Daka (Pembukaan)

Akhir pekan.
Setelah melewati hari kerja yang membosankan, mestinya ini jadi agenda hangout untuk mencari keseruan. Mendaki gunung atau outbound misalnya. Tapi sayangnya, tanggal tua ini justeru membuat Daka terjebak di kamarnya.

Daka selalu ingat kata seseorang, tak ada dunia yang lebih luas kecuali dunianya seorang penulis. Jadi meskipun secara fisik dia berada di kamar, tapi jiwanya sedang mengembara ke dunia yang lain. Daka juga memberikan nama untuk kamarnya yaitu Dunia 3x3 Meter.

Sumber://weheartit.com
Berteman dengan sebuah laptop tua, satu rim kertas kuarto, buku catatan, pensil dan pulpen. Rasanya itu sudah cukup untuk membangun sebuah dunia. 

Sejak pagi Daka menulis sebuah cerita, menggambarnya di kertas kuarto untuk lebih meresapi jalan ceritanya.

Ah, ya, sudah pukul 10 pagi. Daka bahkan lupa membuka gorden kamarnya.
Cahaya di luar sana seperti sudah saling berdesakan ingin segera masuk ke dunia 3x3 meternya Daka. Sebagian dari mereka sudah menerobos melalui celah-celah ventilasi membentuk proyeksi gambar di dinding kamar Daka. Saat Daka membuka gorden, dia terkejut. Dia melihat halaman rumahnya berbeda. Biasanya dia hanya melihat rumah para tetangganya yang memadati komplek, tapi kini yang dia lihat adalah hamparan rumput hijau yang berujung pada sebuah jurang. Di bawah jurang itu terlihat pegunungan dengan hutan yang lebat. Burung berterbangan kesana-kemari sambil mengeluarkan suara merdu.

Jelas ini bukan halaman rumahnya. Daka mengucak matanya, memastikan bahwa semua ini bukan salah lihat. Dia memandang keluar beberapa lama. Tapi pemandangan itu tetap ada, membentang menyejukan mata. Berarti ini bukan mimpi, gumam Daka.

Daka keluar kamarnya. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tak ada yang berubah dengan isi rumahnya. Tapi sepi sekali. Dimana ibu dan Adiknya, Vity? Daka berjalan menuju pintu depan. Dia membuka pintu lalu melongokan kepalanya keluar. Mengamati apa yang dia lihat. Pemadangan indah yang sama sekali tidak dia kenali.

Ini dimana?

Perlahan Daka keluar, menuju teras sambil berteriak memanggil.

"Mom, Vity...!" 

Tak ada jawaban. Hening. Hanya terdengar suara hembusan angin sepoy-sepoy menelisik rambut, wajah dan sampai pada telinganya. Sejuk sekali.


Bersambung,
Daka (Pembukaan) Daka (Pembukaan) Reviewed by Al Muh on 13.29.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.