Zahra Ada di Demak

       Siapa yang menyangka kisahya bakal jadi seperti ini. Wanita yang aku cintai dan ingin ku nikahi ternyata memilih pria lain yang menurutnya jauh lebih baik dari pada aku. Entah dari segi apa? Tapi sejauh ini aku sadar diri karena aku memang tidak punya apa-apa. Sedang banyak bersabar dalam berusaha menggapai kesuksesan yang belum datang. Ah, mungkin memang belum waktunya saja.
Galau tiada henti hingga akhirnya aku jatuh sakit. Aku dirawat beberapa hari di rumah sakit. Tapi seiring berjalannya waktu aku sadar ternyata itu sangat bodoh. Aku pikir: ‘Hei, dunia ini sangat luas, dan menunggu untuk dijelajahi, rugi sekali jika ku habiskan waktu hidupku untuk bergalau’.

     Setelah kesehatanku pulih, aku mulai penjelajahan pertama ku dengan sebuah wisata religi ke Demak. Sejak kecil aku ingin sekali berkunjung ke kota santri ini. Sebuah kota yang menjadi titik awal penyebaran islam di pulau Jawa. Kota yang juga terkenal dengan sejarah lahirnya Wali Songo, sebuah dewan dakwah islam terbesar di Nusantara yang mengenalkan nenek moyangku kepada agama tauhid yang begitu indah.

       Senin malam, aku berangkat dari stasiun Pasar Senen menuju Semarang. Perjalan ditempuh kurang lebih 7 jam. Kebetulan kereta sedang kosong, tidak terisi penuh. Aku duduk sendiri diantara empat kursi yang saling berhadapan. Aku bersandar ke jendela. Menatap keluar, gelap, hanya ada sekelebat cahaya yang berlalu dengan cepat. Lagi-lagi, ini membuatku ingat kepadanya. Terlalu banyak kisah yang dia tinggalkan. Kini, seolah dia tengah duduk disampingku. ‘Cengeng sekali’. Tapi aku berusaha menguatkan diri, bahwa semua itu telah berlalu. Saatnya aku melangkah dengan kisah lainnya. Kalau dia memang baik, pasti dia tidak akan meninggalkanku. Kalau dia memang Allah ciptakan untuk ku, pasti dia tidak akan meninggalkanku, atau setidaknya dia akan kembali lagi nanti. Aku hanya berdo’a kepada Allah, agar aku diberikan jodoh terbaik untuk menjadi teman menyusuri jalan taqwa, hingga sampai di surga.

    Selasa pagi, aku telah tiba di Semarang. Kemudian aku melanjutkan perjalan ke Demak dengan menggunakan bus antar kota. Untung saja ada sebuah blog yang menceritakan tentang perjalanan ke Demak dengan cukup rinci, aku seperti punya petunjuk yang lengkap untuk sampai di Demak tanpa sedikitpun tersesat.

       Sekitar pukul dua siang, aku telah sampai di pintu gerbang masjid agung Demak. Wih, luar biasa sekali. Ada getaran yang berbeda disini. Seperti aku bisa merasakan bagaimana masa lalu perjuangan para Wali. Seperti aku bisa merasakan bagaimana jika aku berada pada masa itu. Aku pernah memenonton film ‘Sunan Kali Jaga’ yang diperankan oleh Dedi Mizwar. Di awal film itu digambarkan bagaimana pembangunan dari masjid agung Demak ini. Tak henti-hentinya membuat semua orang bertasbih kepada Allah SWT.

       Aku berziarah, bertafakur di dalam masjid yang juga terdapat makam para Wali yang penuh karomah itu. Hati terasa tenang. Lalu aku berkeliling ke semua penjuru komplek masjid Agung Demak. Semua yang kulihat kembali menguatkan hatiku bahwa dunia itu terlalu luas dan istimewa untuk dihabiskan hanya dengan bergalau. Dalam benak ku: ‘Ini baru Demak, sudah sangat luar biasa bagaimana dengan Mekah dan Madinah?’

