Lestari Kebersamaan Kita

Tak terasa dua tahun sudah berlalu, setelah postingan pertama tentang Budaya Marhaba di Ciseeng. Bahagia sekali, saat ini masih bisa merasakan berkumpul dalam silaturahmi.



Sore itu, pulang dari kosan, saya dikabari teman saya. Katanya: "Bro, malam ini muludan di kobong (Kobong= Persantren)". Sempat malas datang, soalnya dadakan banget dikasih tahunya. Malu juga datang kalau tanpa ada sumbangsih apa-apa ke pesantren yang dari kecil saya menuntut ilmu.

Pas habis magrib saya mengirim chat ke anak guru ngaji saya di pesantren ini, memastikan apakah benar muludan malam ini. Dia tidak membalas, sampai waktu isya tiba. Pas memutuskan untuk tidak hadir, si anak gurunya jadi saya itu, namanya Ucin, menelpon saya. Memaksa saya untuk datang.

Saya ingat apa yang guru ngaji saya katakan: kalau ngaji sudah tidak ada waktu dan malas, setidaknya saat seperti ini, harus datang. Tidak perlu malu, malu itu sebagian dari iman, tapi kalau berlebihan malunya, itu dari setan datangnya.

Akhirnya saya sholat isya, terus berangkat ke pesantren. Di perjalan, saya bertemu dengan Amir, rupanya dia juga mau datang. Seneng banget, rupanya alumni pesantren angkatan saya waktu itu, hampir semua hadir.

Alhamdulillah.

Pas marhabaan dilantunkan, rupanya banyak lagam (lagu / nada) baru yang dibawakan. Saya tidak mengenal lagam-lagam baru ini. Tapi lagam marhaba ini mudah ditangkap. Jadi tak perlu waktu lama, saya sudah bisa mengikuti lagam itu. Hanya butuh 1 bait untuk merekam nada dalam otak saya.



Keseruan dalam marhaba. Kebetulan malam itu dibarengi dengan acara gunting rambut anak dari putrinya pak Kiyai.



Setelah marhaba, tahlilan dan lainnya selesai, inilah saatnya makan bersama. Yahh... ini paling seru. Bukan makanannya yang membuat nikmat, tapi kebersamaannya itu lho. Luar biasa. Saya berharap ini akan terus lestari. Meski kalau diperhatikan anak muda jaman sekarang sudah enggan bergabung di pesantren, ngariung. Ngariung sendiri artinya berkumpul, tapi makna lebihnya ngariung adalah berkumpul bersama dalam sebuah pengajian lalu setelahnya; biasanya ada makan bersama.

Ini sih sebetulnya yang mendasari kenapa anak muda enggan ikut ngariung, karena mereka takut di cap "giliran makan-makan, ikutan pengajian, tapi giliran pengajian yang ga ada makan-makannya gak ikutan."

Memang suka ada yang nyeletuk begini, dan memang sangat memalukan. Tapi kata-kata itulah yang menjadikan ngariung ini hampir punah di kalangan remaja. Malu takut dikatain.

Ya, balik lagi ke perkataan kiyai saya, jauh lebih baik seorang remaja ikut ngariung tapi gak ngaji, dari pada gak kedua-duanya.





Indahnya pesantren tradisional. Rumah panggung, dengan kayu-kayu dan bilik-bilik bambu yang terasa sejuk dan tenang. Jauh dari kebisingan kendaraan dan hal lainnya.



Ini kamar kobongnya. Biasanya dihuni tiga sampai lima orang. Dulu saya seperti ini. Dan, ini dulu adalah kamar saya. Rupanya masih terawat dengan baik, padahal sudah 8 tahun saya pergi. Malah ini lebih bagus dari waktu saya tempatin. Kiyai saya memang pandai arsitek, meskipun dia tidak pernah sekolah formal sama sekali. Belajar membuat bangunan, hanya dari pengalaman.



Yang belum pernah merasakan bagaimana indahnya jadi santri tradisional, datanglah ke tempat saya. Cobalah indahnya.

Sekian :)

Lestari Kebersamaan Kita Lestari Kebersamaan Kita Reviewed by Al Muh on 18.35.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.