Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 7: Lembaran Kisah Tresia)

“Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah
tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah”

Tidak terlalu berlebihan jika seorang Crhisye berfatwa seperti itu dalam lagunya. Memang gak ada yang lebih indah kecuali masa di sekolah (Mungkin karena sebagian besar anak sekolah belum memikirkan biaya hidup, tinggal asongkan tangan ke emak-bapak, tiba-tiba uang ada digenggaman). Meski kisahnya tak selalu indah saat dijalani, tapi terasa indah saat dikenang di kemudian hari.

Hari itu (Gue masih kelas 1).

Suasana kelas diwarnai isak tangis dari siswi-siswi. Mereka seperti sedang berjamaah mengiris bawang merah sebanyak dua ton. Sebenernya anak cowok juga ada yang nangis, tapi karena gengsi, air matanya gak mau keluar, Cuma menimbulkan efek mata berkaca-kaca yang keren.

Tresia, teman kami sedang sakit parah. Dia terkena Hepatitis. Sekarang lagi dirawat di rumah sakit Fatmawati. Kata guru yang sudah menjenguk Tresia, keadaanya sudah sangat parah. Kemudian salah seorang guru ada yang berkata bahwa mungkin Tresia tidak akan bertahan bahkan sampai satu minggu ke depan. Hal ini lah yang membuat teman-teman Tresia histeris. Meski guru lainnya mencoba menenangkan bahwa umur ada di tangan Tuhan. Seberapa keras dan seberapa parahpun sakit kita, kalau belum ajalnya pasti tidak akan mati.

Sore hari, Aries dan Musliya berangkat jenguk Tresia di rumah sakit. Sebagai perwakilan siswa karena memang belum ada yang jenguk ke sana, kecuali si Anto, dia bareng sama guru jenguknya. Waktu itu, denger RS Fatmawati rasanya jauh banget. Gue bahkan gak tahu itu dimana. Jadi yang berangkat cuma si Aries sama Musilya saja. Kebetulan si Aries tahu rumah sakit itu (dia pernah di rawat disana), katanya. Meski begitu, tapi ya gak tahu-tahu banget. Keesokan harinya, mereka cerita bahwa mereka tersesat, salah jalan malah masuk ke jalan tol. Beruntung lagi gak ada polisi, jadi mereka bisa muter balik dengan ngelawan arus.

Dua hari kemudian, akhirnya kabar itu sampai juga, Tresia dipanggil sang Maha Kuasa dengan senyuman. Hampir semua anak di kelasan gue datang ke rumah duka Tresia. Di sinilah kisah sedihnya dimulai. Ibunda dari Tresia menyampaikan beberapa pesan terakhir dari Tresia, sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya. Pesan itu berupa ucapan terima kasih untuk si Anto, karena dia sudah menjenguk Tresia di rumah sakit. Dan ternyata itu jadi pertemuan terakhirnya dengan Anto.

Di hadapan jenazah Tresia dan di hadapan semua orang, ibunda Tresia membawa lembaran-lembaran kertas. Itu adalah diary, lembaran kisah Tresia. Lalu beliau membacakannya dengan penuh perasaan seakan-akan beliau adalah Tresia. Gue lupa kata-kata persisnya dalam tulisan itu, soalnya banyak banget. Yang jelas, isi tulisannya membuka kenyataan bahwa selama ini Tresia sangat mencintai si Anto. Diam-diam Tresia sangat mengagumi Anto. Saat itu, dia mencoba memberanikan diri mengatakan cinta, tapi terlambat, Anto sudah berpacaran dengan Vita.

Semua isi hati Tresia tertuang dalam lembaran-lembaran itu. Kalau saja gue tahu rumah keluarganya Tresia sekarang, gue pengen salin tulisan itu dan minta izin untuk menambahkannya dalam cerita blog ini.

Ibundanya terus membaca lembar demi lembar. Membuat suasana semakin haru. Anto pun tak kuasa menahan tangisannya. Dalam tulisan itu, Tresia selalu berharap, suatu saat nanti dia bisa menyatakan perasaannya kepada Anto, terlebih lagi cintanya bisa terbalaskan. Meskipun itu sudah terlambat karena Anto sudah milik Vita.

Kini saat-saat yang diharapkan Tresia tiba, dia bisa menyatakan cintanya kepada Anto. Tapi bukan Tresia sendiri yang menyatakan, melainkan diwakilkan oleh ibunya. Sayangnya, kali ini juga Tresia terlambat, sangat terlambat dan bahkan tak ada lagi kesempatan untuk cintanya terbalaskan.


Selamat jalan Tresia. Semoga kamu bahagia di sana, teman.
Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 7: Lembaran Kisah Tresia) Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 7: Lembaran Kisah Tresia) Reviewed by Al Muh on 22.55.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.