggi bersalaman sambil berkata:
“Bu, Anggi juara. Ini buat Ibu.” Anggi menyodorkan amplop berisi uang hadiah lomba.
Ibunya menatap Anggi tanpa ekspresi. Tapi itu tidak bertahan lama, sampai akhirnya mata ibu angkatnya jadi berkaca-kaca.
“Simpan itu buat kamu nak. Buat tabungan kamu. Ibu boleh minta satu hal?”
“Apa bu?”
“Boleh ya Ibu pajang piala itu di ruang depan? Itu piala pertama di rumah ini.”

-Al Muh-

Anggi dan Catur Anggi dan Catur Reviewed by Al Muh on 11.31.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.