       Aku memutuskan untuk bermalam di Demak. Mungkin beberapa malam, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kudus, Gresik, Tuban dan lainnya. Rasanya terlalu lelah untuk berjalan mencari penginapan. Mungkin beristirahat sejenak bisa mengembalikan sedikit enerji. Aku duduk di pelataran luar masjid yang tidak terlalu ramai. Tapi di dalam masjid, seolah tidak ada hentinya peziarah melantunkan dzikir dan sholawat. Suasana yang nyaman dan sejuk ternyata membuatku tanpa sadar berbaring hingga akhirnya terlelap. Aku bahkan tidak ingat itu jam berapa. Mungkin sekitar pukul Sembilan malam.

Tiba-tiba terdengar suara orang memanggilku.
“Nak… nak…!”

Untungnya aku bukan tipe orang yang sulit dibangunkan saat tidur. Aku membuka mata dan melihat ada seorang bapak, mungkin usianya sekitar 50 tahun lewat beberapa tahun. Beliau mengenakan peci berwarna putih serta baju salur khas jawa dan sarung kotak-kotak berwarna coklat tua.

“Maaf pak saya ketiduran.” Aku langsung menebak bahwa beliau adalah merbot masjid yang akan meminta ku untuk tidak tidur di areal masjid.
Beliau tersenyum dan berkata tepat seperti dugaanku. “Tidak boleh tidur di areal masjid.”
“Iya, mohon maaf pak Kiyai. Saya ketiduran.” Lalu aku bangun.
“Tak apa. Sepertinya kamu bukan orang sini?”
“Iya. Saya Kair Pak Kiyai, saya dari Bogor.”
“Bogor? Sendirian?” Tanya pak Kiyai sedikit terkejut.
“Iya pak Kiyai.” Jawabku. “Oh ya, mohon maaf saya numpang nanya pak Kiyai, apakah ada penginapan yang terdekat dari sini ya?”
“Hm, ada, tapi, bagaimana kalau menginap di rumah saya saja?”
“Di rumah pak Kiyai? Mau pak Kiyai. Berapa biayanya permalam pak Kiyai?”
“Tidak usah dipikirkan. Anggap saja saya membantu musafir.”
“Wah Alhamdulillah, terima kasih banyak.”
“Ayo, ikut dengan saya.” Ajak pak Kiyai.

        Kami berjalan sampai keluar gerbang areal masjid. Disana banyak tukang becak yang sedang mangkal. Lalu pak Kiyai memanggil tukang becak dan berbicara dalam bahasa Jawa. Kebetulan aku tidak mengerti bahasa Jawa, kalaupun mengerti itu hanya sedikit sekali.

Tukang becak itu lalu memanggil temannya. Mungkin tadi pak Kiyai bilang ke tukang becak itu untuk mengajak temannya karena pak Kiyai tidak seorang diri. Sampai di rumah pak Kiyai sekitar pukul satu dini hari. Perjalannya cukup jauh untuk ukuran berkendara dengan becak. Rumah pak Kiyai berada di pedesaan. Suasananya masih sejuk dan bangunan-bangunannya pun masih bergaya kuno. Rumah-rumah terbuat dari kayu jati dengan berbagai ukiran khas jawa. Dan lagi-lagi aku beruntung karena pak Kiyai juga membayarkan ongkos becak ku.

Rumah pak Kiyai cukup besar dengan halaman sangat luas. Banyak tanaman bunga di pot yang di tempatkan dengan sangat rapi. Ada juga pohon mangga yang cukup besar, pohon rambutan dan beberapa pohon lainnya tidak aku kenali karena diselimuti gelapnya malam. Kami terus berjalan, tapi pak Kiyai tidak membawaku masuk ke rumahnya. Kami berjalan melalui halaman samping rumahnya dan sampailah di halaman belakang. Ternyata di halaman belakang ada sebuah majlis yang cukup besar, terbuat dari bata merah dan kayu jati. Majlis itu bertingkat dua. Kata pak Kiyai di lantai atas adalah tempat istirahat. Pak Kiyai memang sering membantu para musafir yang membutuhkan tempat istirahat.

