Terjebak dalam Kamar Mandi



Betapa tak ingin ku tulis pengalaman ini. Terjebak dalam kamar mandi selama beberapa jam sangat menyedihkan. Terlebih kepengecutan diriku, tak mampu berbuat apa-apa. Padahal suasana amat genting.

Malam itu aku baru saja pulang kerja sekitar pukul 9 malam. Di rumah sedang berbahagia karena ibuku baru saja mendapatkan rejeki yang sangat besar, menurutku. 1 milyar rupiah uang tunai baru saja mendarat di rumah hasil kerja keras ibuku berbisnis. Tak ada perayaan, tapi makanan dan minuman memang sedang berlimpah malam itu. walaupun sebetulnya makanan itu untuk jamuan partner bisnis ibuku. Mereka hanya memakan sebagian kecil makanan-makanan itu, jadi bisa dipastikan bagian lain adalah kekuasaanku. Sayangnya ayah sudah taidak ada. Uh, betapa bahagianya beliau kalau masih ada di sini. Tentunya bukan karena melihat banyak makanan, tapi karena keberhasilan ibu yang luar biasa.

Selang beberapa lama para partner bisnis ibuku itu pamit. Meninggalkan satu koper uang lembaran berwarna merah renyah. Aku memerikasanya, sekedar memeriksa sepintas. Tak sanggup aku menghitung uang sebanyak itu, apa lagi sambil memastikan satu persatu uang itu asli atau palsu. Ibu bilang: biar besok saja orang bank yang menghitungnya dengan mesin.

Tapi aku tak habis pikir kenapa para partner bisnis ibuku itu lebih memilih memberikan uang tunai, kenapa tidak ditransfer saja. Itu kan lebih aman dari pada harus menyimpan uang sebanyak ini di rumah. Walaupun hanya satu malam saja. Katanya sih susah birokrasi dengan PT nya.

Perutku mulai terasa lapar, makanan di meja jadi lebih menggoda dari pada tumpukan uang dalam koper ini. Kedua adik laki-lakiku sudah lebih dulu bertarung di meja. Ah, aku kalah start. Sementara adik bungsuku sedang rungsing di pangkuan ibu. Dasar anak kecil, kalau lagi mengantuk dia bahkan seperti tidak tertarik sama sekali dengan tumpukan uang dan makanan ini.

Aku duduk di kursi ayah, bagaimanapun sekarang ini aku adalah ayah bagi ketiga adikku. Rupanya makanan masih cukup banyak, entah adikku yang sedang tidak makan banyak atau memang jumlah makanan ini terlalu banyak. Aku tidak bisa menyebutkan makanan apa saja yang ada, kecuali rendang ini; nikmat sekali. Makanan ringan dan buah-buahan ada di meja di ruangan tamu. Sambil makan kami mulai mengobrol, mengkira-kirakan apa yang bisa dibeli dengan uang itu. Hingga makan usai, perkiraan itu masih belum selesai. Terlalu banyak yang ingin kami beli, dan itu bisa dibeli.

Ibu yang pertama undur diri untuk istirahat. Istirahatlah bu, biar besok segar lagi. Aku melanjutkan penjamahan ke buah-buahan. Saat kedua adik laki-lakiku justru memilih gitarnya dan bernyanyi padahal lebih bagus tak bernyanyi.

Tak terasa sudah hampir setengah 12 tengah malam. Udara cukup gerah malam itu, jadi aku memutuskan untuk mandi di kamar mandi belakang. Ada dua kamar mandi di rumahku. Kamar mandi utama yang berdekatan dengan ruang keluarga dan ruang tamu dan kamar mandi belakang dekat dapur. Malam ini agak kurang tenang, jadi ku kunci pintu rumah dengan lebih ketat, aku bahkan mengganjal pintu dengan kursi. Rumahku tak terlalu besar, hanya ada empat kamar, ruang tamu yang terhubung oleh lorong pendek untuk sampai ke ruang keluarga, ada dapur dan juga gudang di bagian belakang.

Sebenarnya kamar mandi adalah tempat kesukaanku, karena udaranya lembab dan lebih dingin. Kamar mandi juga bisa jadi dapur rekamanku, dimana aku bisa berteriak-teriak untuk check sound. Tapi malam ini aku lagi kurang mood buat nyanyi. Nongkrong saja di toilet. Dan kesukaanku adalah mendengarkan suara gemercik air keran yang jatuh ke bak mandi. Aku sering berhayal, aku membayakan aku sedang berada di kolam dengan air terjun dari pegunungan asli. Sejuk dan menyegarkan. Aku bahkan membayakankan jadi bajak laut.

