Salah Indikator (Part 1)

Salah Indikator

Semoga ini tidak anda alami ya. Beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun belakangan ini saya sering sekali merasa minder dengan apa yang saya punya. Saya malu dengan apa yang saya punya, malu dengan apa yang saya lakukan.
Kenapa itu terjadi?
Sebetulnya sangat rumit, meski sebetulnya ini karena hal sepele.
Makanya saya menuliskan ini agar saya bisa menganalisa apa masalah saya. Sekalian, siapa tahu ada yang mengalami hal yang sama dengan saya, jadi ini bisa jadi bahan sharing.

Identifikasi kenapa saya selalu minder dan malu:

1. Membuat indikator diri dari orang lain.
Kenapa indikator? Rupanya hal ini yang krusial menjadikan saya malu, minder dan bahkan stres. Saya telah membuat indikator hidup saya dari persepsi orang lain. Saya membuat indikator kebahagiaan saya dari mata orang lain. Bukan apa yang saya rasakan. Walau saya tidak bahagia, walau saya kurang suka, tapi kalau orang lain suka ketika saya melakukan hal itu, maka saya akan melakukannya. Kalau saya tidak melakukan apa yang orang lain suka, kalau saya tidak memiliki hal yang orang lain suka, maka saya akan menggap diri saya gagal, saya akan menganggap diri saya gak bagus karena saya tidak sesuai dengan orang lain. Itu bodoh banget, kan? Tapi itu lah yang saya lakukan selama ini dan baru sekarang-sekarang saya sadar. Terutama setelah saya membaca buku Mark Manson.

Agar lebih mudah memahami, saya akan berikan contoh.

Saya ingin membeli Smartphone. Apa yang saya lakukan pertama kali? Saya tanyakan kepada orang lain (dalam hal ini misalnya teman-teman saya) Smartphone apa yang paling bagus? Lalu mereka akan menjawab dengan berbagai merek yang mereka tahu dan menurut mereka bagus. Sebetulnya, bertanya seperti ini sah-sah saja, tentu ini semacam kita meminta testimoni orang lain yang pernah menggunakan sebuah smartphone. Akan tetapi, kalau kemudian apa yang orang lain sarankan itu menjadi sangat penentu untuk kita membeli suatu smartphone, itu sangat tidak baik untuk diri kita. Kenapa? Tentu karena pengalaman setiap orang berbeda. Boleh jadi, kata teman saya yang satu, smartphone A lebih bagus dan yang B itu buruk, hanya karena teman saya yang satu ini memiliki pengalaman buruk dengan smartphone B. Lalu kata teman saya yang kedua justru kebalikannya. Hal ini tentu saja membuat saya pusing sendiri, karena saya dihadapkan dengan pilihan yang sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan. Bagaimana jika saya membeli smartphone A mengikuti saran teman saya yang satu, lalu ternyata saya malah mengalami apa yang teman kedua saya alami? (Yaitu pengalaman buruk dengan smartphone A? Siapa yang akan saya salahkan? Kasihan sekali.
Lain halnya kalau itu memang keputusan saya yang murni. Saya akan bertanggung jawab apa yang saya pilih. Bukankah selayaknya begitu lah sikap orang dewasa? Merima kekurangan dan kelebihan atau konsekuensi atas apa yang sudah dipilih.

Selain hal itu, tentu saja ada masalah lain, misalnya masalah harga. Belum tentu smartphone A atau B yang harganya masuk bajet teman saya, bisa masuk dibajet saya? Lalu saya akan pusing sendiri mencari uang agar bisa cukup membeli smartphone yang teman saya sarankan. Dan saat saya tidak membeli smartphone A atau B yang menjadi saran teman saya, misalnya saya membeli smartphone C karena harganya masuk ke bajet kantong saya, saya akan merasa malu dan minder. Smartphone saya lebih jelek dari mereka. Kenapa saya bisa berpikir seperti itu? Tentu saja karena saya sudah tahu bahwa standar orang lain (teman saya) itu adalah smartphone A atau B. Dalam otak saya, saya bisa disebut oleh orang-orang punya smartphone bagus, keren, mumpuni kalau beli smartphone A atau B. Itulah yang saya sebut salah indikator. Padahal indikator setiap orang berbeda-beda, lalu kenapa saya risau jika nyatanya smartphone C ini lebih pas dengan saya? Secara fungsional maupun harga belinya. Harusnya ini bukan masalah jika otak saya tidak menyatakan smartphone A atau B adalah sebagai indikator. Tentu saja ini tidak lepas dari persepsi orang. Kalau pun mungkin otak saya tidak mengindikatorkan smartphone A atau B, tapi lingkungan saya akan ikut menghakimi dan mengindikasikan. Di sini jadi ada dua tekanan: internal otak saya, dan eksternal dari otak orang lain. Kalau saya tidak membeli smartphone A atau B, maka tidak ada yang bisa saya banggakan di hadapan teman-teman saya.

Bodoh! Emangnya saya beli smartphone untuk saya atau untuk teman saya? Begitukan logika seharusnya.
Bodohnya lagi, ini hidup saya lho, kenapa juga saya harus mengindikatornya hidup saya dengan indikator orang lain? Padahal belum tentu indikator mereka cocok dengan saya. Dokter saja memberikan resep obat setiap orangnya berbeda-beda disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau kurang dosis, nanti tidak sembuh, tapi kalau over dosis malah bisa mati.

Kalau saya memaksakan membeli smartphone A yang harganya tidak bisa saya jangkau, itu namanya over dosis kan? Over dosis keinginan. Kalau saya tetap paksakan beli, sama saja saya sedang minum obat dengan dosis yang over (tinggi).


Bersambung...
Jangan lupa komentar kalau suka, kita bisa berdiskusi. Budayakan komentar yang baik ya :)

Almuh.
Salah Indikator (Part 1) Salah Indikator (Part 1) Reviewed by Almuh on 21.08.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.