ASTRAY

Dua orang berjubah

Tidak biasanya Jagad pulang secepat ini di malam minggu. Biasanya saat fajar mulai menyingsing dia baru pulang. Mungkin karena dia sudah mabuk berat malam ini. Dia diantar oleh kedua temannya, Koryn dan Dasam dengan sebuah mobil sport berwarna hitam dop. Saat turun dari mobil, dia dipapah oleh kedua temannya itu.

Tangannya terluka cukup parah.

Tadi Jagad berkelahi dengan Dabra di diskotik karena Jagad tidak mau membayar jatah bulanan kepada geng Kavaro. Sebetulnya ini bukan kesalahan Jagad, dia hanya berusaha membela diri saat Dabra hendak menusuknya dengan sebuah pisau lipat. Pergerakan Jagad yang sedang mabuk tidak setangkas biasanya. Meski dia berhasil menepis pisau yang akan menembus jantungnya tapi tangannya tertusuk dan pergelangan tangannya tersayat. Dia memecahkan botol minuman yang sedang digenggamnya lalu menusukan tepat di perut Dabra. Dabra pun tekapar. Jagad mengeluarkan pistol untuk menghabisi Dabra tapi Koryn dan Dasam melerainya. Seisi diskotik gaduh menyaksikan kejadian itu. Para wanita menjerit, sementara anggota geng Kavaro yang lain langsung berteriak dan menyerbu Jagad. Kryn dan Dasam yang belum terpengaruhi alkohol langsung membawa Jagad kabur lewat pintu belakang.

Dasam mengganjal pintu itu dengan sebatang besi pipa untuk menahan anggota geng Kavaro mengejar. Setidaknya sampai Jagad masuk ke mobil yang ada di parkiran belakang diskotik.

Setelah mereka berhasil masuk ke mobil, Koryn memacu mobil sportnya dengan kencang hingga geng Kavaro tidak dapat mengejar mereka. Sebagian anggota geng ada yang mengejar dengan cara memutar lewat pintu depan. Tapi itu cukup jauh, jadi saat mereka tiba di parkiran belakang, Jagad bersama temannya sudah tidak terlihat lagi. Anggota geng hanya bisa menumpahkan kekesalah dengan mencaci dan menghancurkan mobil lain yang ada di parkiran hingga alaram mobil berbunyi saling bersahutan.

“Gila! Kita bakalan kena masalah besar.” Kata Koryn sambil mengebrak stir mobilnya yang tengah melesat. “Apa kamu tidak tahu itu si Dabra?”

“Aku tahu.” Jawab Jagad perlahan.
“Terus kenapa kamu tusuk dia?”
“Dari pada aku yang ditusuk.”
“Sudahlah.” Lerai Dasam. “Sekarang lebih baik kita ke rumah sakit. Kamu bisa mati kehabisan darah Gad.”
“Tidak perlu.” Kata Jagad. “Antar saja aku pulang.”

Jagad mengambil sebotol anggur putih dari belakang kursi. Lalu menenggaknya beberapa tegukan. Sisanya dia siramkan ke sekujur tangannya yang berlumuran darah.

Jagad menyandarkan dirinya ke kursi mobil sambil menarik napas panjang. “Aku akan baik-baik saja.” Ujarnya.

“Baiklah, kita pulang.” Kata Koryn.

Mobil mereka melaju di tengah kota yang tidak pernah tertidur. Lampu-lampu kota yang gemerlap menyembunyikan kelamnya kehidupan kota yang sebenarnya. Tidak berapa lama mereka sampai di depan rumah Jagad. Koryn dan Dasam membantu memapah Jagad sampai di depan pintu rumah. Jagad bersandar di pintu sambil tertawa kecil. Terlihat sekali rasa frustasi Jagad. Dia hidup sebatangkara di kota ini, orang tuanya sudah lama mati. Beberapa tahun belakangan dia menghabiskan hidup dengan kekasihnya yang kini justeru meninggalkannya. Hari-hari Jagad dihabiskan dengan mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh. Dalam hati kecilnya, dia sadar bahwa semua yang dia lakukan ini tidak baik. Dia ingin sekali merubah jalan hidupnya yang sekarang, tapi selalu saja dia gagal dan kembali terjebak ke dalam kehidupannya yang kelam ini.

