Nenek Sihir


“Kita bunuh saja wanita tua itu sekarang.” Seru Cruzt.
“Ya, ayo kita bunuh!” Sorak kerumunan.
“Tidak! Kita tidak boleh main hakim sendiri.” Tolak Pete.
“Tapi, kalau tidak kita bunuh si wanita tua itu, akan ada lagi korban berikutnya. Setiap kamis malam kita kehilangan tiga pemuda di desa ini.” Timpal Ilfin

“Bagaimana jika setelah kita bunuh wanita tua itu, tetap ada korban ilmu sihir lagi?” Tanya Pete sambil menatap ke kerumunan. “Kita bahkan belum tahu siapa pelaku yang sebenarnya.”
“Aku sangat yakin sekali wanita tua itulah pelakunya.” Kata Ruzjit.
“Bagaimana kau bisa seyakin itu kawan?”
“Aku sering melihat wanita tua itu melakukan ritual aneh setiap malam, terutama di malam purnama.” Jawab Rujzit.
“Ritual?” Pete penasaran.
“Iya. Setiap malam purnama wanita tua itu selalu pergi ke hutan membawa sebuah tongkat aneh yang menyala kebiruan pada bagian kepala tongkatnya. Pasti itu tongkat sihir.” Ungkap Rujzit.
“Hanya itu?” Tanya Pete.
“Iya.”
“Kau melihatnya sendiri?”
“Tidak, aku mendengar hal itu dari orang-orang.” Jawab Rujzit.
“Hmm… Itu bukan bukti yang kuat, apa lagi kau tak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri.” Ujar Pete. “Kalau kita mau menghujat wanita tua itu, kita harus punya bukti yang benar-benar tidak terbantahkan.”

“Kita tidak bisa menunggu sampai kembali jatuh korban Pete!” Seru Cruzt.
“Kalau begitu kita cari bukti itu. Jangan ditunggu. Aku hanya tak ingin kalian menyesal setelah kalian membunuhnya karena ternyata teror sihir ini masih berlanjut.” Terang Pete.

“Ada apa ini?” Sela Flash dari kejauhan.
Kerumunan terbelah searah dengan Flash yang berjalan menghampiri Pete di tengah kerumunan. Riuh warga seketika menjadi hening dengan kedatangan Flash.
“Ada korban lagi Flash.” Jawab Pete.

“Kalian mencurigai wanita tua itu lagi?”
Cruzt gugup, dia menoleh ke arah Pete, tapi Pete juga terlihat gugup. Tidak ada yang berani menjawab. Sebelum Pete mengeluarkan jawaban, Flash sudah bicara lagi.

“Bunuh saja wanita tua itu jika itu bisa membuat kalian lega. Tapi jika teror itu tetap ada setelah kalian membunuhnya, maka aku akan mengganti nyawa wanita tua itu dengan nyawa kalian.”
Kerumunan menjadi riuh dengan bisikan saling menyalahkan. Pete, Rujzit dan Cruzt saling menatap. Tidak ada yang berani melawan Flash. Dia adalah putera ksatria yang sangat disegani. Keturunan Arkhan sang ksatria, pahlawan kerajaan bahkan raja membuatkan patung untuknya yang berdiri kokoh di depan istana.

“Sebenarnya siapa wanita tua itu?” Tanya Pete.
“Ada yang bisa menjawab?” Tanya Flash seraya mengedarkan pandang.
Warga hanya diterangi cahaya temaram obor tak ada yang menjawab. Sebagian barisan depan kerumunan hanya menggelengkan kepala.

“Aku memang tidak mengenal wanita tua itu. Tapi dia sudah ada sejak aku masih kecil. Sejak aku masih selalu digendong oleh ayahku untuk menyusuri hutan terlarang. Yang aku ingat, ayah ku pernah berkata bahwa aku harus menghormati wanita tua itu, karena dia sudah ada bahkan sebelum kakek ku lahir.”

