Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 2 : Personel)

Masih tentang SMA Ciseeng tercinta dengan "Pagar Haram" nya.

Sayangnya pada zaman gue sekolah itu masih kuper dan jadul banget, meski di luar sana sudah canggih, komputer sudah memasuki generasi core i3, handphone sudah berkamera dengan sistem operasi symbian yang paling canggih (belum ada Android waktu itu), tapi itu tidak berlaku buat gue dan temen-temen. Hanya sebagian kecil orang yang sudah mengenal perangkat komputer dengan baik, dan hanya beberapa orang saja yang sudah memiliki handphone berkamera.  Itu juga kameranya masih beresulusi VGA, paling tinggi 2.0 Mega Pixel. Itu udah dianggap anak paling kaya. Apa lagi kamera profesional, beuhh itu langka banget. Alhasil sekarang gue gak punya dokumentasi semasa gue SMA, hanya ada di dalam otak saja kenangannya. Gak kayak anak sekolah zaman sekarang, hidupnya semua di dokumentasiin mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mungkin mereka akan berhenti foto-foto saat mereka tidur dan gak bangun lagi :D .

Ada sih beberapa foto dokumentasi, tapi ya begitulah kualitasnya (padahal paling canggih di zamannya).

Dok. Pribadi
Foto ini diambil di belakang sekolah. Kebiasaan kami memang selalu berkumpul dibelakang sekolah saat istirahat maupun pulang sekolah. Di belakang sekolah kami, ada sekolah SDN Kamulyaan. Itu sebenernya tempat gue sekolah SD juga. Haha... Bukan cuma gue, tapi ibu gue, uwak gue juga pada sekolah di SD itu. Kalau orang sunda bilang gue itu kurung batok, atau Lele sumur alias KuPer (Kurang Pergaulan). Gue sekolah SD deket rumah, SMP deket rumah, SMA juga deket rumah. Satu sisi bersyukur sih karena gue gak butuh ongkos sekolah. Tapi sisi lain, kayaknya gak keren banget kalau sekolah deket rumah. Ngelihat temen sekolah bawa motor itu keren banget. Sampe ngiri gue.

Baiknya gue kenalin orang-orang dalam foto itu. Yang sebelah kiri (dari layar) itu namanya Ntris Suhentris. Temen gue yang satu ini keren banget. Dia sekolah jalan kaki, padahal jarak rumahnya ke sekolah itu kurang-lebih 5 KM. Dia harus jalan kaki dari rumah ke sungai Cisadane terus nyebrang naik getek (perahu dari bambu). Dari sungai, dia masih harus jalan kaki sejauh kurang lebih 3 KM untuk sampai ke sekolah. Luar biasa banget dia. Makanya badannya udah kayak anggota Kopasus. Ditambah lagi dia memang suka pakai sepatu TNI yang gede dan berat banget. Sayangnya si Ntris ini gak suka tawuran. Kalau misalnya dia ikut tawuran, musuhnya bisa pingsan hanya dengan sekali tendangan saja* (*syarat dan ketentuan berlaku).

Muliya
Sebelah kanan yang pakai jaket warna merah itu Ahmad Amirudin biasa dipanggil Endin, dia sepupu gue (Minat? Ping gue ya haha...). Dia ini satu SD sama gue, satu SMP dan finaly dia juga satu SMA sama gue. Hobinya olahraga, terutama Voli sama Basket.

Paling depan pakai baju cokelat itu Musliya,  tapi dia lebih suka dipanggil dengan nama Ocon. Kalau ke sekolah, Ocon ini suka bawa motor RX-King dengan kenalpot kolongnya yang berisik banget. Oconnya masih di depan gang, suara motornya sudah sampai ke kelas haha...

Di tengah, itu Gue. Katanya sih gue itu paling suka pelajaran Fisika sama Biologi waktu itu. Sekarang, gue sukanya nulis. Nulis yang gak jelas kayak gini nih Haha...

