SACO 35 (Bagian 2: Menemukan kebahagiaan)



Sudah dua bulan gue menjadi seorang anak kos. Tak terasa, padahal awal masuk gue tak sedikitpun merasa akan betah tinggal di kamar ini. Kecoa dan bau permentasi septikteng, ah itu membuat gue mual setiap malam. Baru-baru ini gue menemukan fakta baru soal bau itu, rupanya itu juga disebabkan karena kotoran cicak hampir kutemukan setiap pagi, menempel di dinding atau tergeletak tak berdaya di lantai berbedu.


Kalau mau betah, kata orang, kita harus mencari celah kebahagiaan di sesuatu hal yang kita jalani. Sampai sejauh ini belum ada, kecuali makan. Dan sebab itulah kenapa sekarang aku tambah gemuk, mengherankan, saat sebahagian besar anak kos mengalami gizi buruk, gue malah makin menggemuk, perut buncit (ini juga sebetulnya salah satu indikasi gizi buruk haha).


Suatu malam saat gue pulang kerja, dengan mata yang sayu, membuka pintu kamar gue lalu masuk. Pas pintu kamar gue tutup kembali, terdengar suara motor berhenti di depan rumah kos gue. aku mengintipnya lewat jendela, menyingsingkan sedikit gordennya.


Alajinasss... rupanya kebahagiaan yang gue cari-cari ada depan rumah kos gue. Kau tahu, sesosok bidadari ala bumi, baru aja turun dari sepeda motor. Mengenakan blazer ala cewek kantoran gitu. Dan roknya itu lho yang bikin deg-degan, gue sampai menduga jangan-jangan itu rok dia waktu SD sekarang dipakai lagi. Sayangnya, sepertinya yang mengantarkan dia pulang itu pacarnya. Jadi ya, sudahlah. Lagi pula, gue sudah tidak seperti dulu lagi, yang ngelihat cewek cantik langsung ngiler. Sekarang sudah engga begitu, cukup berdo'a aja: Ya, Tuhan, putuskan dia dengan pacarnya, dan cewek itu padaku. Haha gak kok, gak begini do'anya.


Sebetulnya, gadis cantik semacam ini bukan yang pertama gue lihat. Beberapa cewek cantik juga pernah gue lihat sebelumnya, rupanya rumah kos tetangga gue ini dihuni oleh keindahan, tak seperti kosan gue yang dihuni kecoa dan cicak. Satu lagi-- semut gula, yang kecil tapi sekalinya gigit bisa bikin pantat gatal-gatal.


Sudahlah, gue tutup kembali gorden jendela kamarku itu. Sudah pasti kasta cewek-cewek itu berbeda dengan gue. Kosan tetangga gue itu termasuk kosan mewah, jadi pasti para penghuninya pun orang-orang tajir, atau setidaknya yang gajinya gak bakal habis dan gak harus memikirkan untuk berhemat sampai datang bulan (gajian berikutnya).


Lupakan gadis-gadis itu. Alih-alih terus memikirkan gadis itu, gue menatap ke kedalaman kamar, masih gelap. Saklar lampunyanya berada di sisi terjauh dari pintu. Jadi untuk menggapai saklar itu, gue harus berjalan menerobos kegelapan. Satu-satunya sumber cahaya adalah dari celah pintu kamar mandi. Mamang gak pernah gue matikan. Biar gak banyak nyamak. Nyamuk itu suka spektrum gelap, jadi kalau ruangan gelap pasti akan lebih banyak nyamuk dari pada ruangan yang terang.

Saat lampu menyala, gue bisa melihat cicak tunggang langgang mencari tempat persembunyian. Lain halnya dengan kecoa, mereka seakan tak peduli gue datang. Serangga bernyali besar kurasa. Lu tahu, gue sering mengusir kecoa dengan sabetan sarung, atau lap, tapi kecoa itu bukan lari menjauh malahan dia makin merangsak ke arah gue, bahkan memasang kuda-kuda untuk terbang menyerang gue. Asli gue gak bohong. Meskipun gue takut, tapi gue lebih berakal dari dia. Beberapa hari lalu gue memaksakan diri untuk beli Hit anti nyamuk dan kecoa. Setidaknya beli ini, uang jatah makan malam gue berkurang. Tak apalah, yang penting gue punya senjata untuk melawan kecoa-kecoa ini.

Ujicoba pertama kali adalah saat ada seekor kecoa tengah asyik bermain perosotan di gorden gue. Semprotan yang berisi angin bercampur racun itu tepat menghujani si kecoa malang. Tak seperti saat gue serang dengan lap-- kecoa itu makin mendekat, kali ini dia langsung kalang-kabut. Berlari entah kemana, benar-benar kehilangan arah. Gue menduga semprotan gue tepat mengenai wajahnya yang tampan (mungkin, menurut kecoa cewek) dan matanya yang entah dimana letaknya, gue tak tahu. Yang jelas dia langsung kabur ke luar kamar lewat pintu. Sengaja gue buka pintu kamar untuknya berlari. Gue gak mau repot-repot mengurus jenazah kecoa kalau sampai dia mati dalam kamar gue.

Setelah pertempuran dengan kecoa berakhir malam itu, dan gue memenanginya kemudian menjadi pemegang kekuasaan sekarang. Gue harap kecoa itu tahu bahwa gue yang punya otoritas di kamar ini sekarang. Kalau mereka mau masuk dan main-main, mereka harus membayar mahal dengan menenggak racun dalam botol Hit. Gue bisa tidur nyenyak. Kecuali suara motor kembali membangunkan gue; disusul suara wanita yang lembut: Makasih ya, Sayang. Hati-hati di jalan. Lalu motor itu berlalu bersama datangnya hening malam.

Bersambung...
SACO 35 (Bagian 2: Menemukan kebahagiaan) SACO 35 (Bagian 2: Menemukan kebahagiaan) Reviewed by Al Muh on 19.01.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.