Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 6: Selamat Jalan Kawan)

Sumber gambar dari pixabay.com


“Setiap yang bernyawa pasti akan mati.” -Owner Jagad Raya-


Tidak ada yang bisa menyangkal dari itu. Tua, muda, dalam keadaan sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, kalau sudah habis umurnya, maka selesai sudah. Begitu pula dengan teman-teman sekelas gue di Smancis. Tresia, Wahyudi, Firdaus. Mereka semua sudah lebih dulu pulang ke kampung halaman di surga.

Tresia. Kisah hidupnya di Smancis sangat membuat semua orang sedih. Sebuah kisah cinta yang gue rasa amat dramatis. Nanti gue ceritain ya.

Wahyudi Sumodihardjo atau yang sering disapa Sumo. Harus pergi meninggalkan dunia ini justru di saat yang paling berbahagia. 

Muhammad Firdaus. Kerap disapa Botus. Dipanggil Sang Maha Kuasa beberapa tahun setelah lulus dari Smancis. Saat mengendarai sepeda motor Satria FU barunya, dia menabrak truk yang tengah diparkir di tepi jalan.

Ketiga teman gue itu, tentunya punya kisah tersendiri di SMA tercinta ini. Baik yang gue terlibat di dalamnya atau kehidupan mereka sendiri yang tak pernah gue ketahui. Tapi karena cerita ini gue yang nulis, jadi gue akan menceritakan kisah yang gue terlibat dan dari sudut pandang gue sendiri. Di antara ketiga sahabat gue itu, Sumo yang paling banyak “himpunan” kisahnya dengan gue. Jadi untuk yang pertama gue ceritain tentang dia.

#
Beberapa minggu setelah pengumuman kelulusan Ujian Nasional, yang juga bertepatan dengan sehari sebelum Ramadhan, gue sama musliya, Amir dan beberapa orang temen pesantren gue, pergi berziarah ke makam Syeikh di daerah Jati Nunggal, Rumpin. Tiba-tiba gue dapat SMS dari si Aris, ngabarin bahwa Sumo menginggal dunia karena kecelakaan. Syok baget denger itu, sempat gak percaya karena si Aris kadang gak bisa dipercaya (kata cewek-cewek mantan dia sih gitu). Sebagai teman, gue pasti gak luput dari kesalahan ke si Sumo, gue bahkan belum sempat bertemu lagi dengan dia. Soalnya setelah pengumuman lulus UN, kami sudah jarang ke sekolah.

Sepepu gue, melihat kejadian kecelakaan itu (meskipun saat itu dia gak tahu bahwa yang kecelakaan adalah temen gue). Dia cerita: Dia melihat Sumo mengendarai sepeda motor. Memasuki kawasan Cibogo yang jalurnya agak meliuk-liuk, turunan serta tanjakan. Di antara turunan dan tanjakan itu ada jembatan sungai Cibogo. Sumo melesat kencang diiringi suara bising kenalpot motornya. Tapi entah apa yang terjadi, dia seperti kehilangan kendali kemudian menabrak pembatas jembatan. Setelah terjadi tabrakan, Sumo terkapar. Tak lama dia bangun, kelihatan gak kenapa-napa. Dia hanya melongo sambil jongkok kayak orang baru bangun tidur. Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menolong. Sepupu gue juga ikut nolong. Saksi mata di TKP mengatakan, dada Sumo terbentur ujung stang motor. Bisa ditebak, meski di luaran tubuh Sumo baik-baik saja, tapi paru-parunya telah mengalami kerusakan akibat benturan keras. Dengan tanggap si Sumo dinaikan ke angkot, untuk di bawa ke rumah sakit. Tapi baru saja masuk ke dalam angkot, Sumo muntah darah. Angkot yang membawa Sumo melesat agar bisa cepat sampai ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, di dalam angkot, Sumo dijemput dan pergi untuk selamanya. (Ini cerita dari sepepu gue, Yeni. Kalau memang kurang tepat, gue sangat berbahagia jika teman-teman yang baca mau meluruskan).

Pikiran gue melayang ke tiga tahun silam saat baru masuk ke Smancis. Gue pernah duel sama si Sumo. Sebenernya si Somo itu, juga satu SMP sama gue. Cuma waktu di SMP gue belum terlalu akrab. Palingan cuma nongkrong bareng di warung tukang nasi uduk paling enak dan murah. Tapi sekarang warung nasi uduk “Si Emak” itu sudah berubah jadi halaman depan perumahan Panorama Bali Residence.

Saat itu, pelajaran Kimia, gurunya BuNCit (Bu Nurul Citra). Guru yang paling unik karena beliau suka bingung sendiri dengan apa yang lagi beliau ajarin ke kami. (Lalu kami harus apa saat beliau sedang bingung? Sayangnya meja gak bisa di makan). Bu Citra menyuruh kami membeli selember kertas aneh berwarna-warni bernama Sistem Periodik Atom. Gue diamanahkan untuk mencatat nama-nama siswa di kelas yang mau kolektif beli sistem periodik itu. 

Sumo menghampiri gue dan melihat kertas daftar nama siswa.

“Kok Lu nulis nama gue Sumo sih?” Kata dia protes.

Tapi gue gak tanggapin, soalnya lagi sibuk nyatat nama-nama temen gue yang lain. Merasa kesal gak ditanggapin, dia ngegebrak meja gue.
“Rubah gak nama gue.” Bentaknya ke gue.
Gue yang juga ber-darah muda gak terima digentak sama orang apalagi sambil gebrak meja. Tanpa menjawab, gue langsung menampar dia.