Andri
Ini Andri. Selain Ndin sepupu gue tadi, dia ini juga yang dari SD sampai SMA selalu satu sekolah sama gue. Rumahnya juga gak jauh dari rumah gue.
Andri ini adalah ketua OSIS ke dua di Smancis. Ketua OSIS generasi pertamanya adalah Kak Tini (Gue lupa nama lengkapnya siapa).
Ketua OSIS ketiga, diamanatkan kepada Adek gue, namanya Farid setelah mengalahkan lawannya dalam pemilu yaitu Maesaroh. Waktu itu Farid masih kelas 1 sementara Maesaroh itu kelas 2. Ini seperti pertarungan antara anak kelas 1 dan kelas 2. Sayangnya Farid punya backing-an anak kelas 3 yaitu gue. Haha :D
Ketua OSIS yang keempat juga kembali diamanatkan kepada adek gue, Farid. Meski pada pemilu keduanya ini, dia gak dapat backing-an dari gue, karena gue udah lulus. Tapi dia berhasil meraih angka suara tinggi melampaui lawannya. Entah karena kepemimpinan adek gue ini bagus atau gak ada pilihan lain Hahaii...

Kalau saja jabatan ketua OSIS ini adalah sebuah dinasti penguasa, berarti Smancis ini ada dibawah dinasti gue terus. Soalnya, setelah Farid lulus dari Smancis, adek gue satu lagi, Nu'man masuk ke Smancis. Dia ikutan pemilu ketua OSIS dan menang. Mengikuti jejak Farid, adek gue ini karirnya lebih cemerlang, hingga dia kembali menang pada pemilihan ketua OSIS yang kedua kalinya. Luar biasa kan? :D empat periode siswa di kursi nomor satu Smancis itu adek gue. Biarlah gue sombong, toh ini tulisan gue. Semuanya gue tulis dari sudut pandang gue. Jadi kalau ada kesalahanan, mungkin itu hanya karena perbedaan sudut pandang aja. :)

Anto
Anto. Nama lengkapnya Anto Wijaya. Dia anak pindahan dari salah satu SMA di Cibinong. Kehadirannya dielu-elukan oleh para gadis di kelas gue. Gak cuma di kelas gue, di kelas sebelah bahkan juga kakak kelas. Wajar sih, terpaksa gue harus bilang kalau dia memang ganteng kalau dibandingkan sama.... (sudahlah).
Informasi yang terpentingnya adalah: Mungkin kalian tidak tahu, mungkin juga akan banyak yang menyangkal bahwa piala pertama yang berhasil diraih oleh Smancis adalah dari tangan si Anto ini. Waktu itu dia juara satu lomba Cos-play di Cibinong. Meski sebetulnya tidak ada campur tangan pihak sekolah saat dia mengikuti lomba ini, dia berusaha sendiri dari mulai pendaftaran, merakit kostum bahkan sampai lombanya juga. Tapi dia membawa harum nama Smancis di tingkat kabupaten. Sampai masuk ke majalah anak muda kala itu. Banyak yang bertanya-tanya: "Smancis itu sekolah mana?", "Baru ya?", "Kok Gue baru denger sih itu sekolah", dan banyak lagi pertanyaan-pernyataan lainnya.

Aris bersama Anto
Aries Fernandez atau Ariez Sasoriza dan banyak lagi nama samaran si Ariez ini termasuk mungkin Ariez-an-keluarga. Padahal nama aslinya Aris Sanusi :D
Dia adalah play boy cap banteng. Hampir semua cewek dia pacarin, untung kang kebun sekolah bukan cewek, ngeri banget dia pacarin juga.
Dia hobi musik sama si Ocon, kalau di kelas suka bawa gitar dan nyanyi-nyanyi. Gue drummernya pake meja di kelas. Salahnya adalah ruang kelas gue itu bersampingan sama ruang guru yang di skat pakai triplek doang setinggi badan gue. lagi asyik nyanyi, eh dimarah-marahin sama guru. Katanya jangan berisik dan jangan mukul-mukul meja. Ah pak guru kadang suka ganggu kesenangan muridnya. Mungkin dia tidak tahu asyiknya mukul-mukul meja buat jadi drum hehe... Kenakalan masa SMA itu asyik banget kalau dikenang.

Ternyata temen gue banyak banget, ada 22 orang di kelas gue, belum lagi di kelas sebelah. Untuk sementara, ini aja dulu yang gue kenalin, yang lainnya nyusul di part-part berikutnya.

Bersambung... :)

Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 2 : Personel) Tentang SMA Ciseeng Dan Pagar Haram (Part 2 : Personel) Reviewed by Al Muh on 11.25.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.