Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 9 : Selalu Ada Hikmah)

Sumber gambar dari sufistik.com

Beberapa minggu sebelum kejadian pagar haram.
Seorang guru harus rela meringkuk di rumah rawat inap patah tulang di Cihelang - Rumpin. Kecelakaan pagi itu, bersama Anto, membuat kaki sang guru serba bisa itu terkapar dalam ketidakberdayaan.

Kabar sampai ke kami beberapa saat sebelum masuk kelas. Semua terkejut, mendengar pak guru tabrakan saat menuju ke sekolah bersama Anto. Kejadian musibah itu di dekat sekolah Al-Mukhlishin, Ciseeng. Tepatnya di depan warung bakso Voli yang terkenal dengan ukurannya yang raksasa. Anto itu anak angkat dari pak guru (seperti yang pernah gue ceritain di part sebelumnya), makanya setiap berangkat dan pulang sekolah selalu bareng. Anto yang bawa motornya. Sepengelaman gue dibonceng si Anto sih, dia bawa motornya memang gak kira-kira, ngeri banget. Seradak-seruduk gitu.

Lawan tabrakannya, juga terluka parah. Soalnya posisi tabrakan itu adu domba. Cuma gue lupa kelanjutannya gimana. Siapa yang salah dalam insiden itu, gue gak inget pasti. Kalau gak salah si lawannya itu nuntut ganti rugi ke pak guru.

Pak guru dibawa ke rumah sakit terdekat untuk pertolongan pertama. Kaki pak guru patah. Setelah kabar itu sampai ke uwak gue, Wak Pandi, beliau merekomendasikan untuk membawa pak guru ke Abah Jamhari, seorang tukang urut tradisional yang sudah kawakan di daerah Rumpin - Bogor. Sementara anto di bawa oleh keluarganya ke Cibinong. Kata uwak gue, kalau patah tulang lebih baik ke tukang urut tradisional, soalnya kalau ke medis di rumah sakit pasti akan ada kemungkinan besar untuk ambil tindakan amputasi. Banyak tetangga, sanak saudara yang menurut dokter tak ada jalan lain kecuali amputasi, tapi pas di bawa ke Abah Jamhari, Alhamdulillah, tanpa operasi apa lagi amputasi, bisa sembuh normal seperti sediakala. Rugi seumur hidup kan kalau diamputasi padahal masih ada jalan lain. Tapi semua tergantung nasib juga ya :)

Pak guru belum punya istri, dan keluarganya pun jauh. Jadi, Andri temen gue bersuka rela untuk menemani dan membantu pak guru selama berada di rumah rawat. Seinget gue, Andri sampai satu minggu lebih gak masuk sekolah karena stand by di sana.

Setelah beberapa hari di rawat, gue diajak ngejenguk sama uwak gue. Bertemu beliau yang tetap tabah meski menahan rasa sakit. Apa lagi kalau kakinya digerakin sedikit aja, dia langsung meringis. Eh sebenernya itu bukan cuma jenguk sih, tapi sekalian jemput beliau untuk dibawa pulang ke rumahnya di daerah Depok.

Rumah rawatnya itu seperti rumah kos. Di kamar-kamarkan sekitar 2,5 x 2,5 meter. Pas gue ke sana jam 9 pagi, anak buah abah Jamhari baru saja selesai ngasih pengobatan harian. Kaki pak guru dibalur sama racikan dedaunan.

"Gimana kabarnya pak?" Tanya gue sambil cium tangan.
"Alhamdulillah baikan." Jawab pak Guru. Beliau coba gerakin kaki, tapi beliau jadi meringis kesakitan.

Ruang kamar sempit agak pengap, jadi pas gue masuk, Andri keluar dari kamar. Dia langsung ngeluarin HP nya dari saku celana. Gue rasa sih dia langsung ngehubungin kekasihnya, sebut saja namanya Hety. Andri pasti rada bete juga, gak bisa komunikasi sama kekasihnya. Soalnya pak guru gak suka sama orang pacaran, beliau melarang keras muridnya pacaran Paling Andri curi-curi waktu buat telponan sama Hety.

"Sudah boleh pulang memangnya pak guru?" Tanya uwak Pandi.
"Kata Abah sih belum boleh," jawab pak Guru kecewa, "paling nanti berobat jalan aja wak."

Sebelum pak guru pulang, Abah membekali balur dedaunan untuk dipakai beberapa hari ke depan. Penampilan balurnya sih menjijikan, campuran dedaunan yang ditumbuk halus, ada airnya gitu, dan berbuih. Pak guru dibantu uwak gue dan anak buah tukang urut masuk ke mobil. Beliau duduk di kursi tengah. Gue duduk di depan samping uwak gue yang bawa mobil. Kalau si Andri lebih memilih duduk di kursi belakang buat istirahat. Gue ngenes juga lihat si Andri. Mukanya udah pucet banget. Kasian mungkin dia banyak bergadang nemenin pak guru. Meski jasa Andri tak seberapa kalau dibanding sama jasa pak guru, tapi gue berdoa semoga jasamu berkah kawan. Dan FYI: sekarang Andri juga sudah jadi guru. Allahu Akbar!

Sampai di rumah pak guru, di rumahnya sepi. Cuma ada ibunya aja, sudah tua, dan udah gak terlalu awas. Tapi hebatnya pak guru tak pernah mengeluh apa-apa sama ibunya. Bilangnya cuma jatoh, pura-pura gak apa-apa. Padahal kaki pak guru patah. Kalau bilang patah ke ibunya, pasti ibunya bakal histeris. Pak guru gak mau itu terjadi. Dan kalau boleh gue jujur, itu pertama kalinya gue ke Depok haha...

Di balik musibah selalu ada hikmah, bukan begitu?
Dan hikmahnya baru terasa sekarang. Meski sebelum hikmah datang mungkin akan ada musibah lainnya. Gue ceritain nanti.

Bersambung,
Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 9 : Selalu Ada Hikmah) Tentang SMA Ciseeng dan Pagar Haram (Part 9 : Selalu Ada Hikmah) Reviewed by Al Muh on 19.34.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.