Kisah Temen yang Pacaran Setelah Nikah [True Story]

Pertengahan tahun 2014 lalu, saya pindah kerja ke sebuah lembaga sekaligus organisasi. Seperti halnya karyawan baru, saya masuk ke dalam kantor lalu bingung harus ke ruangan mana. Sementara supervisor saya belum hadir, maklum anak baru jadi datang pagi banget. Baru ada seorang office boy yang sedang bebenah ruangan.

Sambil menunggu, saya duduk dan membaca koran di lobi. Lalu ada seseorang menghampiri saya, masih muda, sepertinya tidak beda jauh dengan saya.

"Karyawan baru, ya?" Dia menyapa.
"Oh iya, Mas."
"Tim Mas Robi? Saya Akbar, tim Mas Robi juga." Katanya memperkenalkan diri dengan ramah.
"Iya mas. Saya Khair." Saya masih malu-malu.
"Yuk kita keruangan." Ajaknya. "Mas Robi sudah bilang kalau ada karyawan baru langsung ajak aja ke ruangan kerja."
"Oh gitu ya, Mas. Baik, Mas."

Meskipun saya tipe orang yang pemalu, tapi saya tipe orang yang mudah bergaul. Tidak butuh waktu lama, beberapa hari saja saya sudah bisa langsung beradaptasi dengan tim baru saya ini. Terutama dengan Mas Akbar yang kebetulan satu hobi yaitu tidak merokok, alkohol apa lagi obat-obatan.

Waktu terus berlalu kini saya sudah dua bulan bekerja.
Saya semakin mengenal sosok Mas Akbar seperti Kakak saya sendiri. Dia sering bercerita dan memberikan masukan kepada saya. Ternyata sebelum bekerja disini, dia adalah guru di sebuah Madrasah Ibtidaiyah. Pantas saja dia begitu luar biasa. Sholatnya rajin sekali, yang wajib maupun sunah dia lahap semua. Apa lagi sholat dhuha, katanya itu sudah jadi favorit dia.

"Ente sudah menikah?" Tanya Mas Akbar.
"Wah belum mas. Hehe..."
"Segerakan, tapi nanti pasti nyesel, ana juga nyesel." Kata mas Akbar. "Nyesal kenapa gak dari dulu nikah, hehe."
"Insyaa Allah mas do'anya saja, Hehe..."
"Tapi ente udah punya pacar?"
"Pacar mah punya mas."
"Jangan lama-lama pacaran, nanti bahaya. Ana juga dulu pacaran, tapi bener kata guru ana, pacaran itu ladang dosa dan ladang sakit hati."
"Betul, Mas, sepakat untuk itu. Tapi kadang ngerasa kesepian mas kalau gak punya pacar hehe..."

"Ana dulu pacaran, waktu itu ana masih kerja di Karawang, masih seusia ente sekarang kira-kira. Lagi labil-labilnya. Sudah beberapa tahun pacaran, terus ana ngelamar pacar ana itu. Udah nentuin tanggal juga, pokoknya udah siap semuanya deh. Tapi gak disangka-sangka, pacar ana malah menghilang gak tahu kemana. Gak ada kabar lagi."

"Waduh, terus gimana, mas Akbar?"

"Setelah beberapa bulan orang tuanya baru bilang kalau puterinya itu sudah menikah dengan pria lain." Sambung mas Akbar. "Ana sedih banget, kecewa banget. Ana gak nyangka pacar ana sejahat itu sama ana. Tapi mau gimana lagi, mungkin ini teguran dari Allah, karena ana udah ngelanggar omongan guru ana untuk tidak pacaran. Memang bukan jodoh juga kali sama dia."

"Mulai saat itu ana taubat untuk pacaran lagi. Ana berangkat lagi ke pesantren. Jadi santri lagi. Ana cerita sama guru ana, beliau bilang 'jadikan itu pelajaran yang berharga'. Lalu beliau ngasih wejangan sama ana untuk membaca Quran surat Muhammad setiap habis sholat jum'at. Insyaa Allah, barokahnya, Allah akan memberikan jodoh yang terbaik buat kamu. Katanya dengan mendawamkan surat muhammad itu, kita bisa mendapatkan jodoh wanita yang baik atau cantik atau kaya atau ketiganya itu."

"Terus sekarang mas Akbar sudah menikah?" Saya jadi penasaran karena terbawa cerita.

"Alhamdulillah, berkat doa guru dan barokahnya membaca surat Muhammad, sekarang ana sudah mendapatkan jodoh yang baik, cantik dan kaya." Kata Mas Akbar sambil tersenyum.

"Masyaa Allah, luar biasa sekali mas."

"Jodoh yang tak disangka-sangka." Mas Akbar tersenyum lagi.
"Ana gak nyangka sama sekali akan mendapatkan wanita yang begitu indah." Lanjut Mas Akbar. "Waktu itu ana lagi di pesantren. Tiba-tiba Abi ana minta ditemenin ke Samarinda. Ya, nganter orang tua sekalian refreshing pikir ana hehe...

