Email Untuk Tuhan



Yaa Allah, Tuhanku,
Dengan segala hormatku dan rasa tundukku.
Aku Almuh, hamba-Mu. Engkau pasti mengenalku jauh lebih dari aku mengenal diriku sendiri.
Sebelum aku memulai semua ceritaku kepada-Mu, Aku ingin meminta maaf terlebih dahulu. Tapi aku bingung kalau harus menuliskan semuanya, mungkin email ini tak akan cukup. Kalau pun lembarannya bisa menampung tulisan uraian kesalahanku, pasti server Google tak akan mampu menampungnya.

Kesalahan terbesarku, yang kuharap Engkau maafkan adalah ketidakmampuanku untuk bersyukur atas semua nikmat yang Engkau berikan kepadaku. Padahal jika aku hitung nikmat yang Engkau berikan kepadaku, rasa-rasanya tak akan cukup lembaran sepanjang alam semesta ini. Oh, Tuhanku, semoga Engkau sudi memaafkan aku yang masih belajar hidup dengan baik ini.

Sungguh aku sadar, ketidakbersyukuranku ini juga begitu menyiksa diriku sendiri. Menjadi penyakit hati yang terus menggerogoti kesehatan jiwaku. Membuatku semakin banyak mengeluh, banyak iri terhadap apa yang Engkau berikan kepada orang lain tapi aku tidak Engkau berikan. Seakan-akan "harusnya aku juga diberikan hal itu oleh Mu". Seakan-akan aku kesal karena Engkau terkesan tidak adil. Aduhh... Padahal hati kecilku itu sadar bahwa Engkau maha mengetahui, Engkau memberikan sesuatu kepada hamba Mu itu berdasarkan kelayakannya. Meski banyak juga Engkau memberikan kenikmatan luar biasa sebagai bentuk sungkunan (memberikan sesuatu kepada orang secara berlebih karena kesal atau ujian). Oh, tidak, tidak, Tuhanku. Aku begini saja sudah cukup, dari pada aku kaya raya, punya segalanya tapi ternyata itu bukan Engkau berikan karena ridho Mu, tapi karena "rasa kesal Mu".

Ya Allah, aku ingin sekali bisa berbicara dengan Mu. Aku ingin bertanya apa yang harus ku lakukan, jalan apa yang harus aku pilih. Karena Engkau lah yang Maha Penguasa masa depan dan masa lalu. Tapi sayangnya aku ini bukan nabi, aku juga bukan sahabat nabi, bukan juga wali, juga bukan ulama, bukan juga solihin, aku ini hanya hamba biasa kelas pendosa. Tapi kepada siapa lagi aku mengadu dan bertanya, kecuali kepada Engkau. Meski pun aku berlumur dosa, tapi hatiku tetap mencintai Mu dan tak akan berpaling dari Mu sembari terus berharap bisa menjadi orang baik melalui pertolongan Mu.

Lalu kenapa aku bertanya lewat email ini di aku publikasikan?

Entahlah, Tuhan. Aku bingung harus menemui Mu dimana. Dalam solatku, isinya dunia semua, dalam dzikirku isinya duniawi semua, semua ibadah yang ku lakukan tak ada yang bisa membuatku "bertemu" dengan Mu. Batinku selalu beralihkan pada dunia. Anehnya, ketika aku menulis ini, justru aku bisa berfokus kapada Engkau, bahkan aku menitikan air mata.

Aku percaya bahwa Engkau adalah maha pemaaf, mudah sekali bagi Mu memaafkan kesalahanku. Tapi aku juga tahu, Engkau punya peraturan dalam "permainan dunia" ini. Engkau sampaikan peraturan itu melalui rasulmu. Dan aku menerimanya. Tapi akunya yang bodoh, Ya Allah. Tidak bisa mengikuti peraturan itu dengan baik dan benar. Tak habis pikir jika Engkau mengusirku dari dunia ini. Aku mau kemana? Atau Engkau membinasakan aku itu lebih baik, tapi peraturan sudah jadi peraturan; tak ada manusia yang binasa, yang ada adalah kami akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah kami perbuat selama dalam "permainan dunia" ini.

Tuhan, sisi manusiawiku tiba, aku mengantuk. Sungguh aku akan menyambung email ini lagi. Aku pamit untuk tidur dulu.
Kalau aku boleh menitipkan salam kepada Mu untuk idolaku tercinta; baginda nabi Muhammad SAW. Allahumma sholli 'ala sayyidinaa Muhammad.



Email Untuk Tuhan Email Untuk Tuhan Reviewed by Al Muh on 23.08.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.