Siapa yang Memanggilku?


"Imajinasimu terlalu berlebihan, Supri. Kebanyakan nonton film, kamu." Komentar bu haji.

"Serius, tapi sejak aku tugas ke Bali minggu lalu, aku selalu mendengar seseorang memanggil namaku." Supri bersikeras. "Waktu di bandara, tak terhitung berapa kali ada yang memanggil namaku."

"Yang habis dari toilet, itu kamu ngapain celingak-celinguk?" Tanya bu haji.

"Nah, itu aku denger seseorang manggil namaku. Suaranya mirip suara pak Ardan. Tapi pas aku cari, tak ada pak Ardan. Lagi pula pak Ardan, kan, sudah lebih dulu terbang pesawatnya."

"Mungkin itu karena kamu phobia banget naik pesawat, sampai kepikiran." Kata bu haji.

"Tapi lagi bawa motor juga ada yang manggil. Aku sampai berhenti lho buat nyari siapa yang manggilku." Ungkap Supri.

"Terus ada orang yang manggilnya?"

"Gak ada, bu."

Tak ada yang terlalu peduli dengan cerita Supri. Obrolan tidak penting dikala makan siang, mungkin tak menarik bagi teman-teman Supri. Kecuali bu haji, dia juga tidak tertarik. Tapi, ya, mungkin bu haji tidak tega kalau Supri sampai ngomong sendiri tak ada yang menaggapi. Sebagai atasan yang baik, menanggapi cerita dari bawahannya seperti sebuah keharusan. Supri dianggap sudah terlalu sering berhayal, sampai-sampai Supri dijuluki dengan Suprinatural. Padahal nama aslinya adalah Supriyaditya.

"Sampai hari ini masih ada suara yang manggil kamu itu?" Tanya bu haji lagi.

"Ada, bu. Sepertinya suara itu ingin menyampaikan sesuatu."

"Husst... sudah ah jangan kebanyakan imajinasi, kamu kurang istirahat kayaknya. Besok kamu istirahat saja dulu di rumah ya. Ibu izinkan."


Keesokan harinya.

Supri berbaring di tempat tidurnya. Istirahat di rumah ternyata tidak membuat dia tenang. Dia malah semakin berhalusinasi. Suara yang memanggilnya semakin intens dan bervariasi. Tapi semua suara itu adalah suara teman-temannya di kantor.

Sementara di kantor, hari ini adalah ulang tahun pak Ardan. Untuk merayakannya, pak Ardan membawa banyak bahan makanan untuk dimasak di kantor. Semua bahan makan itu difoto, dikirim ke grup WhatsApp kantor.

Melihat foto-foto makanan itu, Supri seakan menyesal tidak masuk kantor. Dia merasa seperti tertipu, sengaja disuruh istirahat di rumah agar tidak ikut makan besar.

Semakin Supri tergoda dengan foto-foto makanan itu, semakin banyak suara teman-temannya yang memanggil. Sampai akhirnya Supri memutuskan untuk masuk tetap masuk kantor.

Pukul 11.00.
Supri bersiap berangkat ke kantor. Sekarang suara memanggil itu semakin banyak. Supri menutup telinganya. Tapi suara itu malah semakin terdengar saat Supri menutup telinganya rapat-rapat.

Suara itu,
Suara minta tolong...
Teman-temannya minta tolong.

Supri jadi seperti orang stres, dia mendengar suara itu, sekarang suara teriakan meminta tolong. Sampai satu suara terdenga jelas. Suara itu, suara ibu haji.

"Supri, jangan ke kantor, Nak. Kompor akan meledak. Kami akan mati, nak."
"Tolong kami." Suara teriakan.
"Supri, beritahu kami, Supri. Beritahu kami, kompor akan meledak."

Supri memukul-mukul telinganya. Kesal dengan gangguan semua suara itu.

"Supri, tolong kami, nak." Suara bu haji terdengar merintih.

Supri mengambil handphone dari sakunya, dia langsung menelpon ibu haji. Saat bu haji mengangkat teleponnya, terdengar dari dalam telepon suara teman-temannya sedang asyik memasak. Suara sesuatu digoreng, suara piring, sendok, garpu yang sedang dipersiapkan.

"Ya, Supri..." Kata bu haji.

"Bu..." Kata supri terengah-engah. "Ibu, semuanya segera matikan kompor dan keluar dari ruangan bu. Kompornya akan meledak. Suara itu, suara itu, dia menyampaikan pesan kalau kompor di kantor hari ini akan meledak."

"Haha... kamu masih imajinasi saja, ya. Sudah kamu istirahat dulu saja. Nanti kalau ada makan-makan lagi, pastikan kamu sudah sehat, ya."

"Tapi bu..."

Belum sempat Supri berkata lebih, suara ledakan terdengar, disusul dengan suara jerintan teman-temannya. Suara bu haji juga terdengar panik dan langsung menutup telepon.

Supri mencoba menghubungi bu haji, tapi tak diangkat. Begitu juga teman yang lainnya. Tak satu orang pun mengangkat telepon dari Supri. Supri jadi semakin stres, apa benar kompor itu meledak, atau teman-temannya hanya berakting.

Dalam suasana hatinya yang kacau itu dia memutuskan untuk berangkat ke kantor. Beberapa ratus meter dari kantornya, terlihat asap membumbung tinggi ke langit. Supri mempercepat lajunya. Saat tiba di kantor, rupanya benar, semua bisikan suara itu terjadi. Terjadi kebakaran hebat di kantornya. Berasal dari ledakan kompor di lantai dua.

Dan semua tim divisi Supri tewas mengenaskan. Bukan karena kebakaran itu, tapi saat mereka keluar dari gedung dan berkumpul di teras kantor, tiba-tiba sebuah truk tronton kehilangan kendali dan menabrak semua orang yang ada di teras halaman kantor.

-Almuh-
Siapa yang Memanggilku? Siapa yang Memanggilku? Reviewed by Al Muh on 11.11.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.