Lalu Pak Kiyai menuntunku masuk ke dalam majlis dan menuju lantai dua. Luar biasa nyaman sekali. Lantainya terbuat dari kayu jati yang sudah mengkilat secara alami. Ada permadani dan beberapa bantal di pojok-pojok. Semuanya tertata dengan rapi. Ada dispenser air minum di sebelah kiri, dan kotak kecil yang berisi gelas, sendok lengkap dengan teh, kopi dan gula. Tapi tak ada orang lain disini, hanya aku sendiri. Kecuali di bawah, ada beberapa orang yang sedang menunaikan sholat malam dan berdzikir.

“Baiklah. Selamat istirahat nak.” Kata Pak Kiyai sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak Pak Kiyai.”

Aku menaruh tas dan berganti pakaian. Tempat ini sangat nyaman sekali meski tanpa kasur. Tak terasa aku sudah terlalap. Aku hanya tidur dari jam setengah dua pagi sampai jam empat pagi, tapi tidurku sangat berkualitas, jadi saat bangun aku merasa seluruh badanku sudah segar kembali.

       Jam empat pagi, majlis di bawah sudah ramai oleh warga sekitar yang hendak berjamaah sholat shubuh. Mereka rata-rata adalah orang tua, sebagian besar malah memasuki usia udzu. Lalu dimana para anak muda menunaikan sholat shubuhnya? Suara lantunan ayat alquran ramai seperti saling bersahutan. Menambah kedamaian dalam hati. Tapi tidak ada pengeras suara (speaker) di majlis. Jadi hanya ada suara alami kiroah melantunkan ayat demi ayat dengan lantang dan merdu.

Usai berjamaah subuh aku berbincang-bincang dengan pak Kiyai dan beberapa warga yang usianya sepantaran dengan pak Kiyai. Tapi mereka lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, jadi, ya, aku hanya ikut-ikutan.

Tengah asyik berbincang tiba-tiba datang seorang gadis yang luar biasa cantiknya membawa makanan untuk kami sarapan. Dia mengenakan busana muslim berwarna merah cerah dengan rapi serta syar’i. Maaf aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata dalam cerita ini, karena dia terlalu indah. (Tapi aku memberikan illustrasi untuk gambaran gadis itu). Hanya sekitar tiga detik aku melihatnya dan kebetulan dia pun melihat kearahku, lalu kami sama-sama menundukan kepala. Kau tahu, gadis itu, dia… bukan seperti bulan purnama yang indah dipandang. Tapi gadis ini seperti matahari yang sangat menyilaukan, dan kau pasti akan tertunduk melihatnya.

“Dia puteri tunggalku, Zahra.” Kata pak Kiyai. Sepertinya beliau mengetahui bahwa tadi kami tak sengaja saling berpandangan.

       Aku tidak bisa menjawab. Aku takut pak Kiyai marah. Aku hanya tersenyum kepada pak Kiyai dengan rasa tidak enak hati. Usai sarapan, obrolan masih berlanjut. Dengan lebih berbobot seperti kajian rohani tapi santai. Ternyata beberapa warga ini adalah teman pak Kiyai. Ada yang pensiunan TNI, ada yang pensiunan pejabat, ada juga petani, pengusaha. Dan pak Kiyai, selain beliau adalah tokoh agama, ternyata beliau juga adalah pengusaha besar perkebunan cengkeh dan tebu. Sekitar pukul tujuh pagi, teman-teman pak Kiyai pamit undur diri. Sekarang hanya ada aku dan pak Kiyai. Dan akhirnya pak Kiyai mengajakku berkeliling halaman rumahnya yang sangat luas itu.

Beberapa hari kemudian. Aku belum melanjutkan perjalananku menuju Kudus seperti rencana sebelumnya. Karena pak Kiyai meminta aku tinggal lebih lama. Beliau membutuhkan pertolonganku untuk beberapa hal. Mengingat pak Kiyai hanya memiliki satu-satunya anak yaitu Zahra. Sementara pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh anak laki-laki. Jadi aku memutuskan untuk membantu pak Kiyai dulu. Selama hari-hari itu, aku semakin akrab dengan pak Kiyai dan Umi (sebutan untuk istri pak Kiyai). Begitu juga dengan Zahra. Meski hanya saling menyapa saat berpapasan, tapi aku merasa sudah dekat dengan Zahra.
Di suatu malam, usai dzikir jum’at di Masjid Agung Demak.

