Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 8 : Salah Paham Rambo)




Suatu sore, setelah jam istirahat usai. Sekitar jam 4 sore. Seorang anak kalang-kabut karena duitnya hilang (eh, gue lupa yang ilang itu duit atau apa ya, pokoknya ada yang kehilangan). Saat kejadian perkara itu kelas dalam keadaan kosong karena hampir semua anak sedang turun minum. Tapi ada beberapa siswa yang tetap berada di kelas. Mungkin sedang hemat uang buat malam mingguan, Hehe...

Nah yang jadi perkara di sini akhirnya bukan pelakunya yang ketangkap, justru salah paham hingga berujung penyerangan warga ke sekolah Smancis. Sebelum gue melanjutkan kisah ini, gue gak ada maksud mengungkit luka lama, gue cuma mau nulis "sejarah", ya semoga aja bisa jadi pelajaran buat kita khususnya para guru untuk lebih berhati-hati lagi.

Si anak yang kehilangan barangnya itu melaporkan kepada guru. Mendengar laporan itu, guru segera bertindak menyisir TKP, barang kali si pelapor lupa naro. Guru menanyakan siapa saja yang ada di kelas waktu jam istirahat. Ada beberapa orang, yang gak bisa gue sebutin satu persatu, tapi salah satunya adalah si Rambo (nama disamarkan).

Si guru bermaksud mengintrogasi semua anak yang ada di dalam kelas pas jam istirahat, atau lebih tepatnya mendengarkan keterangan saksi, asas praduga tidak bersalah, karena belum tentu mereka yang ada di kelas itu adalah pelakunya. Tapi, karena proses introgasi itu dilakukan sudah sore dan sebagian besar anak sudah pulang, jadi tidak semua anak keburu dipanggil untuk diintrogasi. Hanya Rambo yang sempat diintrogasi. Mengatahui hanya dia yang diintrogasi, dia merasa dituduh mencuri. Rambo yang berasal dari keluarga jawara itu merasa tidak senang dan marah besar. Padahal maksud si guru adalah menunda proses introgasi anak yang lain ke hari besok. "Buset kalau gini caranya, cuma gue yang diintrogasi, itu mah sama aja nyangka gue pelaku utamanya. Atau sama aja gue dianggap paling memungkinkan untuk melakukan pencurian", gerutu Rambo sambil nyoren tas dan buru-buru pulang.

Keesokan harinya, pas jam masuk kelas. Segerombolan jawara datang ke sekolah. Mereka mengamuk. Dan setelah gue selidiki ternyata itu adalah ayah Rambo serta teman-temannya. Mereka menuntut keadilan, mereka tidak senang anak kesayangannya dituduh mencuri. Dari segi ekonomi, Rambo termasuk orang yang cukup. Jadi tak akan mungkin melakukan hal itu.

Penjaga sekolah gak berani berkata apa-apa. Dia tahu keluarga Rambo ini adalah keluarga yang disegani. Jadi dia hanya memantau, dan melerai agar tidak terjadi pengrusakan aset sekolah. Akhirnya ayah rambo beserta beberapa orang sebagai perwakilan masuk ke ruang guru untuk melakukan runding dan mengklarifikasi kesalahpahaman yang terjadi. Gue gak tahu apa yang di rundingin, soalnya gue gak bisa masuk ke dalam ruang guru. Terlalu banyak pemuda di depan ruang guru yang haus keributan.

Proses berlangsung cukup lama. Dan yang terakhir gue lihat setelah perundingan selesai, Rambo dibawa pulang oleh ayahnya. Hari itu dia lebih memilih istirahat di rumah untuk menenangkan diri. Para jawara pulang menyisakan ancaman agar sekolah lebih berhati-hati dalam bersikap.

Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 8 : Salah Paham Rambo) Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 8 : Salah Paham Rambo) Reviewed by Al Muh on 14.09.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.