Sekilas, Jagad teringat masa lalunya ketika usianya masih belasan tahun. Saat itu pertama kali dia mencuri. Di sebuah rumah orang kaya yang sering ditinggalkan oleh penghuninya ke luar negeri. Jagad sudah memantaunya sejak lama. Dia terkadang heran, untuk apa orang-orang kaya membangun rumah mewah lengkap dengan isinya tapi tidak pernah mereka huni. Jagad masuk ke rumah orang kaya itu lewat halaman belakang. Dia cukup cerdik untuk mengetahui ada kamera CCTV di halaman belakang. Dia merusak kamera CCTV dengan menggunakan ketapel. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, Jagad baru sadar kalau orang kaya tidak pernah meninggalkan uangnya di rumah. Pasti semua uang mereka sudah tersimpan aman di Bank. Tak ingin usahanya sia-sia, dia terus mencari ke seluruh ruangan. Tapi apa yang harus dia bawa? Hanya ada sebuah TV, ukurannya sebesar pintu rumah. Tidak mungkin dia mencuri TV itu, sama saja dia bunuh diri saat membawanya. Sudah lelah mencari, dia tidak menemukan satupun barang berharga yang bisa dibawa. Dia menemukan makanan dalam kulkas. Akhirnya hanya itu hasil curian pertamanya. Setelah beberapa kali mencuri, dia berpikir, merampok akan lebih menghasilkan dari pada mencuri rumah tak berpenghuni.

“Kamu yakin akan baik-baik saja?” Tanya Koryn.

“Iya. Haha…”

“Sebaiknya kamu tinggalkan kota ini besok.” Kata Dasam. “Aku yakin Dabra akan segera mencari mu dan membunuh mu kawan. Di kota ini tidak akan ada yang berani menghentikannya.”

“Polisi saja dibunuh oleh Dabra dan gengnya Kavaro, apalagi kamu.” Timpal Koryn.

“Itu lah kenapa aku ingin menembak kepalanya tadi. Agar dia mati, jadi dia tidak bisa mencari ku. Tapi kalian mencegahnya. Hm, ya sudah lah, aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan tetap di sini.” Jagad tertawa kecil. “Sebaiknya kalian segera pulang.”
“Baiklah.” Kata Koryn. “Telpon kami kalau ada apa-apa.”



Sumber gambar: Villain.wikia.com




23:50 PM

 “Ah sial! “Dimana kau kunci?”

Kebiasaan buruk Jagad, dia suka lupa menaruh kunci rumahnya. Jagad mencari dibawah keset tapi tidak ada. Merogoh sakunya juga tidak ada. Dia mulai kesal sendiri karena selalu saja kunci rumahnya menghilang saat dia pulang. Lalu dia menendang pintu rumahnya. Tiba-tiba pintu itu terbuka seperti ada yang membuka dari dalam. “Dasar pintu sialan, kenapa tidak dari tadi!”

Dalam keadaan sempoyongan, Jagad masuk lalu menutup pintunya kembali. Dia berjalan menuju sofa sambil menekan tombol di dinding untuk menyalakan lampu. Betapa terkejutnya saat Jagad melihat ada dua orang berjubah tengah berdiri di belakang sofa di hadapannya. Satu orang berjubah hitam dan satu lagi berjubah putih. Wajah kedua orang itu samar karena terhalang oleh tudung kepala dari jubahnya.

Pasti mereka anak buah Dabra. Jagad sudah terlalu pasrah kalau harus menelpon Koryn dan Dasim untuk kembali ke rumahnya. Kalaupun dia menelpon temannya itu, pasti Jagad sudah lebih dulu di bunuh kedua orang ini bahkan sebelum sebelum Koryn dan Dasam tiba. Lagi pula orang berjubah ini hanya berdua, Jagad masih sanggup jika harus bertarung seorang diri melawan mereka. Yang perlu dilakukan hanyalah mengambil pistol di sakunya kemudian menembak tepat di kepala orang berjubah ini. Beres, pikir Jagad.