“Tapi aku sering melihat wanita tua ini membawa tongkat sihir, yang menyalah biru saat bulan purnama Flash.” Ungkap Rujzit.

“Kurasa itu bukan hal yang aneh. Aku sudah melihat wanita tua itu membawa tongkat itu sejak aku masih kecil. Dan saat aku kecil tak ada yang terbunuh karena ilmu sihir.” Kata Flash.

“Kalau bukan wanita tua itu, lalu siapa lagi pelakunya?” Tanya Pete. “Di kerajaan ini tidak ada seorangpun yang belajar sihir. Karena sihir sudah dilarang sejak ratusan tahun silam. Kalaupun ada yang bisa menggunakan ilmu sihir, pastilah mereka adalah orang-orang tua.”
“Besok pagi aku akan menemui wanita tua itu.” Kata Flash. “Hanya dengan cara itulah kita bisa mengetahui yang sebenarnya.”

“Aku ikut dengan mu Flash.” Kata Pete.
“Baiklah. Sekarang kalian bubar. Jangan membuat kepanikan pada diri kalian sendiri.” Seru Flash. “Dan kau Rujzit, kau harus ikut untuk membuktikan perkataanmu.”


*
Pagi hari saat matahari sudah berada di ufuk. Flash, Pete dan Rujzit sudah memulai perjalan menuju hutan larangan tempat nenek tua itu tinggal. Hutan larangan itu berada di sisi barat dari desa Nirwana. Seluruh desa Nirwana memang dikelilingi hutan, tapi tidak semua hutan terlarang untuk dimasuki. Hanya sebelah barat yang berada di kaki Gunung Adaga. Hutan itu sangat lebat, pohon-pohonnya sudah tua dan berukuran sangat besar. Pasti karena tak ada satupun warga yang berani menebang pohon di sana sejak status hutan itu jadi terlarang ratusan tahun silam. Desa Nirwana adalah desa terjauh dari wilayah kerajaan Tharuma. Butuh dua hari perjalanan dengan kuda jantan pelari. Desa yang sangat terpencil, bahkan petugas kerajaanpun jarang sekali mengujungi desa ini. Meski demikian desa ini bisa hidup berdikari dengan pertanian dan perkebunannya. Hasil perkebunnya terbaiknya adalah kopi, kualitasnya terbaik seantero kerajaan. Harganya sangat mahal, mereka bisa menjual kopi itu untuk membeli wol dan kebutuhan lainnya. Di kerajaan tetangga bahkan harga kopi desa Nirwana bisa dihargai tiga kali lipat dibanding harga pasar kerajaan Tharuma.

“Kau pernah masuk ke hutan terlarang ini?” Tanya Flash.
“Sudah,” jawab Pete, “tapi tak sejauh ini.”

“Hanya prajurit terlatih yang boleh memasuki hutan ini, hutan ini sangat berbahaya.” Ujar Flash.

“Lalu kenapa kau mengajakku Flash?” Tanya Rujzit. “Aku bahkan tak pandai menggunakan pedang.”
“Kita tak bisa menunggu sampai prajurit kerajaan tiba untuk melakukan hal ini.” Jawab Flash.
Rujzit menatap ke sekililing hutan yang dia lalui. “Bagaimana dengan ‘sangat berbahaya’ itu Flash?”
“Ku kira kau tahu sedang pergi bersama seorang kesatria sekarang.”
Pete tertawa kecil.

Matahari menembus melalui celah-celah daun. Bunga-bunga kecil di permukaan tanah mulai bermekaran, baunya harum. Lebah, kupu-kupu dan serangga lainnya beterbangan menghiasi ruang di antara pepohonan, banyak juga yang sedang menghisap sari-sari bunga. Binatang-binatang berlarian melihat ada manusia masuk ke dalam hutan. Suasana dalam hutan sangat damai. Kicau burung bersahut-sahutan, suaranya jelas terdengar sangat merdu seperti nyanyian alam, meski kau tidak bisa melihat dimana burungnya itu. Dedaunan dengan aman menyembunyikan mereka. Kecuali burung-burung yang lebih suka terbang dari satu pohon ke pohon lain. Mereka indah, berwarna-warni. Salah satu burung berwarna hijau berpadu dengan biru, paruhnya berwarna merah. Ada jambul di kepalanya, membuatnya terlihat sangat eksotis.