“Awas lu ya, pulang sekolah jangan kabur. Gua tunggu di sini.” Kata dia mengancam, nunjuk gue sambil kembalinya ke mejanya.
Lagi-lagi gak gue pedulikan. Gue lanjut nyatat nama-nama.

*
Bel pulang sekolah berbunyi. Satu persatu anak keluar meninggalkan kelas. Tersisa tinggal gue, Amir, Aris, Ntris, Musliya dan si Sumo. Gue pura-pura gak tahu soal ancaman dia tadi. Gue gendong tas terus jalan pulang. Sampai di depan kelas, si Sumo ngejar gue dan langsung nampar gue.
“Ini balasan buat tadi siang.” Katanya dengan mimik marah tapi puas bisa balas nampar.

Temen gue yang lain langsung keluar. Bukan untuk kabur tapi jagain pintu, kalau-kalau ada guru datang.

Secara fostur, dia lebih tinggi dari gue dan lebih kekar. Dia rajin olahraga, gue nggak.

“Oke cukup main-mainnya!” Gue lempar tas. Langsung gue tendang dia tepat di perut. Dia meringis kesakitan. Gak tahu mungkin dia punya jurus monyet, dia nyakarin muka gue sampai berdarah-darah. Gue pukul dadanya, tapi gue malah jadi ga tega. Terus terang ini pertama kalinya gue duel. Si Sumo terus nyakarin gue, sementara gue cuma balas mukul beberapa kali aja. Meskipun sedikit, tapi gue rasa pukulan gue tepat sasaran. Lama-lama darah di kening gue, mengalir ke mata. Pandangan gue rada kabur, dan perih bekas cakarannya mulai terasa. Dalam hati gue, ternyata bertarung itu ga seenak dan semudah di film.

Amir coba bantu gue, dia ngedorong si Sumo. Tapi bantuannya gak terlalu berarti karena Sumo bangkit dan nyerang gue lagi. Gue minta Amir gak bantu gue lagi, karena gue ngerasa itu gak adil. Muka gue makin perih sampai akhirnya gue mau nyerah. Tapi sebelum kata menyerah itu gue lontarkan, si Sumo berhenti menyerang. Dia malah pergi ninggalin gue sambil berkata “Udah ah, gue kasian sama Lu.”

Entah dia beneran kasian sama gue atau justru dia yang nyerah karena pukulan gue mendarat di titik yang menyakitkan. Soalnya gue lihat, saat dia jalan ninggalin gue, dia mengusap air mata, lalu dari hidungnya keluar darah. Sepertinya pukulan gue tepat mengenai tulang hidungnya. Oke lah, gue gak tahu jadinya siapa yang menang dan siapa kalah sampai sekarang. Tapi itu udah gak penting lagi buat gue, gak ada untungnya duel, apa lagi sama temen. Lebih baik menghindari perkelahian.

**
Keesokan harinya, Sumo datang bersama ayahnya yang berseragam polisi. Gue dipanggil sama guru BP. Ah, untuk pertama kalinya gue terlibat dalam kasus tidak baik di sekolah. Ayah Sumo menceritakan ulang kepada guru, kejadian yang beliau dengar dari anaknya itu. Tapi gue ngerasa ceritanya agak berbeda dan sangat menyudutkan gue. Gue tetep kalem. Pak guru kini mempersilahkan gue untuk memberikan keterangan juga.

“Jadi gini pak. Kemarin saat pelajaran Kimia, saya diminta oleh Ibu Citra untuk mendata nama anak yang ingin membeli sistem periodik. Karena bu Citra membutuhkan data itu dengan cepat, beliau mau pulang, saya menulis nama teman-teman dengan nama panggilan saja. Tapi ternyata, Wahyudi gak suka saya tulis namanya Sumo, padahal setahu saya, sejak di SMP dia memang dipanggil Sumo.”

“Apaan! Lu nampar gue monyet.” Tiba-tiba si Sumo nyelak omongan Gue.

“Saya nampar dia karena saya reflek, dia ngegeberak meja saya pak.” 

“Sialan lu ya.” Si Sumo berdiri dan nunjuk gue. Dia mau nyerang gue lagi. Tapi gue gak bergeming, tetep kalem duduk di kursi.

“Tuh pak, di depan bapak saja dia bersikap seperti itu. Bapak bisa menilai sendiri.” Kata gue.

Ayah si Sumo mendadak terdiam sebelum akhirnya beliau mengakhiri pertemuan ini secara mendadak. Kemudian beliau berpamitan pulang. Entah kenapa.

***

Beberapa bulan setelah Sumo pergi, tiba-tiba Facebook Almarhum Sumo update status “Selamat malam”. Seluruh penghuni grup facebook Smancis geger, juga orang-orang yang berteman dengan dia di facebook. Tapi setelah dicari tahu ternyata itu ibunya yang update status, katanya beliau sedang merindukan anaknya.

Sekarang, Gue cuma bisa minta maaf sama Lu, Mo. Semoga lu tenang di alam sana dan mendapat tempat indah di sisi Allah SWT. Selamat jalan kawan.

-Al Muh-


Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 6: Selamat Jalan Kawan) Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 6: Selamat Jalan Kawan) Reviewed by Al Muh on 23.28.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.