Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 3 : PKLH)

Bukankah bapak bangsa kita, Soekarno, pernah berpesan JASMERAH? Jangan Sampai Melupakan Sejarah. Kalau begitu, mari melanjutkan menulis kisah di masa lalu.

Lupa, itu hari apa, yang jelas pak Watno (nama disamarkan), guru olahraga meminta kami untuk membantu proses pembuatan lapangan voli. Beberapa hari lalu, sekolah kami mendapat bantuan perlengkapan olahraga berupa bola basket, bola sepak, bola voli besarta netnya. Lalu kami bergotong royong merapikan halaman sekolah yang cukup luas itu. Kami mengukurnya dengan tali rapia, mengotakkan dengan sempurna sesuai ukuran lapangan voli yang ada di dalam buku Penjaskes. Wah, gue gak bisa ungkapkan dengan kata-kata gimana keseruannya gotong royong itu. Mungkin seperti kita bisa tertawa lepas saat bekerja, seperti kita tidak merasa ada beban saat mengangkat cangkul dan menghantamkannya ke tanah dengan kekuatan penuh.

Lapangan sudah siap, kami sedikit bengong, sepertinya tidak ada cukup dana untuk membeli besi sebagai tiang net voli. Kami juga tak bisa bersabar kalau harus menunggu bantuan selanjutnya untuk membeli tiang. Pasti akan berbulan-bulan lamanya. Lalu pak Watno meminta kami membeli bambu besar sebagai pengganti tiang besi. Ide yang cukup bagus, toh di kampung kami ini harga bambu masih murah. Tinggal beli dua batang bambu, lalu pilih bagian yang paling lurus dan memotongnya sesuai ukuran. 

Andri merekomendasikan membeli bambu di kebun saudaranya, tidak terlalu jauh dari sekolah. Kata Andri, mungkin kita bisa dapat setengah harga dari saudaranya itu, tapi, bambunya tebang sendiri dan gotong sendiri. Bagi gue dan teman-teman itu bukan masalah. Kami semua anak desa (kecuali Anto), sudah terlatih dalam urusan tebang-menebang dan gotong-menggotong.

Keesokan harinya, sepulang sekolah kami berangkat ke kebun saudaranya Andri. Sebut saja namanya mang Jahinan. Tapi sebelum ke kebun, kami mampir dulu ke rumah mang Jahinan meminta izin, sekaligus minjam golok untuk nebang bambunya. Mang Jahinan begitu ramah, beliau mengantar kami dalam proses penebangan pohon. Mungkin beliau khawatir juga sama kami, atau khawatir sama kebun bambunya kalau-kalau kami salah menebang. Di desa kami, mungkin juga di berbagai daerah lain di indonesia, menebang bambu tidak boleh sembarangan. Harus memperhatikan usia bambu, hari penebangan dan hal lain yang sarat dengan mitos. Katanya kalau salah menebang, bambunya bisa pundung (Marah/Ngambek) hingga bambu lain yang tidak ditebang akan jadi jelek kualitasnya. Kami sih kurang paham sama yang begituan, tapi Kakek gue pernah cerita kayak gitu juga. Kalau gue boleh nebak, selaku penyuka pelajaran Biologi, mungkin itu akibat ada sebuah rantai biologis yang terputus. Sama halnya dengan kita mematahkan bunga, pada sebuah tanaman rambutan misalnya, dengan kita mematahkan bunga itu akan mengakibatkan si pohon rambutan tidak bisa melakukan penyerbukan. (Itu sih cuma tebakan gue hehe).

Bambu sudah kami tebang (Sebetulnya mang Jahinan yang menebang, katanya cara menebang kami ga bagus, bisa membahayakan). Kalau gak salah, waktu itu yang ikut ke kebun: Gue sama Andri, Amir, Anto, Ntris dan Musliya. Gue gak inget persis waktu itu, Aris ikut juga atau nggak. Kayaknya sih dia lebih milih nunggu di kelas sama Galuh dan beberapa anak cewek. Anak kelas tiga gak bisa ikut bantuin karena mereka lagi sibuk-sibuknya ikut less buat persiapan UN (FYI: Kami masih kelas 2). Kami membawa bambu itu, pas, satu bambu kami pikul bertiga. Tapi di luar dugaan, ternyata bambu betung itu berat banget. Meski dipikul bertiga, tetap saja pundak serta leher kami terasa sakit. Untungnya lokasi kebun gak terlalu jauh, jadi kurang dari setengah jam, kami sudah sampai di sekolah. Padahal waktu tempuh normal ke kebun itu, tanpa ada beban bambu, cuma 10 menit. Kabar buruknya adalah kami sudah ke habisan tenaga, jadi hari itu kami cuma mengukur bagian yang akan dipotong untuk tiang voli. Lalu kami sepakat, melanjutkan proses  lainnya besok saja.

Hebat kan? Kami, waktu itu mendirikan lapangan secara bersama-sama, bergotong royong. Kalian, adik-adik kelas, sekarang sekolahan sudah memberikan kalian berbagai fasilitas olahraga. Tinggal pakai, kalian gak perlu repot-repot lagi membuat, meski kalian juga masih punya tugas berat, yaitu menjaganya.

Pagi yang cerah, dengan semangatnya kami pergi ke sekolah. Hari ini gue sedikit berbeda dari biasa saat berangkat, seperti mau tauran, soalnya gue bawa gergaji buat eksekusi si bambu, temen-temen gue ada yang bawa golok dan perkakas lainnya. Sepertinya kami lebih semangat menanti bel pulang, padahal bel masuk saja belum dibunyikan. Pasti karena kami ingin segera melanjutkan pembuatan lapangan voli yang tertunda. Tak sabar kami ingin main voli.

Akhirnya bel pulang yang ditunggu-tunggu itu bersuara juga. Seolah berteriak memanggil kami "Ayo bro, kita lanjutkan gotong-royongnya". Kami langsung bersiap memotong bambu itu, untuk kemudian menancapkannya di tepian kiri dan kanan lapangan. Kami mengukur ulang, setalah kami ukur dengan teliti, rupanya banyak sisa potongan bambu. Yang terpakai untuk tiang hanya setengahnya dari setiap batang bambu. Sayang sekali jika dibuang. Waktu itu bertepatan juga dengan pekan tugas PKLH, membuat taman di depan kelas masing-masing. Kami pikir kebetulan sekali, kami butuh bambu buat bikin pagar halaman kelas kami.

Kami menemui pak Watno untuk meminta izin, sisa bambunya akan kami buat pagar kecil untuk di depan kelas. Melindungi tanaman-tanaman kecil kami yang baru kami tanam. Kami ingat betul permohonan izin itu, dan pak Watno pun sudah mengizinkannya. Lagi pula pagarnya untuk di sekolah, bukan untuk pribadi kami. Tapi rupanya dari sinilah awal semula kisah pagar haram itu. Mungkin karena perbedaan sudut pandang atau mungkin juga karena sebuah ego, yang jelas kisah ini membekas di hati kami. Sebagian dari kami ada yang mengambil hikmah dari kisah ini agar berhati-hati dalam bertindak, sebagian lagi ada yang mengambil dendam. Sebaiknya gue lanjut kisah detilnya di part berikutnya. :)

Bersambung...
Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 3 : PKLH) Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 3 : PKLH) Reviewed by Al Muh on 13.34.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.