“Kurasa hutan larangan tak semenyeramkan namanya.” Gumam Rujzit.
“Lebih tepatnya belum.” Komentar Flash.
“Apa rumah nenek itu masih jauh Flash?” Tanya Pete.
“Mungkin sebelum hari gelap kita akan sampai ke rumah nenek itu.”
Rujzit berhenti, menghela nafas. “Masih jauh rupanya. Seharusnya kita membawa kuda?”
“Kita baru berjalan tiga jam, jangan cengeng.” Jawab Flash. “Lagi pula tak ada jalan untuk kuda di depan sana bung.”

Pete menyeka keringatnya. Mengedarkan pandangan ke atas. “Nenek itu seorang diri di sana?”
“Aku tidak pernah melihat nenek itu lagi,” ungkap Flash, “tapi yang aku tahu dia hidup seorang diri.”
Semakin jauh berjalan, hutan semakin rapat. Jarak antar pohon begitu dekat, atau mungkin karena pohon-pohon itu sudah terlalu besar. Perjalanan jadi lebih lambat, mereka bahkan harus merangkak melewati pohon tumbang yang mulai berlumut dan ditumbuhi pakis liar. Cahaya matahari mulai sedikit. Hanya beberapa sorotan saja yang berhasil menembus dedaunan. Tinggi rata-rata pohon mungkin sekitar 30 sampai 100 meter, dengan diameter setidaknya 5 sampai 10 meter. Usia pohonnya, ku rasa sekitar 500 tahun, terlihat dari batangnya yang sudah dipenuhi lumut. Sebagian luas tanah juga diselimuti oleh lumut tebal, pasti karena kekurang cahaya, hingga udara sangat lembap.

Sungai kecil mengalir di hadapan mereka, airnya sangat jernih. Sungai ini berhulu di atas gunung Adaga dan bermuara di sungai besar yang melintasi desa Nirwana. Sungai yang menjadi sumber irigasi pertanian di desa. Juga sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari. Selain itu, sungai besar biasa digunakan sebagai sarana transportasi ke kota di kerajaan tetangga. Tapi tak semua orang berani, sungainya berbatu dan arusnya terlalu deras, jadi sangat beresiko jika mereka harus membawa kopi dengan jalur sungai. Kopi bisa basah, itu akan membuat citarasanya berkurang. Atau setidaknya harus dijemur ulang.

“Kita akan mengikuti sungai ini.” Flash mengumumkan. “Jalurnya terjal, tapi sungai ini akan menuntun kita ke rumah nenek itu.”
Rujzit mendongak, menatap jauh ke arah hulu sungai, “ku rasa ini sangat terjal.” Komentarnya.
“Lebih baik melalui jalur terjal ini, dari pada tersesat di hutan larangan.” Balas Flash.

Pete berjalan dipaling belakang. Dia bahkan tak bicara apapun. Mereka mulai merangkak menaiki bebatuan dengan akar merembat. Sesekali mereka mengeluarkan pisau, sebagai alat bantu berpegangan. Setelah beberapa saat melalui jalur terjar, Rujizit merasa lega mendapati jalur di depannya kini kembali datar. Sedikit landai, tidak terlalu terjal seperti tadi.

“Bisakah kita istirahat dulu Flash?” Seru Pete.
Flash menoleh ke belakang. “Tentu.”
“Kau baik-baik saja kawan?” Tanya Rujzit. “Wajahmu pucat.”
Pete menarik napas, “Aku baik-baik saja.”