Jagad duduk dengan santai di sofa. Menyalakan rokok untuk menghilangkan ketegangan sekaligus meredam rasa sakit di tangannya. Sebetulnya Jagad sudah terbiasa bertarung, dua orang bukan lawan yang berat. Dia bahkan pernah dikeroyok 10 orang di tempat judi. Tapi kali ini kondisinya sedikit berbeda. Dia mulai merasa lemas karena darah dari pergelangan tangannya terus keluar. Kelihatannya sayatan pisau Dabra tadi mengenai urat nadinya.

Kedua orang berjubah itu tidak bergeming. Mereka tetap pada posisinya menatap Jagad penuh misteri. Meski pandangan Jagad mulai kabur, dia tetap mengawasi pergerakan kedua orang itu. Bila mereka bergerak sedikit saja maka Jagad akan langsung mengambil pistol di sakunya.

“Siapa kalian?” Tanya Jagad sambil mengepulkan asap dari mulutnya.

Kedua orang itu tidak menjawab. Jagad bertanya lagi, hasilnya tetap sama. Sampai Jagad bertanya untuk yang ketiga kalinya tapi kali ini pertanyaan Jagad dibarengi dengan todongan pistol.

“Jawab atau ku tembak kalian!” Ancam Jagad dengan suara sayup.

Kedua orang berjubah itu lalu berjalan serempak dari belakang sofa. Tidak memutar ke sisi sofa melainkan berjalan menembus sofa yang ada di hadapan mereka.
“Kami adalah utusan.” Kata orang berjubah putih. Suara orang itu begitu berat menggema sampai-sampai Jagad gemetar. Jagad mengarahkan pistolnya dalam posisi siap menembak ke arah orang itu.
“Waktu mu sudah habis.” Susul orang berjubah hitam dengan suara yang lebih menyeramkan.
“Waktu apa? Aku tidak mengerti maksud kalian.”
“Kau tidak perlu mengerti.” Kata orang berjubah hitam.
“Sudah saatnya kamu kembali ke dunia nyata. Sang Raja sudah memerintahkan kami untuk menjemputmu.” Ungkap orang berjubah putih.
“Hei! Ini dunia nyata bung. Ku rasa kalian terlalu banyak nonton film.”
“Waktu mu tujuh menit dari sekarang. Cepat kemasi bekal yang akan kau persembahkan kapada Sang Raja.” Kata orang berjubah putih.
“Pukul 00:01, siap atau tidak, kami akan membawa mu.” Timpal orang berjubah Hitam.
“Kalian sinting!” Bentak Jagad.

Kedua orang berjubah itu tidak menjawab lagi. Mereka kembali berdiri terbata seperti patung. Seolah mereka hanya diprogram untuk berbicara seperlunya. Jagad menyalakan rokok lagi, lalu dia membuangnya. Lalu menyalakan rokok lagi.

“Ah! Luka sialan.” Pekik Jagad.

Jagad menggeleng-gelengkan kepala. Sekarang kepalanya sudah terasa sangat pusing, tubuhnya semakin lemas. Darah dari tangannya melemuri sofa. Harusnya Jagad sudah meyuntikkan sedikit morfin di lengannya dan membungkus lukanya, tapi karena dua orang berjubah ini, dia tidak sempat untuk melakukan itu.

Dentang jam berbunyi menunjukan waktu tepat tengah malam. Jagad jadi ingat perkataan si orang berjubah hitam itu. Pukul 00:01, orang itu akan membawanya ke dunia nyata. Aku yang sedang mabuk atau orang itu yang sinting. Ini-kan dunia nyata, memangnya ada berapa macam dunia nyata? Pikir Jagad.

“Kalian anak buah geng Kavaro?” Tanya Jagad yang semakin lemas.