“Kamu sudah menikah Nak?” Tanya pak Kiyai.
“Belum pak Kiyai.”
“Kenapa, berapa usia mu sekarang?”
“25 pak Kiyai. Belum ada jodohnya pak Kiyai.”

“Zahra sekarang usianya 22 tahun. Sudah banyak yang melamar, tapi belum ada yang berjodoh. Zahra menyerahkan seluruh keputusan keputusan kepada saya. Dia selalu bilang, ‘jika menurut Abi baik, insyaa Allah menurut Zahra juga baik’. Kau tahu Nak, betapa sulitnya memilihkan jodoh anak satu-satunya. Selain karena untuk masa depannya di dunia juga masa depan abadinya di akhirat kelak. Hanya istikhoroh yang bisa saya lakukan meminta petunjuk kepada Gusti Allah.”

“Iya pak Kiyai.” Aku tidak tahu harus menjawab apa? Ya, pasti calon suami Zahra itu harus mapan, ahli agama, lulusan timur tengah dan sebagainya. Aku sih, pasti jauh dari kriteria menantu pak Kiyai.

“Saya selalu berharap menantu saya kelak adalah orang baik, seorang penghafal alquran, dan bersyukur sekali jika dia hafal hadits-hadits juga. Kalau urusan harta itu nomor kekesian. Intinya dia harus bisa membimbing Zahra di jalan Allah dan Rosulullah.”

“Bukankah di Demak banyak santri para penghafal Alquran ya pak Kiyai?”

“Memang banyak. Tapi entah kenapa saya belum merasa cocok dengan semua yang datang melamar Zahra. Salah satu manfaat istikhoroh adalah kemantapan hati untuk memilih. Tapi untuk saat ini saya belum bisa mantap menerima mereka yang melamar Zahra. Terlepas dari itu, mungkin belum waktunya Zahra bertemu jodohnya.”

“Hm, begitu ya pak Kiyai.” Lagi-lagi aku tidak bisa menjawab apa-apa. Tak terbesit sedikitpun untuk menawarkan diri jadi menantu pak Kiyai. Bukan karena pesimis, tapi merasa belum pantas untuk seorang Zahra.

“Kau tahu Nak, selama ini belum pernah saya melihat Zahra terpesona memandang seorang lelaki seperti saat dia memandangmu. Aku sering memergokinya sedang memangdangimu dari kejauhan.”

“Mm… Maksudnya pak Kiyai?”

“Apakah kamu hafal Alquran Nak?”

“Hm… belum pak Kiyai.” Kali ini aku benar-benar tidak bisa menjawab.

“Zahra sudah cukup dewasa untuk berumah tangga. Semoga dia bisa menemukan jodohnya di usia 23 tahun nanti. Kalau kamu bisa menghafalkan Alquran sampai usia Zahra 23 tahun, saya akan menikahkan Zahra kepada mu.”

“A, apa pak Kiyai?”

“Itu artinya 7 bulan lagi. Kau sanggup?” Tanya pak Kiyai.

Aku terdiam sejenak. Tiba-tiba saja jadi keringat dingin.

“I ini bukan masalah sanggup atau tidak sanggup pak Kiyai,” kata ku terbata-bata, "tapi saya ingat apa yang ayah saya bilang, bahwa membaca satu ayat Alquran saja, itu lebih berharga dari pada dunia dan seluruh isinya. Saya hanya takut sekali, saya menghafal Alquran demi untuk menikah dengan puteri pak Kiyai, bukan murni karena Allah. Bukankah itu sangat rugi pak Kiyai? Padahal jika saya menghafal Alquran murni karena Allah, saya bisa mendapatkan ribuan bidadari di surga kelak.”

“Mohon maaf pak Kiyai,” aku menambahkan sambil tersenyum “akan lain halnya jika saya menghafal Alquran setelah saya menikah dengan Zahra, niat saya pun insyaa Allah lurus karena Allah. Dan hafalan saya itu akan terdedikasikan atas rasa syukur kepada Allah karena telah memberikan istri yang cantik serta sholehah.”

(Kata-kata ku yang terakhir itu sebetulnya bukan sebuah modus terselubung untuk mengajukan diri menikahi Zahra. Itu keluar begitu saja untuk perbandingan kata-kata saya yang pertama). 