Flash menghampiri Pete, tapi sebelum Flash sampai ke Pete, Pete terjatuh. Dia pingsan.
Mereka berlari merangkul Pete. Flash langsung memeriksa nadi Pete, memastikan Pete hanya pingsan. Lalu dia membuka topi Pete, kemejanya, menyingsingkan celana Pete. Rujzit tidak berkomentar apa-apa.

Flash menatap telapak tangan Pete.  “Astaga!”
“Ada apa Flash?”
“Sepertinya Pete menyentuh ulat beracun di akar-akar tadi.” Ungkap Flash.
“Ulat beracun?”
“Cepat buka dan kendurkan semua pakaiannya. Usakan agar dia tetap bernafas. Aku akan ke sungai mengambil air.” Flash berlari turun ke arah sungai.

Rujzit melihat wajah Pete samakin memucat. Dan kini, telapak tangan Pete berubah menjadi hitam. Dia tidak tahu harus berbuat apa, kecuali menunggu Flash kembali. Saat Flash kembali, dia membawa air dengan sebuah daun besar. Dia juga membawa tumbuhan-tumbuhan kecil serta akar-akaran.

“Pegang ini!” Flash menyodorkan daun besar berisi air itu kepada Rujzit. Dia menumbuk daun serta akar-akaran di atas batu dengan gagang pisaunya. Setelah halus dia mencampurkannya dengan air.
“Baluri tangan Pete dengan itu. Aku akan mencari buah pohon Rene.”
“Baik Flash.”

Pete sama sekali tak sadarkan diri. Bahkan nafasnya pun melambat. Rujzit membaluri telapak tangan, hingga ke lengan Pete dengan ramuan tadi.
Rujzit menampar-nampar Pete, “Hei, teman! Bangunlah. Kau membuatku takut.”
Tapi Pete tak memberikan tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Rujzit mulai panik, Pete adalah temannya sejak kecil. Mereka selalu bersama-sama berpetualang di hutan. Tapi bukan hutan terlarang. Mereka berdua baru pertama kali memasuki hutan terlarang. Meski dulu mereka pernah masuk ke hutan terlarang, hanya beberapa meter saja, lalu mereka memutuskan untuk tak melanjutkannya. Flash belum kembali, Rujzit semakin takut akan kehilangan temannya.

“Apa dia masih bernafas?” Tanya Flash tiba-tiba. Dia kembali dengan membawa buah berwarna merah menyala. Kecil mirip dengan ceri, tapi buah ini lebih merah terang.
“Nafasnya sedikit sekali Flash.” Jawab Rujzit cemas.
“Ramuan tadi akan menahan racunnya agar tidak menyebar.” Terang Flash. “Sulit sekali mencari buah yang satu ini.”
“Apa buah itu akan membantu?” Tanya Rujzit ragu.
Flash memasukan buah itu ke mulut Pete, dan melarutkannya dengan air. “Seharusnya begitu.” Jawab Flash.

Dia hanya melakukan apa yang dulu ayahnya lakukan. Flash sering diajak ke hutan larangan oleh ayahnya, bersama teman-teman ayahnya yang juga ksatria. Saat itu salah satu dari mereka terkena ulat beracun. Ulat itu berwarna merah dan oranye terang, berduri kecil seperti ujung jarum. Tapi racun dalam duri itu sangat mematikan. Hanya buah pohon Rene yang bisa melebur racun itu dalam darah.

Flash membaringkan Pete, menyangga kepalanya dengan ransel kecilnya.
“Kita tunggu buahnya bekerja.” Kata Flash. “Ini yang ku maksud dengan ‘Prajurit terlatih’. Bukan hanya bertarung, tapi juga terlatih untuk pertolongan medis.”

Rujzit tidak menjawab. Dia bersandar di bawah pohon besar. Mendengar suara aliran sungai, ditambah dengan kicauan burung dan angin spoy-spoy, membuat Flash dan Rujzit memejamkan matanya. Mereka beristirahat.

