Kisah Pribadi Nyata Keajaiban Istikhoroh




Setelah ayahku meninggal, kehidupan berubah. Aku harus terbiasa menjadi seorang tulang punggung keluarga. Aku anak pertama dan laki-laki, baru saja lulus kuliah, siap tak siap, aku sudah didaulat jadi PIC dikeluagaku.

Setelah beberapa tahun kami hidup tanpa seorang ayah, sebuah kabar dari ibu, bahwa ada seorang bapak-bapak ingin mempersuntingnya.

Sekilas aku sudah mengenal bapak itu, dia sahabat ayahku. Tapi secara lebih dalam aku belum mengenal beliau. Aku bingung harus bagaimana, aku harus menjawab apa, aku harus bersikap seperti apa. Harusnya aku menghadapi lamaran seorang lelaki itu ketika aku sudah menjadi seorang ayah dari seorang anak perempuan. Tapi kondisiku sekarang, aku harus menghadapi lamaran seorang laki-laki untuk ibuku. Sungguh sebuah decision yang sangat berat bagiku. Karena kebaikan atau keburukan yang akan di dapat keluarga adalah hasil keputusanku dari lamaran ini.

Selama beberapa hari sebelum kedatangan bapak itu melamar, aku salat istikhoroh. Sesering yang aku bisa. Aku berdoa, kalau memang bapak ini baik untuk ibuku dan keluarga, maka pilihkanlah dan mudahkanlah. Tapi kalau bapak ini tidak baik, maka pisahkanlah dengan cara yang halus. Agar tak ada kebencian diantara kami.

Hari itu pun tiba. Aku sudah bersiap menyambut di rumah. Sengaja aku cuti dari kantor untuk keperluan ini. Ibu sudah memberikan arahan, bahwa semua keputusan ada di tanganku. Kalau aku setuju, silakan diterima. Kalau tidak, jangan dipaksakan. “Tapi kita butuh kepala keluarga baru, ibu tak mungkin menggantungkan hidup dari anak ibu. Apa lagi kamu juga harus menabung, karena pasti suatu hari, kamu juga ingin menikah.” Kata ibuku.

Pria itu datang dengan sepeda motor, tak seperti biasanya beliau selalu membawa mobil. Aku mempersilakannya masuk. Beliau mengenakan kemeja putih, rapi selayaknya seorang pria yang ingin melamar. Dia terlihat berwibawa dengan wajahnya yang tak lagi muda.

Sesaat pikiranku melayang teringat kembali kepada ayahku. Apa yang harus aku lakukan, kalau ada ayah mungkin aku bisa bertanya, keputusan apa yang harus aku ambil. Tapi sayangnya ayah tak ada, dan orang ini mencoba menggantikan posisi dan peran ayahku.
Aku bingung, sangat bingung. Hanya harapan dari doa istikhorohku bisa dikabulkan oleh Allah yang Maha Mengetahui. Aku tidak tahu pria ini betul-betul berniat baik, atau hanya sekedar mencari wanita baru, terlebih aku tahu, beliau masih beristri dan memiliki tiga anak.

Aku dan beliau duduk berdua di ruang tamu. Beliau merapat, duduk mendekat denganku, sampai benar-benar tak ada jarak lagi di antara kami.
“Kamu pasti sudah tahu, tujuan saya datang ke sini kan ya, Dek?” Katanya membuka pembicaraan. Setidaknya itu telah memecah keheningan diantara aku dan beliau.

“Iya, Pak.” Jawabku singkat, karena aku masih gerogi.
“Saya sudah membawa uang, sebagai tanda bawa saya ingin melamar ibu kamu.” Tambahnya.
Tapi tiba-tiba beliau menangis. Dan tentu saja membuat aku bingung. Apa benar lamaran itu harus ada adegan menangis seperti ini.
Sambil terisak beliau melanjutkan biacara. “Sebetulnya saya sudah benar-benar siap melamar ibu kamu. Saya sudah siap untuk menjadi bapak bagi kamu dan adik-adik kamu. Begitu siap, sampai-sampai saya sudah berpikir bahwa ibu kamu adalah jodoh saya.”

Aku hanya mengangguk.

“Tapi dalam perjalan menuju ke sini,” lanjutnya lagi, “hati saya merasa gundah, tidak tenang. Saya teringat kepada almarhum ayah kamu, yang tidak lain adalah sahabat saya. Saya juga teringat kepada anak dan istri saya di rumah. Hati saya kacau sepanjang perjalanan. Benar-benar kacau.”

Aku hanya terdiam menyimak beliau. Aku belum tahu harus merespon seperti apa.
Dia diam beberapa saat.

“Saya akan mengurungkan niat saya melamar ibu kamu.” Katanya lirih.

Mendengar itu aku terkejut. “Kenapa, Pak?” Tanyaku sebagai kalimat respon pertama.

“Saya juga tidak tahu, kenapa saya bisa tiba-tiba berubah pikiran.” Jawab beliau. “Ibu kamu orang baik, siapa pun pasti ingin memperistrinya, tapi entah kenapa, saya merasa bersalah kepada almarhum ayah kamu kalau saya melamar ibu kamu. Meski pun niat saya baik, agar saya bisa leluasa membantu ibu kamu dan anak-anaknya.”

Aku kembali terdiam. Hatiku langsung teringat kepada istikhorohku. Apa mungkin ini hasil dari istikhorohku, sebuah jalan agar aku tidak perlu melakukan penolakan kepada bapak ini, karena Allah yang sudah menolakkannya untukku. Sehingga bapak ini tidak akan membenciku dan keluarga. Masyaa Allah.

“Saya rasa itu yang harus saya sampaikan.” Katanya terlihat lebih lega. “Tapi saya tidak ingin membuat ibu kamu kecewa. Saya tak ingin disebut pemberi harapan palsu. Jadi saya minta sama kamu, bilang kepada ibu kamu bahwa kamu yang menolak saya, jangan bilang bahwa saya yang mundur.”

“Insyaa Allah, Pak.”

Beliau pamit pulang, dan hari pun segera berlalu.

Aku tak ingin berbohong kepada ibuku. Aku katakan apa adanya, sebagaimana pembiacaraan aku dengan bapak itu. Ibuku terhenyak, tapi alhamdulillah bisa menerima itu. Aku berbicara dengan ibu, bahwa ini adalah sebuah keajaiban istikhoroh. Sebuah jalan terbaik yang Dia pilihkan untuk hamba-Nya. Karena hanya Dia lah yang mengetahui segala hal yang telah berlalu dan yang akan datang.


~Almuh.
Kisah Pribadi Nyata Keajaiban Istikhoroh Kisah Pribadi Nyata Keajaiban Istikhoroh Reviewed by Al Muh on 12.39.00 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.