Pak Kiyai terdiam dan menunduk. Terdengar perlahan beliau mengucapkan kalimat istigfar dengan nada sumbang. Kemudian pak Kiyai menatap ke arahku, beliau meneteskan air mata. Aku terkejut dan seketika merasa pasti ada yang salah dengan kata-kata ku tadi. Aku meminta maaf atas kelancanganku. Pak Kiyai tetap meneteskan air mata. Tapi sekarang dia malah tersenyum. Aku tidak tahu kenapa dia tersenyum, padahal dia sedang menangis.

“Ternyata selama ini saya telah melakukan kesalahan…” kata pak Kiyai.
“Maafkan atas kelancangan saya pak Kiyai.” Aku merintih.

“Tidak, kamu tidak salah apa-apa Nak. Justeru kamu telah menyadarkan saya atas kesalahan saya selama ini. Saya sudah yakin dan mantap sekarang.” Ujar pak Kiyai.

“Yakin untuk apa pak Kiyai?”
“Saya sangat yakin untuk menikahkan Zahra kepadamu.”

“Masyaa Allah pak Kiyai. Tidak mungkin pak Kiyai, pak Kiyai pasti salah. Saya ini tidak hafal Alquran pak Kiyai, tidaklah pantas saya menjadi imam bagi Zahra.”

“Maka, kau akan menghafalkan Alquran setelah menikah dengan Zahra nanti.”

***
       Tiga hari setelah percakapan malam itu. Aku menikah dengan Zahra. Aku seperti mimpi bisa menikah dengan seorang Zahra. Atau seperti tertimpa durian runtuh. Berapa banyak santri dan pengusaha yang patah hati dengan pernikahan ini.

      Keluarga ku di Bogor (Ayah, ibu, adik-adikku dan beberapa Uwak) datang ke Demak untuk menghadiri pernikahanku. Ini adalah pernikahan pertama di keluaga ku, karena aku adalah anak pertama. Kau boleh bilang ini terkesan mendadak dan kurang pertimbangan serta perhitungan. Tapi ini lebih baik dari pada berbuat dosa dengan berlama-lama pacaran sebagai alasan untuk saling mengenal lebih jauh satu-sama lain.

     Hari-hariku setelah menikah dengan Zahra dihabiskan dengan pacaran yang halal. Indah sekali. Dan tentunya belajar menghafal Alquran setiap waktu. Aku bekerja membantu mengawasi perkebunan cengkeh dan tebu milih pak Kiyai yang sekarang telah menjadi mertuaku. Satu tahun berlalu, berkat bantuan Zahra aku berhasil menghafalkan 20 juz. Alhamdulillah segala puji bagi Allah ku.

     Setiap akhir pekan aku dan istriku tercinta berjalan-jalan keliling Indonesia. Sekali-kali diselingi perjalanan ke luar negeri. Bulan lalu aku baru saja pulang umroh bersama pak Kiyai, Umi dan istri ku Zahra. Insyaa Allah bulan depan aku akan mengajak bapak dan ibu ku umroh juga. 

      Kata pak Kiyai, sejak kecil Zahra jarang sekali jalan-jalan karena Zahra adalah anak pingitan. (Lain halnya denganku, aku jarang jalan-jalan karena harus menabung dulu berbulan-bulan untuk biaya jalan-jalan). Dan sekarang pak Kiyai memintaku mengajak Zahra jalan-jalan kemana saja dia mau, sebagai janji beliau dulu kepada Zahra (‘Zahra boleh jalan-jalan kemana saja tapi nanti setelah Zahra punya suami’). Aku juga tidak perlu memikirkan biaya jalan-jalan lagi, karena upah ku bekerja membantu pak Kiyai mengawasi perkebunan, itu sudah lebih dari cukup. Dan sebetulnya perkebunan itu juga sudah di wariskan sepenuhnya kepada Zahra, istriku tercinta.

- Al Muh-
Zahra Ada di Demak Zahra Ada di Demak Reviewed by Al Muh on 22.26.00 Rating: 5

2 komentar:

  1. ciee... ALHAMDULILLAHH ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih tlah berkunjung dan menyempatkan menulis komentar :)

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.