Tak lama, seseorang menepuk bahu Flash. Flash terkejut spontan mencabut pedangnya.
“Hei, Flash, hei. Ini aku Pete.”
Flash membata sejenak. Mengumpulkan jiwanya yang belum terbangun sepenuhnya. “Kau sudah sadar Pete?” Tanyanya.
“Apa yang terjadi?” Pete balik bertanya.
“Kau terkena ulat beracun.”

Mendengar keributan, Rujzit juga ikut terbangun. Dia tersenyum melihat Pete sudah kembali seperti biasa, “ku kira aku akan kehilanganmu, teman.”

Pete terdiam, tiba-tiba wajahnya jadi sangat serius. “Apa kalian merasakan apa yang aku rasakan?”
“Ada apa?” Tanya Rujzit serius.
“Aku merasa…” Pete berhenti, “merasa lapar. Haha…”
“Sialan!”
Flash terkekeh melihat ekspresi Rujzit. “Baiklah, kita makan, setelah itu kita jalan lagi.”

“Hei, Flash! Ku rasa aku juga punya keahlian.” Kata Rujzit. Dia mengeluarkan makanan dari dalam ranselnya. Dan yang terpenting adalah alat pembuat kopi yang dia rancang sendiri. Menggunakan dua buah batok kelapa, ditempelkan pipa yang terbuat dari kayu sebagai penghubung kedua batok tersebut. Cara kerjanya seperti proses sublin atau penyulingan. Salah satu batok akan dibakar, sehingga kopi akan memuai dan masuk ke batok satu lagi.

“Haha…” Flash tertawa. Dia mengakui bahwa Rujzit ahlinya dalam memasak, terutama membuat kopi yang sangat nikmat.

Seharusnya mereka sudah sampai di rumah nenek itu. Tapi karena ada insiden yang terjadi pada Pete, memaksa mereka beristirahat lebih lama. Setelah mereka makan dan menikmati kopi, mereka melanjutkan kembali perjalanan.

**
Matahari sudah mulai turun. Hari semakin redup, meski belum gelap tapi kelalawar sudah mulai beterbangan. Perjalanan Flash, Pete dan Rujzit terus berlanjut. Mereka tiba di sebuah areal datar di tepi sungai. Areal itu dikelilingi oleh pepohonan yang sangat besar. Flash berhenti, dia menatap ke sekeliling areal datar itu, meneliti keadaan sekitar. Flash menyentuhkan telapak tangan ke tanah.

“Harusnya rumah nenek itu ada di sini.” Gumam Flash.
“Apa kau yakin Flash?” Tanya Pete. “Di sini tidak ada apa-apa.”
“Aku yakin sekali, di sini letaknya.” Jawab Flash. “Pohon itu sebagai patokannya, hanya ada satu di hutan ini.

“Apa mungkin dia sudah pindah karena tahu kita akan datang?” Tanya Rujzit. Dia ikut memperhatikan sekeliling.
Flash mengangkat bahu. “Ya, mungkin," jawab Flash, "atau aku sudah lupa letaknya.”

“Kalau dia penyihir, itu sangat mungkin Flash.” Ujar Rujzit.
Flash terdiam. Dari raut wajahnya terlihat jelas dia sedang kebingungan. Kedua temannya mengandalkannya untuk sampai ke rumah nenek itu. “Sebaiknya kita bermalam di sini.” Flash mengumumkan. “Hutan ini tidak bisa berkompromi saat malam hari.”
“Ya, tempat ini pas untuk bermalam.” Pete setuju.

Rujzit berjalan ke sungai yang letaknya lebih rendah dari areal datar. “Apa boleh memancing ikan di sini?”
Flash tersenyum jahil. “Mau coba?”
“Dengan senang hati, bung.” Rujzit mengeluarkan benang dalam ranselnya. Serta beberapa peralatan lain yang selalu aneh bagi Pete dan Flash.

Pen menghampiri Rujzit. “Apa kau benar-benar membawa alat memancing Ruj?”
“Tentu.” Jawabnya. “Seutas tali, ditambah keahlian membuat mata pancing dari ranting, kita bisa makan ikan malam ini.”
“Wow…!”