Terlalu nyaman duduk di toilet dengan lantunan suara air terjun pribadiku, aku ketiduran. Dan saat aku terbangun aku terkejut, rupanya aku sudah satu jam berada dalam kamar mandi. Untung saja ini bukan pagi jam berangkat sekolah, soalnya kalau pagi pasti ada yang ketuk pintu, ingin poop juga. Aku langsung cebok, duburku sudah berkerak. Karena sudah ketiduran aku jadi tidak berselera untuk mandi. Aku mengenakan handuk lalu keluar dari tempat kesukaanku itu. Baju yang ku kenakan tadi aku taruh ke dalam mesin cuci.

Dari dapur, aku menuju ruang keluarga, itu memang jalur ke kamarku. Baru sepotong wajahku menghadap ke ruang keluarga, aku melihat tiga orang laki-laki bertubuh besar sedang mengikat adikku di kursi meja makan. Dua orang memegang golok yang mengkilat-kilat. Sementara satu orang lain memegang pistol. Laki-laki yang memegang pistol itu berteriak perlahan tapi suaranya menggema, “Cepat cari uang itu, pasti ada di kamar ibunya.”

Tiba-tiba badanku gemetar hebat. Aku langsung menarik tubuhku kembali ke dapur. Nafasku terengah-engah seperti habis lari jauh. Jantungku, ah, dia seperti memukul-mukul dadaku. Adrenalinku yang melonjak seketika membuat keringatku bercucuran. Otakku spontan bertengkar: ini hantu atau rampok. Dalam pertengkaran otakku itu, aku mendengar suara lagi, “Woy, buka pintu. Atau anak lu gue gorok.”

Ya Allah, mendengar kalimat itu kakiku semakin bergetar. Di susul suara tangisan ibuku dari dalam. Ibuku juga pasti ketakutan. Terlebih mengetahui anaknya berada dalam ancaman. Tiga orang di ruang keluarga dan satu orang di depan pintu kamar ibuku, berarti jumlahnya ada empat orang. Untung saja ibu selalu mengunci kamarnya saat dia tidur. Beruntung juga adik bungsuku malam ini tidur bersama ibu. Oh, terima kasih, Tuhan, setidaknya ibuku aman beberapa saat. Lalu terdengar suara membuka pintu, rupanya ibu tak sanggup dengan ancaman tadi. Ku rasa ibu lebih memilih berkumpul dengan anak-anaknya dalam keadaan genting ini. Uang bukan lagi hal berharga.

Ibuku menjerit bersama dengan suara seorang laki-laki lagi, “di mana uangnya?”

Aku menduga ibuku pasti dijambaknya lalu di lemparkan ke arah adikku yang terikat. Suara ibu tersungkur di lantai menghantam meja makan. Adik bungsuku menangis sebelum akhirnya ada suara lagi, “sumpal mulut anak itu.” dan seketika aku tak bisa lagi mendengar suara si bungsu.
“Geledah rumah ini.” Kata suara itu lagi.

Aku berlalu masuk ke kamar mandi lagi untuk bersembunyi. Saat yang bersamaan aku merasa menjadi pengecut yang amat sangat. Harusnya aku menyelamatkan adik-adikku, tapi aku malah bersembunyi seperti ini. Ibuku pasti sangat kecewa kepadaku, kepadaku yang jadi pemimpin di rumah ini. Atau justru ibu lebih menginginkan aku untuk terus bersembunyi menyelamatkan diri.

Iya, uang itu berada di kamarku. Aku sembunyikan di kolong meja komputerku. Dari dalam kamar mandi ini aku masih bisa mendengar suara para perampok itu, mengobrak-abrik rumahku. Aku harus bagaimana, aku harusnya berteriak minta tolong. Tapi sepertinya itu tidak akan jadi pilihan tepat. Posisiku berada di kamar mandi yang kedap, terlebih lagi letak para tetangga cukup jauh. Aku tak yakin ada yang mendengar suara teriakanku. Kalaupun ada, pasti lebih dulu kami dibunuh para perampok ini sebelum bantuan warga datang.