Meski ana gak tahu orang tua ana ada keperluan apa ke Samarinda. Akhirnya ana berangkat. Waktu itu hari rabu malam, ana naik pesawat sampai di samarinda tengah malam dan langsung menuju ke rumah temennya Abi ana.

Belum bisa menikmati suasana Samarinda, ana langsung istirahat aja tuh. Sementara Abi ana, ngobrol sama temennya sampai larut, beliau ustadz di sini. Namanya Ustadz Abdullah.

Paginya, ana sama Abi dan ustadz Abdullah ngobrol-ngobrol. Ngobrolin apa aja yang bisa diobrolin deh itu. Istrinya ustadz Abdullah nemuin sebentar terus dia balik lagi ke dapur.

Illustrasi Fatimah (Citra Kirana)


Sekitar jam 7 pagi, istri pak ustadz bawain makanan buat sarapan. Tapi kali ini dia gak sendirian. Dia sama perempuan cantik banget. Ana sampai gak berani memandangnya.

'Itu Fatimah, puteri saya' Kata pak Ustadz memperkenalkan. 'Nah, Fatimah, ini Akbar, puteranya bapak Kholil temen Abi di Jakarta dulu.'

Fatimahnya cuma ngangguk sambil senyum dan ngelihat ke arah ana sebentar. Terus dia balik lagi ke dapur sama uminya.

Singkat cerita, abis makan ana diajak keliling-keliling dulu sama pak Ustadz. Sampai waktu dzuhur, dan keajaiban Allah terjadi setelah sholat dzuhur.

Tiba-tiba pak Ustadz nanya; Kamu mau kalau dinikahkan sama puteri saya Bar?
Masyaa Allah, ana deg-degan banget pas denger itu, sampai bingung mau jawab apa. Siapa sih yang gak mau kalau dinikahkan sama Fatimah. Dia cantik banget dan keliatannya memang sosok yang sholehah.

Ana cuma nunduk aja tuh waktu itu. Terus pak ustadz manggil puterinya.
Ditanya dengan pertanyaan yang sama. 'Fatimah mau kalau Abi nikahkan sama nak Akbar?'

Hehe Fatimahnya diem juga, senyum-senyum kecil doang, mukanya jadi merah. Gak lama dia baru jawab; Insyaa Allah Bi, kalau menurut Abi baik, Imah bersedia.

Sumpah denger jawaban Fatimah, ana kayak mau terbang tuh kalau ana bisa. Seneng girang setengah mati.
Terus uminya Fatimah nyamperin.

Allahu Akbar! kamis malamnya, ana dinikahkan sama puteri beliau. Gak pakai resepsi, cuma akad dengan mas kawin cincin yang dibeli dadakan, dan selametan aja sama kerabatnya pak ustadz, para santri dan tetangga. Umi ana di Jakarta dikabarin lewat telpon sama abi ana.

Pas malam jum'at, pas banget malam pertama ana sama dia. Ana sama dia kikuk banget. Bingung mau ngapain. Akhirnya kenalan dan ngobrol-ngobrol malu-malu. Bener-bener malam pertama, malam pertama kenal, malam pertama ketemu, malam pertama nikah, dan lainnya deh, Hehe... 

Ana gak ceritain ya kelanjutan malam pertamanya. Biar nanti ente ngalamin aja sendiri hehe..."

"Wahaha mas Akbar, Masyaa Allah luar biasa sekali mas. Ana baru denger kisah semacam ini. Terus gimana tuh Mas?"

"Gimana apanya? Hehe..."

"Abinya Mas Akbar Hehe..."

"Abi pulang jum'at pagi. Tapi ana bertahan di Samarinda sampai satu minggu. Terus ana ajak ke Jakarta tuh istri ana. Sebenernya Abinya istri ana belum siap anaknya dibawa ke Jakarta, tapi akhirnya rela juga. Maklum Fatimah ini anak satu-satunya.

Sekarang ana sudah satu tahun menikah, istri ana lagi hamil. Luar biasa banget PeDeKaTe setelah nikah, terus pacaran, jadi kayak gak ada bosen-bosennya. Kerja jadi semangat, tapi bawaanya pengen cepet pulang mulu hehe...

Kalau lagi kepikiran kok bisa ya, dari gak kenal sama sekali tiba-tiba nikah, hidup bersama, satu rumah. Secara pandangan biasa memang kita belum mengenal satu sama lain, riskan untuk terjadi perpecahan setelah saling tahu sifat dan karakter aslinya. Tapi kalau nikahnya karena Allah dan sama-sama saling memahami peran masing-masing dengan koridor agama, ternyata semua jadi terasa fantastis banget."

Begitu kisah temen saya Mas Akbar.
Setelah mas Akbar resign dari kantor, saya jarang bertemu sama dia lagi. Tapi kabar terakhir dia sudah punya anak sekarang. Sudah umroh bareng juga. Mas Akbar lanjut ngajar di madrasah punya temennya. Dia diberikan amanah buat jadi kepala sekolah madrasah itu. Allahu Akbar.


-Al Muh-

Kisah Temen yang Pacaran Setelah Nikah [True Story] Kisah Temen yang Pacaran Setelah Nikah [True Story] Reviewed by Al Muh on 12.24.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.