“Selesai.” Kata Rujzit. “Kau bisa membantuku memancing Pete. Ini!” Katanya sambil memberikan seutas benang untuk memancing.
“Sepertinya akan menyenangkan.” Pete tersenyum.

“Dan kau, bung.” Seru Rujzit pada Flash. “Mungkin kau bersedia mencari kayu bakar?”
Flash bangkit dari duduknya, menatap tajam pada Rujzit. “Hm, Demi ikan bakar yang lezat.” Kata Flash.
“Haha…” Pen terkekeh.

Matahari akhirnya menghilang. Hutan benar-benar menjadi gelap gulita sebelum Flash berhasil menyalakan api dari ranting-ranting kering. Beruntung cahaya bulan segera menerangi, masuk melalui celah besar di atas sungai yang tak terhalang dedaunan. Udara dingin menusuk ke dalam tubuh mereka. Kini mereka bisa melihat asap tipis keluar dari mulut saat mereka berbicara. Hutan larangan berada di dataran yang lebih tinggi dari desa Nirwana. Jika desa Nirwana saja sangat dingin di malam hari, hutan ini pasti jauh lebih dingin.

“Ooh… Flash! Kau harus lihat ini.” Teriak Rujzit.
“Ada apa?” jawab Flash datar. Dia sedang asyik menambahkan ranting ke dalam kobaran api.
“Flaaassh!” Pete juga berteriak.

Flash menghampiri mereka berdua, melihat ke sungai “Oh Tuhan…!” Dia tercengang.

Semua ikan di sungai menyala, berwarna-warni. Biru, merah, kuning, ada juga yang berwarna perak dan emas. Rujzit mengucak matanya, memastikan ini bukan ilusi penglihatan di kegelapan. Kemudian dia percaya bahwa yang dilihatnya ini adalah nyata. Lagi pula Pete dan Flash juga melihat keajaiban ini. Rujzit memeriksa ikan yang sudah berhasil mereka tangkap, ikan itupun menyala. Tapi sedikit lebih redup.
“Ikan ini tak mungkin enak dimakan.” Gumam Rujzit.

Dia membawa empat ekor ikan hasil tangkapannya tadi, diceburkan kembali ikan itu di tepian sungai. Ketika tubuh ikan itu terkena air, cahayanya kembali terang. Lalu ikan-ikan itu berenang, bergabung dengan ikan-ikan lain. Mereka terpana menyaksikan keajaiban itu. Air sungai jadi gemerlap dengan ikan yang menyala. Siapa yang akan berani memakan ikan menyala? Mereka tidak mau ambil resiko kalau ternyata ikan itu beracun karena sihir. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan sisa bekal yang mereka punya.

Saat mereka membalikan badan untuk kembali ke areal datar, mereka sangat terkejut melihat seorang nenek tua sudah berdiri di hadapan mereka. Sontak Flash mencabut pedang dan menghunuskannya ke arah nenek itu, Pete juga mengikuti Flash. Ruzjit tak membawa pedang, dia hanya membawa pisau, tapi pisau itu ada di dalam renselnya sekarang. Tak akan sempat kalau harus mengambil pisaunya dulu. Jadi dia hanya berpura-pura memasang posisi kuda-kuda siap bertarung dengan tangan kosong layaknya seorang ksatria.

Nenek itu sudah sangat tua, memegang tongkat dari akar sebagai penopang tubuhnya yang sudah lemah. Wajahnya menyeramkan, pucat serta di penuhi keriput tebal. Hidungnya mancung, diimbangi dengan dagunya yang juga mancung. Seluruh rambutnya sudah memutih di gelung di bagian belakang kepalanya, sangat kontras dengan jubah berwarna hitam lusuh yang dia kenakan. Mata nenek itu menatap tajam mereka.

“Kalian mencariku?” Tanya sang nenek.


Bersambung,

Nenek Sihir Nenek Sihir Reviewed by Al Muh on 14.50.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.