Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 5: Pernah Tawuran)

Siang itu, usai guru jam pelajaran pertama meninggalkan kelas. Sembari menunggu guru jam pelajaran kedua datang, kami mengambil gitar di pojokan ruang kelas. Sengaja ditaruh di pojok soalnya suka ada guru yang iseng, gatel aja kalau lihat gitar, langsung beliau sita. Ujung-ujungnya kami yang harus mengambil ke ruang guru. Itu hal yang paling berat buat kami.

Musilya, memainkan gitar (FYI: soalnya itu gitar punya dia haha), yang lain mukul-mukul meja sebagai drum. Penyanyinya tentu saja siswa-siswi seruangan, kecuali mereka yang gak suka nyanyi, biasanya lebih milih tutup kuping dan pura-pura baca buku. Itu lebih baik dari pada yang gak bisa nyanyi tapi ikut-ikutan nyanyi, mana suaranya sember banget.

Waktu itu lagi musim lagunya J-Rock dan Vagetoz. Si Aries kalau nyanyi bibirnya sampai menyon-menyon. Mungkin maksudnya biar dapet nadanya atau bisa jadi itu bibir emang bawaan lahir. Beda lagi dengan si Amir, kalau udah pegang gitar pasti langsung nyanyi lagu Peter Pan. Dan lagunya... hampir bisa ditebak pasti lagu Jauh Mimpiku. Semoga dugaan gue salah bahwa dia memang bisanya cuma lagu itu Hihi...

Lagi asyik nyanyi bareng tiba-tiba ada yang ngetuk jendela belakang. Kami reflex menoleh, bukan apa-apa, khawatirnya itu guru yang suka nyita gitar. Soalnya pernah, pas kami lagi asyik main gitar, guru itu ngeliatin dari jendela belakang sambil senyum-senyum licik gitu. Untungnya yang ngetuk kali ini bukan guru, tapi si Jali, pentolan SMA. Dari dalam kelas dia hanya terlihat bagian dada sampai kepala saja, persis foto di rapor. Dia mengetuk jendela lagi, memastikan semua perhatian siswa di dalam kelas tertuju padanya. Lalu dia memberikan isyarat yang sudah kami ketahui itu adalah perintah agar kami menemuinya di belakang sekolah.

Sebagian dari kami keluar dan menemui dia, tapi sebagian lainnya memilih untuk tetap di kalas. Sampai di belakang sekolah, ternyata Jali tidak sendirian. Dia bersama teman-teman gengnya. Aries menghampiri duluan.

“Kita mau tawuran nih.” Kata Jali. “Lu pada ikut gak?”
Waktu itu gue masih kelas satu, jadi masih cemen, gak berani ikut tawuran. Akhirnya gue dan teman-teman menjawab tidak untuk ajakan Jali ini.

“Ya udah kalau lu pada gak ikut. Tapi tambahin nih buat beli minuman.” Jali menyodorkan tangan, ditangannya itu ada beberapa lembar uang seribuan, juga beberapa uang kertas gopean yang gambarnya putri Raja. Satu hal yang gue heran sama diri gue sendiri, dari dulu, gue selalu ngasih duit sama yang malak. Bukan karena takut, tapi justeru iba. Dalam benak gue: Ya Allah, mungkin mereka gak pernah dikasih uang jajan sama ibunya, makanya mereka malak. 

Tambahin buat beli minuman, gue positif thinking aja, mungkin minuman yang dimaksud adalah jus ginseng. Mereka kan mau tawuran, jadi mesti jaga daya tahan tubuh dan stamina HeHe…

Tidak lama, Jali dan kawan-kawan berlalu, tentunya setelah mereka merenggut recehan dari kami. Sore pun menjelang. Gue gak tahu kabar selanjutnya tawuran itu jadi atau nggak.

Keesokan harinya, seluruh ruangan gaduh, terutama cewek-cewek pada cericitan berbisik-bisik. Rupanya ada salah seorang teman gue (satu kelas tapi beda ruangan) pada bonyok mukanya. Wah, jadi kayaknya tawuran kemaren, gumam gue. Gue naruh tas di meja, temen gue yang lain udah pada mulai rumpi, menceritakan kejadian tawuran kemaren.

“Itu bukan tawuran.” Kata salah seorang temen gue, Angri. “Tapi nge-pet.” (Nge-pet, agak sulit dibaca karena tulisannya hampir sama dengan babi ngepet, hanya saja beda pelafalan).

“Apaan tuh ngepet?” kata temen gue yang lain.
“Bukan ngepet, tapi nge-pet. Bahasa formalnya itu duel.” Jelas Angri. “Kalau tawuran kan kayak perang, bareng-bareng ributnya. Kalau nge-pet itu, satu lawan satu, tangan kosong.”

Dari cerita temen gue itu, tawurannya di daerah Cawiri. Sebuah kawasan dipinggiran kali Cisadane. Tempatnya memang sepi dan sulit dijangkau, karena jalanannya curam banget. Pas buat latar tawuran hingga tak mudah terendus aparat. Sayangnya waktu itu belum musim smartphone, jadi gak ada satupun dokumentasi foto selfie tawuran ini. Kalau sudah ada smartphone, justeru gue khawatir mereka gak jadi tawuran, atau mungkin tawurannya via grup whatsapp. Jadi mereka bikin grup namanya: Tawuran.


Lawan duel adalah SMUN Parung. Satahu gue sih ini adalah tawuran perdana SMANCIS. Pasukan yang turun cukup banyak, sekitar 30 orang dari masing-masing kubu. Sayangnya duel tak berlangsung lama, karena aksi ini tercium oleh pihak guru. Turunlah tim rescue, guru-guru dengan kumis tebal Hehe… 

Bersambung...

NB: Tulisan ini hanya untuk hiburan. Kesamaan nama dan tempat serta kejadian, memang disengaja. :D
Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 5: Pernah Tawuran) Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 5: Pernah Tawuran) Reviewed by Al Muh on 22.51.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.