Umi-racle

Suatu pagi.
Sekitar pukul 10, di sela coffie break aku menikmati secangkir teh hangat di sebuah wisma di Puncak - Bogor. Bersama beberapa orang teman dari desaku dan puluhan orang lainnya dari berbagai desa di Bogor. Kami berkumpul di wisma itu untuk mengikuti kegiatan pelatihan petugas Sensus Pertanian tahun 2012.



Sedang asyik bercengkrama, berbagi pengalaman bersama teman lainnya, handphone tuaku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Nasuha, teman kuliahku. Dia mengabarkan bahwa bimbingan pertama skripsi dimajukan jadwalnya jadi hari ini, jam satu siang. Soalnya dosennya ada acara minggu depan.

Ah, itu kabar sangat buruk. Aku di puncak jam segini, hari libur, mana bisa sampai ke kampusku yang berada di Ciputat jam satu siang. Belum lagi aku harus mengambil perlengkapan bimbinganku di rumah yang rutenya bisa dibilang agak memutar.

Tak ingin membuang waktu, aku langsung meminta izin kepada ketua timku untuk pulang lebih duluan, untungnya ini adalah hari terakhir, jadi ketuaku mengizinkan aku pulang. Meskipun agak lama meminta izinnya. sudah hampir jam 11. Aku keluar ruang pelatihan dan berlari menuju kamar tempatku menginap, memasukan pakaian ke dalam tas serta alat-alat pelatihan.

Nahasnya, aku tak membawa kendaraan sendiri ke tempat pelatihan. Aku membonceng ke salah seorang teman timku. Aku menghubungi dia, untuk meminjam sepeda motornya, nanti aku akan kembalikan setelah selesai bimbingan skripsi. Aku tak peduli seberapa capek nanti lantaran aku harus bolak-balik Puncak - Ciputat. Yang ada dalam pikiranku hanya skripsi. Rupanya temanku itu justru malah senang saat aku bilang, aku mau pulang duluan. Dia jadi ada alasan untuk pulang juga katanya. Bosen tiga hari dengerin pembicaranya.

Aku beruntung banget, tapi ada ruginya juga. Harus buang waktu lagi nunggu temanku izin kepada ketuan dan packing baju.

Setengah 12 sudah.

Aku menelpon adikku untuk membawakan perlengkapan skripsiku ke parung. Nanti ketemuan denganku di parung. Dengan skema, dia bawa motorku ke parung sekaligus perlengkapan skripsiku, nanti aku estapet motor. Aku melanjutkan ke kampus dengan motorku, sementara adikku pulang bareng temanku yang dari Puncak. Kebetulan rumah temanku itu searah. Semoga adikku tidak salah membawa perlengkapan skripsiku, pikirku.

Meluncur dari wisma, rupanya jalur puncak arah bogor kota sedang di tutup dan sudah jam 12 sekarang. Hayoloh! (Seperti biasanya, kalau akhir pekan jalur puncak memang selalu buka tutup.) Itu kabar buruk pertama. Kabar buruk kedua aku tak tahu jalan pulang. Ini pertama kali aku ke Puncak mengendara sendiri.

Sudahlah, hanya kata Lillahita'ala saja yang menyertai perjalananku. Waktu itu belum Google maps masih belum familiar. Lagi pula handphone ku belum mendukung perangkat Google maps.

Setelah kabar buruk itu, rupanya ada secerca kabar baik. Seseorang mengatakan: Kalau sepeda motor masih boleh masuk meskipun jalur ditutup. Wah bahagianya, langsung cus lah.

Luar biasa, sepanjang perjalanan lancar tanpa hambatan. Padahal biasanya akhir pekan jalan di Bogor akan sangat macet. Tapi kali ini lancar. Dan setiap bertemu lampu merah selalu bertepatan dengan giliran lampu hijau. Sampai parung perjalanan tak bertemu kemacetan sama sekali. Begitu tiba di Parung langsung menjalankan skema yang sudah ku susun tadi. Aku melanjutkan perjalanan ke Ciputat sementara adikku pulang bersama temanku. Dan, lagi-lagi aku tak menemukan kemacetan.

Tiba di Ciputat aku melihat jam pada layar handphone menunjukan pukul satu lewat lima menit. Cuma telat lima menit pikirku. Cuma sempat mengatakan hai kepada kang parkir, aku langsung lari ke lantai dua tempat bimbinganku. Ternyata pak Ihsan (Dosenku) itu juga baru masuk. Jadi aku bisa berargumen bahwa aku tidak telat.

Aku baru sadar kalau perjalanku ini luar biasa, ketika aku menceritakan kepada Rendy, teman kelasku, bahwa aku langsung dari puncak, tadi jam 12. Dia kaget: Gile! Serius lu dari Puncak jam 12?

Mungkin ini sebuah keajaiban dari doa seorang ibu. Makanya tulisan ini aku berijudul Umiracle yang berasal dari kata Umi (Ibu) dan miracle (Keajaiban). Kenapa aku bisa bilang ini keajaiban doa ibu?
Jadi sebelum berangkat dari puncak, sebelum menelpon adikku, aku menelpon ibuku dulu. Meminta do'anya agar aku bisa selamat sampai Ciputat dan bisa ikut bimbingan skripsi. Jujur sebelum berangkat itu aku ga yakin bisa sampai Ciputat tepat waktu. Targetku sampai Ciputat itu jam 3 sore. Tapi Tuhan berkata lain. Dia meminjamkan aku sepeda motor temanku, Dia memberiku petunjuk jalan ke Ciputat, Dia membuat lampu lalu lintas menjadi hijau semua saat aku lalui. Dia membuat adikku tidak salah bawa perlengkapan skripsiku, dan terakhir Dia membuat judul skripsiku di terima langsung.

Umiracle
 AlMuh
Umi-racle Umi-racle Reviewed by Al Muh on 15.47.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.