NS - 5



Dering telpon membangunkanku dari tidur. Suasana begitu sepi, kecuali suara telpon itu, berasal dari ruang perawat seberang ruanganku. Aku bangkit dari tempat tidur, mengamati sekeliling. Pasien lain tengah tidur pulas. Adikku tertidur lelap di kursi samping tempat tidurku. Kasihan, setiap malam dia bergadang menjagaku di rumah sakit. Di tangan kiriku, infusan menempel, lalu dengan sedikit usaha, aku meraih botol infusan yang digantung pada tiang kecil di dekatku. Aku berjalan tertatih keluar ruangan menuju lorong penghubung antara ruanganku dengan ruang perawat.

Telpon terus berdering, tapi tak ada tanda-tanda perawat akan mengangkat telpon itu. Mungkin para perawat ketiduran. Aku mengintip dari celah pintu, ternyata tak ada perawat seorang pun. Telpon itu seperti berteriak memanggil para perawat. Sayangnya sampai beberapa saat kemudian, tak satu pun perawat muncul.

Aku mengabaikan telpon itu, meski suaranya begitu memecah keheningan. Sekarang pandanganku tertuju pada jendela-jendela lorong. Jendela itu mengarah ke luar. Di siang hari, pemandangan perbukitan tersuguh di balik jendela. Tapi saat malam seperti ini, itu tak lebih seperti kaca hitam pekat.

Tiba-tiba suara petir menggelegar, kilat menyala dari sisi luar memperlihatkan hujan mengguyur lebat, diiringi suara angin kencang. Aku mendekat ke arah jendela, yang terlihat hanya kegelapan. Sampai sebuah kilatan besar menerangi gelapnya pemandangan di luar. Aku terkejut, pemandangan perbukitan itu berubah menjadi lautan. Lalu terdengar sebuah dentuman keras. Seperti suara benda besar bertumbukan. Lorong itu bergoyang hebat. Miring ke kiri puluhan derajat, kemudian ke kanan, membuatku mual. Ketika kilat-kilat berikutnya menerangi keadaan di luar, aku semakin terkejut, sekarang aku berada dalam kapal di tengah badai hebat. Bukan lagi di rumah sakit. Lampu dan alaram tanda keadaan darurat berbunyi saling bersahutan.

Dua orang perawat berlari dari lorong menuju ruang perawat. Aku menyusul mereka sampai depan ruang perawat. Belum sempat aku masuk, dua perawat itu sudah keluar lagi dengan kostum pelaut.

“Hei! Apa yang terjadi?” Tanyaku pada perawat.
“Kita sedang melewati badai, Pak.” Jawab salah satu perawat setengah teriak. “Bersiap untuk tenggelam, Pak.” Lanjutnya sambil memberikan aku pelampung kecil berwarna kuning.

Lorong itu semakin terombang-ambing.

“Kalian tidak membangunkan pasien lain?” Tanyaku sangat bingung.
“Pasien apa, Pak? Kita sedang di kapal laut.”
“Ayo, cepat!” Kata perawat satu lagi. “Tak ada waktu lagi.”
Aku berlari mengikuti dua perawat itu. Tapi tak ada orang lain yang ikut berlari keluar kapal. Hanya ada aku dan dua perawat aneh.
“Dimana yang lain?” Tanyaku lagi.
“Mereka sudah meninggalkan anda, Pak.”

Ketika tiba geladak kapal, aku bisa merasakan kencangnya tiupan angin. Suara dua perawat tak bisa kudengar lagi. Angin seolah menelan suara mereka, padahal mereka sudah berteriak-teriak. Air laut datang dan menghantamku dengan keras. Aku terpelanting hingga tercebur ke laut.

Aku tidak bisa bernafas, telingaku pengang. Sayup-sayup terdengar suara perawat wanita:
“Suntik obat dulu ya, Pak.”
“Obat apa itu, Suster?”
“Haloperidol, Pak.”

Bersambung…

NS - 5 NS - 5 Reviewed by Almuh on 19.40.00 Rating: 5

1 komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.