SACO 35 (Bagian 1)


Katanya, kalau kau ingin jadi seorang penulis maka kau harus lari dari rumah. Seorang penulis dunia berkata seperti itu.


Sebuah kamar kos sempit berukuran satu setengah meter kali tiga meter menjadi pilihan gue. Menjalankan omongan penulis dunia itu, yang sebenarnya gue gak kenal sama sekali dengannya. Dia juga sudah mati tak mungkin dikonfirmasi. Entah apa maksud dia kalau kita harus lari dari rumah, gue juga gak paham. Mungkin agar kita bisa lebih bebas menulis, bisa bangun siang, bisa tidur larut malam atau semacamnya. Tapi bisa juga membuat kita kelaparan saat kita tidak menulis, kalau menulis benar-benar telah menjadi jalan usaha kita. Kalau tidak menulis, maka tidak ada uang dan tidak bisa makan.


Tapi terlepas dari perkataan orang itu, gue juga mengikuti pelajaran yang diajarkan nabi SAW untuk berhijrah. Berhijrah secara teritori, berhijrah secara pola pikir.

Hari pertama menempati kamar indekos gue, rasanya gue tak mungkin akan betah. Kamarnya terlalu kecil, gue gak bisa berbaring ke arah lain. Lebar kamar gue bahkan tak setinggi badan gue yang cuma 170 cm. Dan yang terburuk kamar gue itu bau banget. Bau, semacam ompol tikus atau taik cicak. Entahlah pokoknya bau. Gue gak bisa tidur. Sampai hati gue berkata: Gue sudah hijrah sekarang, gue sendirian, benar-benar sendirian. Tidak ada yang bisa bantu gue kecuali diri gue sendiri. Kalau gue masih menjadi seorang pemalas seperti masih di rumah bersama keluarga, lalu untuk apa berhijrah? Dikemanakan makna mulia berhijrah itu?

Terbangun dari tidur ayam gue. Tidur yang sama sekali tidak tidur kecuali hanya seremoni mata terpejam. Gue mengendus kasur dan bantal gue, juga lantai kamar gue itu. Mencari sumber bau yang sangat mengganggu itu. Bahkan dindingnya juga gue baui. Rasanya gue sudah tidak bisa membedakan dimana letak bau yang menjadi sumbernya. Baunya sudah benar-benar menyebar ke seluruh ruangan, melekat ke seluruh isi ruangan.

Gue menuju ke kamar mandi. Biasanya sumber bau berasal dari tempat buang hajat ini. Kamar mandinya cukup bersih, baru direnovasi, jadi lantai dan cat nya masih sangat bersih. Dugaan gue semakin kuat lantaran pas masuk, bau di dalam toilet ini lebih menyengat. Gue baui dinding dan lantainya, semuanya bau. Tapi gue tidak yakin itu adalah sumbernya. Sepertinya dinding dan lantai ini hanya menjadi korban akibat dari si sumber bau. Gue mencium bak tempat menampung air, sama dengan yang lain, hanya tercium bau tapi bukan sebagai sumber. Gue putar keran air, dan mencium airnya, tidak bau.

Gue mengedarkan pandang dengan penasaran, dari mana letak bau ini. Rasa kantuk membuat gue kembali ke tempat tidur, mengambil pengharum ruangan dan menyemprotkannya ke seluruh ruangan. Lalu berbaring menikmati aroma wangi. Beberapa saat aroma pengharum ruangan bisa mengatasi bau itu. Tapi bau itu datang lagi setelah aroma pengharum ruangan memudar. Hati gue berpikir, itulah kalau kita tidak menyelesaikan masalah dari sumbernya, pasti masalah itu akan balik lagi.

Kamar mandi menjadi tempat utama yang gue curigai. Sekali lagu gue harus memastikan kecurigaan gue tidak salah. Gue mencium closed, tapi tidak bau. Pandangan gue tertuju pada lantai kamar mandi. Tidak ada jalan pembuangan air, dimana dia. Woy.. dimana dia?

Harusnya ada saluran pembuangan air selain closed. Gue geser bak penampung air, rupanya saluran pembuangan air tertutup bak. Pembungan air juga sudah tidak ada penutupnya, pasti saluran air itu langsung mengarah ke kandang utama kotoran di bawah sana: Septic tank.
Gue rasa, tindakan bodoh jika gue harus mencium saluran pembuangan itu. Tak usah, gue langsung saja menyumbat saluran itu dengan plastik. Gue tersenyum lega, mungkin kalau saluran air itu adalah teman gue, gue bakal ngejek: mampus kau aku sumpal.
Untuk menetralisir udara di ruangan, pengharum ruangan kembali gue semprotkan serata mungkin. Gue pastikan tak ada udara yang tidak terkena pengharum. Gue mengaduknya dengan kain sarung yang gue putar terus menerus.

"Baiklah, saatnya tidur."

Bau itu tak tercium lagi untuk waktu yang lama. Kecuali ketika pukul 02.00 pagi gue terbangunkan karena bau itu lagi.

"Sialan!" kataku.

Lalu pikiran gue melayang, dan ingat ucapan seseorang yang mengatakan bahwa kalau kita terbangun di malam hari, itu tandanya Tuhan sedang merindukan kita. Sepertiga malam itulah Tuhan turun ke langit dunia untuk melihat hamba-Nya.

Tapi kenapa Tuhan membangunkanku dengan cara bau toilet seperti itu? Bukankan Tuhan maha indah, Maha suci, harusnya Tuhan membangunkanku dengan wewangian dari surga?
Hatiku yang lain berkata: Kau harus ingat bahwa neraka lebih bau dari ini. Tuhan menciptakan bau dan wangi agar kita bersyukur. Kita bisa tahu bau karena ada wangi, begitu juga sebaliknya.

Ah, Tuhan, maafkan aku. Mungkin aku ini sangat berlumur dosa. Maka kau membangunkanku dengan aroma neraka agar aku tahu neraka begitu dekat.

Bersambung...



SACO 35 (Bagian 1) SACO 35 (Bagian 1) Reviewed by Al Muh on 11.58.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.