Pintu kamar mandiku memiliki kaca di bagian atasnya. Tapi tidak tembus pandang. Kaca itu bermotif jadi hanya bisa menembuskan pergerakan cahaya yang ada di dapur. Harusnya tadi aku mematikan lampu kamar mandi, agar para perampok itu tak akan mengira ada orang di dalamnya. Atau para perampok tetap menggeledah kamar mandi? Aku tak tahu, tergantung prosedur perampokan mereka. Sekarang sudah terlambat untuk mematikan lampu, sebuah pergerakan terdeteksi di dapur. Aku yakin pasti perampok itu. Mereka masih mencari uangnya, mereka pasti belum menemukan uangnya. Tapi aku tak sepenuhnya yakin, mereka pasti sudah menemukan uangnya. Lalu untuk apa perampok ini ke dapur. Bisa jadi mereka lapar. Tapi, kan makanan ada di ruang keluarga, di meja makan, bukan di dapur. Ah, pasti mereka kebelet ke toilet. Matilah aku, matilah aku, matilah aku. Tapi kenapa dia tidak menggunakan toilet dekat ruang keluarga, kan lebih dekat, kenapa perampok itu malah ke dapur. Aku berusaha menenangkan diri, dalam keadaan seperti ini otakku tak bisa berjalan dengan baik. Aku mencari sesuatu yang bisa aku gunakan sebagai senjata, setidaknya kalau perampok itu masuk ke kamar mandi, aku bisa menusuknya. Tapi ada apa dalam kamar mandi ini. Aku mengedarkan pandang, tanpa bergerak sama sekali. Kalau aku bergerak, kaca di pintu kamar mandi ini akan menembuskan pergerakan cahaya di dalam kamar mandi, dan perampok itu akan tahu ada orang di dalam kamar mandi.

Ah sial! Aku memekik. Tak ada apapun di sini. Hanya ada sikat gigi, dan sikat toilet. Sisanya hanya odol, sabun, sampo, karbol dan perangkat lunak lainnya yang tak bisa diandalkan. Kecuali kalau para perampok itu mau aku suruh minum karbol.

Harusnya tadi sebelum aku masuk ke kamar mandi, aku mengambil golok di dapur. Harusnya. Tapi tadi tidak terpikir sama sekali. Tadi hanya terpikir untuk melarikan diri dan mencari bantuan. Sekarang, saat sudah tidak bisa melarikan diri, kalau meraka menemukanku, hanya ada dua pilihan: melawan dengan gagang sikat toilet atau menyerah lalu bergabung diikat bersama keluargaku.

Beberapa detik ini jadi paling mendebarkan. Saat aku melihat dari kaca pintu kamar mandi, pergerakan bayangan mendekat ke arah kamar mandi. Semakin mendekat dan aku yakin perampok itu akan masuk ke kamar mandi. Aku tak mengunci pintu kamar mandi, tadi tidak sempat. Lebih baik tak aku kunci, itulah yang sedikit menyelamatkanku. Kalau aku kunci, suara kunci itu akan terdengar sampai ke ruang tamu.

Perampok itu semakin mendekat, aku merangkak ke belakang pintu. Tuas pintu bergerak, aku sudah berada di belakang pintu. Detik-detik paling menegangkan dalam hidupku, dimana aku merasa ketakukan tapi harus memilih untuk tetap diam, bersembunyi di belakang pintu atau memukul kepala perampok itu dengan gagang sikat toilet. Tapi kucing saja hanya menjerit kalau ibu lagi kesal dan melemparnya dengan sikat ini; apa lagi perampok dengan badan seperti herkules ini. Ujung gagang sikat juga tumpul, tidak mungkin bisa aku tusukan.

Ternyata, Tuhan masih menyelamatkanku, si perampok hanya membuka pintu 20 derajat. Lalu menutupnya lagi. Andai saja perampok itu membuka pintu dengan lebih lebar, pasti badanku ini akan mengganjal pintu dan dia akan tahu kalau ada orang di belakang pintu. Perampok itu berlalu.

Tubuhku terus gemetar. Beberapa lama berselang, aku tak mendengar suara perampok itu lagi, juga suara keluargaku. Kecuali suara mobil yang menjauh dari rumahku. Mungkin perampoknya sudah pergi. Apapun itu, aku harus keluar, menyelamatkan keluarga. Atau lebih tepatnya bergabung bersama keluargaku diikat di kursi.

Perlahan aku bergerak menuju ruang keluarga. Sudah sepi. Perampok itu sudah pergi. Aku tiba di ruang keluarga, saat itulah aku merasa menjadi seorang pengecut, pengecut sepengecut-pengecutnya. Tubuh ini lemas selemas-lemasnya. Ibu, dan ketiga adikku sudah tak bernyawa bersimbah darah.



Almuh.
Terjebak dalam Kamar Mandi Terjebak dalam Kamar Mandi Reviewed by Al Muh on 17.03.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.