Kedua orang itu tidak menjawab. Jagad mulai kesal lalu berdiri, sejajar dengan kedua orang berjubah. Hanya terpisahkan oleh sebuah meja. Jagad makin gemetar setelah menyadari perawakan kedua orang ini sangat tinggi dan kekar dibalut jubah yang menyeramkan.

“Aku bicara kepada kalian!”

Mereka tetap tidak menjawab. Sepertinya kesabaran Jagad sudah habis. Tapi baru saja Jagad akan menembak, orang berjubah hitam berkata:
“00:01, Waktu mu telah habis!”

Kedua orang itu berjalan melayang menghampiri Jagad menembus meja yang memisahkan mereka tadi.

“Baiklah, kalian yang memaksa ku melakukan ini.” Sambut Jagad.

Dia menebak ke tepat ke kepala orang yang berjubah hitam. Peluru itu tertahan di udara di depan wajah gelap orang yang berjubah hitam. Menyala seperti sebuah asteroid yang jatuh ke bumi terkikis atsmosfer, sepersekian detik peluru itu meleleh habis bahkan sebelum suara letupan tembakannya hilang. Disusul tembakan ke dua, tetap tidak bisa mengenai kepala orang yang berjubah hitam. Pelurunya selalu saja meleleh sebelum sampai di kepalanya.

Tembakan ketiga meletup, orang berjubah putih sudah menggenggam tangan kanan Jagad dengan sangat keras hingga pistolnya terjatuh. Disusul orang berjubah hitam menggenggam tangan kirinya.

“Hanya Sang Raja yang bisa membunuh kami.” Suara menggelegar dari orang berjubah hitam. “Saatnya kembali ke dunia nyata.”

Jagad berteriak. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Pada saat mereka menggenggam kedua tangan Jagad, rasa sakit menyerang keseluruh tubuh Jagad. Rasanya itu seperti tersengat listrik jutaan Mega Watt. Kulit Jagad terasa terbakar, ototnya terlepas dengan tulang-tulang. Semua persendian terasa diremukan. Dia merasa ada sesuatu yang ditarik dari ujung kaki secara perlahan hingga ujung kepala. Sakit sekali. Dulu Jagad pernah dipukuli oleh belasan orang dengan stik golf dan baseball, tapi rasa sakit yang sekarang ini ratusan kali lipat dari rasa sakit yang pernah dia rasakan itu. Telinganya berdengung kuat hingga Jagad tidak bisa mendengar apapun kecuali bisikan dari semua bayangan masa lalunya.

Dia melihat wajah ayah dan ibunya. Saat pertama kali Jagad belajar mengendarai sepeda, dia terjatuh lalu menangis. Ayah dan ibunya langsung menggendongnya, meniup luka pada lututnya hingga Jagad pun tertawa merasakan kakinya dingin terkena tiupan angin dari ibunya. Dia melihat saat pertama kali mereka pindah ke kota dan saat ayahnya mulai berubah menjadi kasar kepada ibunya karena pengaruh minuman keras. Jagad sering melihat ibunya dipukuli. Jagad juga hanya bisa menyaksikan dari celah lemari saat ibunya mati ditangan ayahnya. Melihat mayat ibunya diseret ke halaman belakang lalu dikuburkan secara biadab. Semua bayangan yang tak ingin Jagad kenang bermunculan, termasuk saat polisi terpaksa menembak kepala ayahnya karena ayahnya melawan saat akan ditangkap.
Tiba-tiba Jagad menjadi sulit bernafas lalu semua menjadi gelap. Hanya ada sacerca cahaya di atas sana. Sangat jauh. Dia merasa kedua orang berjubah ini membawanya terbang dengan kecepatan luar biasa menuju secerca cahaya itu. Tubuhnya tersibak angin, lebih kencang dari pada yang pernah dia alami saat dia mencoba olahraga terjun payung.

Secerca cahaya itu semakin besar dan semakin terang sampai matanya tak sanggup lagi menatap cahaya itu. Lalu Jagad tidak sadarkan diri.

Bersambung...

-Al Muh-
ASTRAY ASTRAY Reviewed by Al Muh on 16.49.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.