Mampus Kau Dalam Keraguan

Aku adalah seorang Pluviophile. Kau tahu? Hujan selalu membuatku merasa tenang dan nyaman. Apa lagi kalau hujan di malam hari, tak akan ku jual kenyamanannya berapa pun harga yang kau tawarkan.

Source://infounik.org
Tapi, sepertinya penyakit pecinta hujanku itu tidak berfungsi untuk malam ini. Hujan mengguyur dengan sangat lebat membuatku resah, sampai-sampai aku tidak bisa tidur. Berkali-kali aku terbangun dari tempat tidur dan mengintip keluar jendala, berharap hujan segera berhenti atau setidaknya sudah tidak terlalu lebat. Tak biasanya aku seperti ini, harusnya aku bisa tidur dengan nyaman, ini hujanku.

Aku kembali ke tempat tidur. Saat aku baru saja menarik selimut, seseorang dalam kepalaku berkata: ‘Kamu harus menelpon Kepala Desa, Muh.’

Aku terbangun, meyingkirkan selimut dan melirik handphoneku di meja samping tempat tidur. aku mengambilnya, terlihat jam pada layar handphoneku, pukul 23:30.

Seseorang yang lain di kepalaku, berteriak, ‘Jangan Muh! Tidak sopan menelpon Kepala Desa tengah malam begini’.

‘Ini menyangkut nyawa orang banyak Muh, kamu harus menelponnya!’ Seseorang yang pertama tadi mencoba meyakinkanku untuk tetap menelpon Kepala Desa.

‘Keresahanmu malam ini karena kamu terlalu lelah bekerja seharian, kawan. Istirahatlah.’ Seseorang yang lain itu tetap tidak mengizinkanku menelpon.

‘Kau akan menyesal seumur hidup jika kau tidak menelpon Kepala Desa malam ini.’ Menyusul seseorang yang pertama dengan tegas.

‘Sudahlah, aku bantu kau menarik selimutmu, beristirahatlah, ini hujanmu, kesukaanmu.’ Bujuk seseorang yang lain.

Source://antara
Akhirnya aku menurut dengan seseorang yang lain itu. Dia benar, mungkin aku hanya terlalu lelah bekerja sebagai buruh tambang pasir di lembah selatan desa. Dan yang ku lihat tadi siang, hanya sebuah retakan kecil tanah, mungkin tak akan jadi masalah. Sebaiknya aku istirahat, agar besok bisa lebih segar.

Rasanya belum lama aku memejamkan mata, tiba-tiba terdengar banyak jaritan di luar. Ramai, diiringi dengan kentongan. Tapi aku enggan menggubrisnya.

Kemudian ada suara lagi di kepala ku dengan nada memaksa: ‘Muh, bangun!’

Setengah sadar aku menjawab, “Sudahlah, kalian jangan ganggu aku lagi. Aku mau istirahat.”

‘Muh, kamu harus bangun.’ Suara itu lagi lebih memaksa.

Aku tidak menjawab, hingga beberapa saat aku baru sadar ternyata itu bukan seseorang yang ada di kepalaku, tapi itu adalah suara ibu ku.

“Ada apa bu, memangnya sudah subuh?”

Ibu menangis. “Desa di selatan longsor Muh, semuanya orang rata dengan tanah.”

Lalu terdengar suara seseorang itu lagi di kepala ku. ‘Rasakan! Mampus kau dalam keraguan. Bukankah lebih baik salah dalam bertindak dari pada salah dalam keraguan?’

Mampus Kau Dalam Keraguan Mampus Kau Dalam Keraguan Reviewed by Al Muh on 19.11.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.