Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 4 : Guru Serba Bisa)

Sekitar dua tahun sebelum kejadian pagar haram.

Pertama kali masuk ke Smancis, kami mengenal sesosok guru yang sangat luar biasa. Gue rasa, beliau adalah guru yang paling cerdas yang pernah gue gurui. Beliau mampu menguasai semua mata pelajaran, mulai dari matematika, fisika, kimia, biologi, agama dan lainnya. Padahal beliau adalah sarjana Ekonomi. Mungkin yang tidak dia kuasai adalah mata pelajaran olahraga. Cuma pak Watno kayaknya yang cocok untuk mata pelajaran itu Hehe...
Beliau adalah salah satu dari dua guru yang jadi pelopor di Smancis, seperti yang pernah gue ceritakan di part sebelumnya. Selain jadi guru, beliau juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah bagian kurikulum.

Beliau pernah bercerita: agak kaget saat dapat SK (Surat Keputusan) dari Dinas Pendidikan Pemda Bogor untuk mengajar di sebuah sekolah bernama SMA Negeri 1 Ciseeng. Beliau mulai mencari tahu tentang SMA Negeri 1 Ciseeng itu seperti apa. Termasuk mengunjungi langsung lokasinya yang saat itu (2006) akan ditumpangkan di gedung SMP Negeri 1 Ciseeng. Beliau juga melakukan riset tentang karakteristik masyarakat di daerah Ciseeng ini. Beliau menemukan hasil yang cukup membuat ayam bengong dan mati. Ternyata masyarakat sekitar SMA Ciseeng terkenal keras dan arogan. Mereka tak segan-segan menyerang sekolah dengan satu truk masa yang bersenjatakan golok, parang, garpu, cangkul, obor, (Hehe kayak di film Spongebob) jika anak mereka "disakiti" oleh guru di sekolah. Kalau zaman sekarang, murid "disakiti" sama gurunya, gurunya langsung dilaporin ke polisi dan dipenjara. Hah, entah sampai kapan gelantika pendidikan Indonesia akan diwarnai dengan egoisme.

Banyak kata-kata beliau yang gue ingat walau sedikit, bahwa beliau ingin merubah pola pikir anak didiknya serta masyarakat sekitar. Agar masyarakat bisa berpikir dengan pola berpikir masyarakat maju. Tapi itu tidak mudah. Banyak cerita yang terjadi dari perjuangan itu. Nanti gue ceritain.

Source://money.id
Beliau juga terkenal dengan guru yang 80% ceramah, 20% ngebahas mata pelajaranya. Bagi gue dan teman-teman itu sangat membosankan. Dimana kami setiap hari diceramahi oleh beliau tentang pola pikir. Guru di SMA Ciseeng saat itu masih sedikit, kalau ada guru yang tidak masuk pasti beliau yang gantikan. Jadi bisa dipastikan setiap hari, setidaknya 60% waktu dikelas, beliau yang isi. Bahkan bisa mencapai 100%.

Beliau itu suka bilang: Bahwa pelajaran sekolah itu gampang dipelajari kalau pola pikir kalian sudah berubah. Matematika, Fisika, Kimia, itu pasti akan kalian lahap semua kalau kalian sudah sadar dan berpikir dengan pola yang benar. Makanya saya lebih banyak ceramah tentang pola pikir dari pada belajar ini (kata beliau sambil mengangkat buku paket Fisika yang tebal).

Sayangnya waktu itu gue belum ngerti apa itu pola pikir, jadi sebetapa seringpun dia ceramah tentang pola pikir, ya tetep aja gak masuk ke otak gue. Terus terang, gue baru sadar dan mengerti fungsi pola pikir yang selalu beliau orasikan, itu saat gue di bangku kuliah. Gue mengenalnya dengan sebutan cara berpikir (CaBe). Dari situlah otak gue mulai mengumpulkan serabut-serabut ceramah yang pernah gue dapatkan dari beliau saat SMA. Gue merangkainya lagi dan jadilah sebuah impian serta strategi yang gue susun untuk mencapai masa depan gue. Gue seolah bertransformasi jadi diri yang baru, meski kadang diri gue yang lama dengan pola pikir yang lama selalu muncul lagi. Gue anggap itu sebagai gajlugan di jalan menuju kesuksesan. 
Dok. Pribadi, foto saat wisuda angkatan II Smancis

Beliau punya seorang anak angkat, yang beliau daftarkan untuk menjadi siswa di Smancis, Anto Wijaya namanya. Meski awalnya si Anto ini bertingkah songong, sok pinter, sok tahu, sok iyeh, tapi lama-lama ternyata dia bisa jadi temen yang asyik dan solid juga. Malah jadi sangat karib sampai lulus. Songongnya sih gak terlalu masalah buat gue, yang jadi masalah adalah gantengnya itu lho, jadinya cewek-cewek di sekolah pada ngelirik dia semua. Gue yang punya tampang pas-pasan jadi kayak gelap di mata cewek-cewek, gak kelihatan. Haha...

Dan nyatanya, beliau punya banyak anak angkat selain si Anto. Satu lagi namanya Boy Sandi, dia pindah ke Smancis di pertengahan musim semester 1 di kelas 10. Katanya si Boy ini dari sekolah unggulan yang ada di Cibinong, memutuskan pindah ke Smancis untuk ikut beliau. Si Boy berbanding terbalik sama si Anto, dia lebih pendiam. Jadi butuh waktu agak lama untuk beradapsi dengan kami. Si Boy, juga juga ganteng. Maka tamatlah riwayat kami para pemuda bertampang pas-pasan di mata cewek Smancis :D Sisi baiknya, kehadiran mereka memberikan warna baru dalam kanvas kisah klasik kami di Smancis.

Bersambung lagi,
Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 4 : Guru Serba Bisa) Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 4 : Guru Serba Bisa) Reviewed by Al Muh on 11.08.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.